Catatan Harian Sintang (1)

Selasa, 26 Juni 2012

Suara pagi yang tak biasa membangunkanku. Kubuka mata: ah, hari ini momentum pergantian tahunku. Aku baru ingat, lewat tengah malam aku sempat terjaga. Membaca beberapa ucapan selamat dan doa dari beberapa kawan, lalu mengucap selarik doa, sebelum kemudian kembali terlelap. Perjalanan sebelumnya sangat melelahkan. Meninggalkan Cikini jam setengah lima pagi menuju Gambir. Malas terlalu lama menunggu, akhirnya menggunakan taxi bersama calon penumpang lain yang kebetulan sedang buru-buru. Inilah salah satu kebiasaanku –kalau istilah kawanku kebiasaan yang membahayakan :D, melakukan perjalanan dengan orang tak dikenal. Tapi kurasa tak ada salahnya. Toh dia juga sedang mengejar pesawat, tak mungkin berlaku macam-macam 🙂

Dan memang itulah yang terjadi. Perjalanan berlangsung lancar dan aman bersama orang tak kukenal yang kemudian kuketahui adalah salah satu dosen Universitas Sebelas Maret Solo yang sedang diperbantukan di Dirjen Dikti.  Bapak dosen turun lebih dulu, pesawat Garuda tujuan Solo. Sedangkan aku musti berputar lagi ke terminal 1. Masih sangat pagi. Tapi kesibukan bandara sudah luar biasa. Riuh dan macet. Barangkali sudah mulai perlu dipertanyakan kelayakan bandara ini sebagai bandara internasional di ibukota negara.

Rupanya sekretaris kantor tempatku kerja (KKP-PMP KWI), Pst. Koko sudah di tempat. Menyusul kemudian Bang Tigor Nainggolan, pengacara yang banyak membantu kami dari tinjauan hukum. Bertiga kami bersiap menunggu penerbangan jam 06.50. Perjalanan inipun lancar. Tiba di Bandara Supadio tepat sesuai jadwal. Lalu kami melanjutkan perjalanan darat yang cukup melelahkan, dari Pontianak menuju Sintang. Di kota tujuan ini kami akan bertahan hingga Jumat. Jalanan lurus tak berliku tapi bergelombang. Sopir yang tak terlatih bisa menerbangkanmu dari tempat duduk. Inilah jalan lintas Kalimantan, pulau yang terkenal dengan sumber dayanya. Dikuras habis tanah dan hutannya, tapi lihatlah..potongan jalan beraspal bagus barangkali hanya setengahnya. Sepanjang jalan sejauh mata memandang sawit memenuhi lahan. Nyaris tak ada lagi hutan kayu. Pohon pisang dan perdu yang memagari sebagian ruas jalan diselimuti debu menggumpal. Menyerupai pepohonan yang terimbas debu vulkanik, seperti yang pernah kulihat saat letusan Kelud (1989) menerbangkan debunya hingga ke kampung halamanku .

Sempat singgah di sebuah tempat makan. Di tepi Kapuas yang sedang berkurang debit airnya.

Bang Tigor dan Rm Koko. Makan sore di tepi Kapuas.

ngintip Kapuas dari balik pagar 🙂

Pompa air. Kapuas sebagai sumber.

Jam 7 malam tepat kami tiba di lokasi: Wisata Rohani Bukit Kelam, Sintang. Lokasi persisnya 18 km dari Kota Sintang. Waktu tempuh kali ini sekira 2 jam lebih cepat dari pengalamanku 5 tahun lalu. Rupanya memang ada jalur lintas yang memotong jarak Pontianak-Sintang ini. Tapi tetap saja, empat belas setengah jam di jalan bukan waktu yang singkat.

Maka begitulah. Setelah membereskan segala sesuatunya, perkenalan, dan pembukaan, aku langsung tersungkur kelelahan.

***

Suara pagi yang tak biasa membangunkanku. Kubuka tirai jendela. Aku terpekik kegirangan: heiii..hellooooo.. Diluar agak jauh, tampak binatang bertanduk cabang bersama pasangannya sedang bermalas-malas di kandangnya. Yup, rusa! Berada di tengah alam selalu memberiku energi ekstra dan ekstase yang menyenangkan. Kubayangkan akan kujumpai banyak binatang dan tumbuhan yang menarik di tempat ini. Tapi hasrat pribadi musti disingkirkan dulu, bersiap dalam beberapa menit untuk pelatihan hari pertama.

Ada 40 peserta (kemudian bertambah menjadi 45) yang hadir dalam pelatihan ini, pelatihan paralegal untuk penggiat advokasi di Keuskupan Sintang. Tujuannya untuk menjadi pendamping masyarakat yang memiliki kasus-kasus hukum. Keuskupan Sintang meliputi 3 kabupaten yakni Sintang, Melawi, dan Kapuas Hulu. Di masing-masing wilayah ini bermunculan kasus hukum, sebagian besarnya kasus perkebunan sawit.

Peserta pelatihan paralegal Keuskupan Sintang

Apakah sawit salah? Secara azasi, tanaman ini pun punya hak hidup, terlebih lagi dengan manfaat yang dimilikinya. Namun tak beda dengan banyak subjek lain yang menawarkan nilai serupa pisau bermata dua, manfaat sekaligus mudharat. Maka membuat pertimbangan yang bijak pastinya sangat dibutuhkan dalam menangani kasus sawit. Siapa yang membuat kebijakan? Tak lain dan tak bukan adalah pemerintah. Yang terjadi sekarang seolah tanpa pertimbangan keberlangsungan alam. Nyaris semua kawasan tertutupi sawit. Pun wilayah yang mustinya menjadi kawasan konservasi. Alhasil sungai kering, kebutuhan air bersih penduduk tak tercukupi, binatang air berkurang, binatang-binatang hutan terusir dari habitatnya. Persoalan sosial juga tak kalah peliknya. Banyak perusahaan sawit yang akhirnya menyalahi kesepakatan dengan warga. Kesepakatan merugikan warga. Akhirnya warga kehilangan tanahnya karena tergiur tawaran keuntungan membuka perkebunan sawit. Warga pun lalu menjadi buruh di tanahnya sendiri. Kesejahteraan yang dijanjikan hanya wacana. Lalu pada titik tertentu akhirnya warga berontak. Sesungguhnya mereka hanya menuntut haknya. Hak masyarakat adat yang terabaikan.

Nyaris semuanya. Nyaris semua peserta yang datang memaparkan kasus sawit di wilayahnya. Sebagian besar persoalan adalah perusahaan yang tidak memenuhi kesepakatan awal. Selain itu juga embrio kasus-kasus baru yang coba dihentikan kelahirannya sehingga tidak makin menumpuk kasus yang sudah ada.

Pelatihan paralegal bukan mengajak orang untuk melawan. Pelatihan ini dimaksudkan untuk membekali para penggiat advokasi di masing-masing wilayah di Keuskupan Sintang dengan pengetahuan soal instrumen hukum yang dibutuhkan. Setidaknya 3 instrumen hukum dibahas: UU Lingkungan Hidup, UU HAM, dan UU Pertambangan. Simulasi kasus digelar untuk memberikan gambaran penggunaan instrumen-instrumen hukum tersebut. Semuanya jelas diatur. Penyimpangan-penyimpangan yang terjadi di lapangan dapat disandingkan dengan pasal-pasal yang sudah mengatur dengan jelas. Bertentangan? Mungkin mengikut Wiji Thukul: “hanya satu kata: lawan!”. Ini kataku 😀 Tapi yang jelas upaya menentang kebijakan yang tidak pro rakyat adalah berdasarkan aturan dan bukan asal nguap. Advokasi berbasis data. Dan masyarakat yang hadir sebagai peserta di sini diajak untuk menelanjangi aturan-aturan itu satu demi satu.

Begitulah hari ini akhirnya berlalu. Senang mendapati para peserta yang antusias. “Tidak ada istilah ‘saya hanya petani’ atau ‘saya hanya guru’. Petani atau guru atau siapapun perlu sadar akan haknya sebagai warga negara.” Begitu kata Bang Tigor menyemangati beberapa peserta yang tampak agak gagap mengikuti alur pelatihan. Ketika peserta masih melanjutkan diskusi hingga larut, aku memilih untuk kembali ke kamarku yang cukup jauh dari aula. Angin Bukit Kelam mengganggu keseimbangan tubuhku. Kurasa aku agak limbung.

Tapi ternyata kantuk tak kunjung menghampiriku. Diluar angin sangat kencang. Kupaksa diriku untuk keluar, menatapi Bukit Kelam dalam gelap samar. Kutulis di wall fbku: “Angin bertingkah serupa hujan.. gemericik, gemuruh, riuh. Alam punya kuasa, tanpa bisa kuhujat: kok bisa? Dan Bukit Kelam masih berdiri di depanku. Serupa bayangan. Perkasa menutupi ratusan bintang sang sumber cahaya di baliknya. Inilah semesta raya, yang dalam syukur selalu membuatku terpana.”

Bahkan membuka fesbuk pun sulit bukan kepalang. Koneksi tersambung, lantas terputus. Begitulah.. Tapi tak mengurangi takjubku menatapi Bukit Kelam. Siang tadi kudengar cerita tentang Beji yang digoda tujuh peri. Si makhluk raksasa itu hendak membendung kawasan itu agar memudahkannya mendapatkan ikan. Sebuah batu besar digendongnya. Namun tak tertahankan godaan para peri, terlepaslah si batu dari panggulannya. Menancap ke bumi menatap langit. Kemudian hari orang menyebutnya Bukit Kelam. Kemanakah Beji? Siapa sesungguhnya Beji, punya keluargakah dia? Seberapa tinggi raksasa ini kalau batu yang dipanggulnya sebesar Bukit Kelam? Tak ada yang bisa menjawab. Entah memang hanya sepotong itu saja cerita rakyat tentang Beji dan Bukit Kelam, ataukah serupa dengan yang banyak terjadi di negeri ini: tak ada tradisi menulis. Apalagi untuk cerita rakyat yang memang tak bisa dibuktikan kebenarannya. Tapi baiklah, anggap saja hiburan di antara ketegangan suasana pelatihan 🙂

Gedung para suster pengelola, tempat aku menginap.

Bukit Kelam, Sintang. Pagi hari.

Mari kembali ke kamar saja. Mensyukuri hari yang tersisa. Hari khusus mengenang tentang keber-ada-anku di bumi ini. Thanks to You, My Sweet Lord!

Ah, tapi kenapa pula musti bidadari ya? Kenapa perempuan seringkali diposisikan sebagai penggoda. Apakah sesungguhnya dia jadi pokok cerita, atau pelengkap penderita saja? Hmm, sudahlah.. mari kita tidur. Zzzzzzzzzz……………

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s