Catatan Harian Sintang (2)

Rabu, 27 Juni 2012

“Selamat pagi, rusa-rusa…” Kusapa sepasang rusa di balik jendela. Mata keduanya menatapku menyelidik. Mungkin ini pagi yang janggal buat mereka. Ada manusia mengajaknya bicara! 🙂


Pagi ini aku musti bergegas, ingin ikut misa..jadi tak boleh terlambat. Kemarin sedikit terlambat lalu secara kebetulan ada peserta yang baru datang. Berhubung panitia tidak di tempat jadilah aku berbincang dengan bapak yang berprofesi sebagai guru tersebut. Ia tinggal di salah satu kecamatan di Kabupaten Kapuas Hulu. Tujuh hingga delapan jam perjalanan menggunakan sepeda motor!

Untunglah belum telat. Pastor Gabriel dari Paroki Nanga Pinoh memimpin misa.


Wisata Rohani Bukit Kelam ini diresmikan pada 3 Mei 2008 oleh Gubernur Kalimantan Barat, Cornelis MH dan diberkati oleh Duta Besar Vatican untuk Indonesia, Mgr. Leopoldo. Komplek wisata rohani ini terdiri dari aula dengan kapel persis di sebelahnya. Dibatasi sekat yang bisa dibuka. Kubayangkan pada acara tertentu, misa dengan umat yang lebih besar, sekat itu akan dibuka. Ini perkiraanku saja karena belum sempat konfirmasi.

Di samping sebelah kiri kapel terdapat ruang makan besar. Sedangkan di bagian kanan terdiri dari 4 bangunan. Tiga bangunan berisi  31 kamar dengan perincian 10-10-11 untuk masing-masing gedung. Sedang gedung yang tersisa berisi dua kamar, khusus untuk para pembimbing. Belum rapi betul. Masih terlihat tumpukan bahan bangunan, beberapa tukang tampak wara-wiri membetulkan ini dan itu.


Pada bagian depan aula tampak berdiri patung, bertuliskan “Temenggung Tukung” bersama seekor meong..eh salah, macan!


Temenggung adalah seorang pemimpin adat. Dan Tukung adalah temenggung yang dikenal karena keberaniannya. Konon berbeda dengan (kebanyakan) temenggung yang ada sekarang. “Temenggung, pemimpin adat sekarang sudah bisa disuap.” Itu salah satu pernyataan peserta. Bahkan pemimpin adatpun lupa terhadap keberlangsungan hidup adat budayanya. Menyitir lagunya Ian Antono dalam lengkingan suara Nicky Astria: ‘uang..lagi-lagi uang!’ 😀

Yup, banyak kasus yang mengemuka lagi di hari ini tentang keberpihakan pemerintah terhadap pengusaha. Bukan hanya pemerintah, baik pusat maupun daerah, tapi juga ‘pemerintah adat’ yang salah satunya diwakili oleh temenggung. Bahkan yang terjadi, para temenggung sedang mengupayakan mendapat semacam gaji dan tunjangan dari pemerintah untuk tugas adat mereka. Kulihat ini juga menjadi dilema tersendiri buat masyarakat. Adalah hak untuk memperoleh pendapatannya. Namun muncul kekhawatiran jika para temenggung sudah digaji pemerintah, keberpihakan mereka terhadap masyarakat adat akan semakin lemah. Maka tampaknya serbuan para pengusaha serakah pun tak terhindarkan. Ugh! Dan bukan hanya penguasa, tapi juga media (dan konon juga banyak tokoh agama).

Hari ini aku membawakan materi tentang Penulisan Feature. Ini materi tambahan di luar materi utama tentang pemahaman hukum. Pertimbangannya: ada cukup banyak kasus yang didampingi para penggiat advokasi ini. Selain membuat catatan lengkap sebagai bagian dari advocacy base on data, mengapa tidak dipublikasikan pula menjadi sebuah karya jurnalistik? Tapi inilah respon mereka: “Media di sini tidak ada yang bisa diandalkan, Mbak. Semua bisa dibeli. Semua dibayar sama pengusaha.”

Hmmm… Akhirnya sebelum membahas tentang Penulisan Feature, kulempar sedikit bahasan tentang Advokasi Media. Pentingnya menjalin kerjasama dengan media untuk mempercepat sampai ke tujuan, baik untuk mendukung maupun melakukan perubahan kebijakan publik. Lantas, kalau perangkat media sudah bisa ‘dibeli’ apa kita masih perlu melibatkan media? Kukatakan: kita boleh menilai media ini sifatnya abu-abu, tidak jelas..tapi jangan pernah posisikan mereka sebagai lawan. Karena bagaimanapun media tetap dibutuhkan. Mengenai mereka tidak mau memuat kasus yang dialami warga, tak jadi soal. Kita akan terus perbaiki kemampuan menulis kita. Kita akan terus kirimi mereka rilis, fact sheet, maupun mengundang mereka dalam konferensi pers. Tak dimuat juga? Tak masalah. Kembali ke bahasan semula: mari kita buat karya jurnalistik yang baik lantas publikasikan lewat media online yang banyak bertebaran di internet. Tinggal pilih yang tepat. Semakin banyak yang bersuara, semakin banyak didengar. Semakin banyak yang mendengar, semakin besar kemungkinan orang lebih peduli. Semakin besar kepedulian orang, makin besar pula dukungan. Semakin besar dukungan, semakin bertambah kemungkinan adanya perubahan kebijakan. Secara tidak langsung ini akan menjadi sarana advokasi.

(Apakah aku seoptimis itu? Sesungguhnya tidak :()

Beberapa hal dasar tentang Penulisan Feature, contoh-contoh, dan teknik dasar menulis coba kusampaikan. Sebagian besar peserta awam dalam penulisan. Tak jadi soal pula. Setidaknya ini akan jadi wacana yang bisa berkembang, lalu menjadi aksi nyata. Semoga…

Saat jeda ngopi sore, seorang peserta menghampiriku. Seorang pastor ternyata. Masih muda. Baru setahun sang pastor bertugas di Paroki Ambalau. Pastor yang ternyata suka menulis ini bercerita. Ambalau merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Kapuas Hulu. Wilayah ini awalnya adalah pemasok kayu. Warga tak kenal tanaman lain. Lalu muncullah sawit. Perusahaan kurasa cukup ‘pintar’ membaca potensi. Masuklah mereka lewat pendekatan budaya (populer). Persisnya budaya konsumtif yang menyelinap diantara tayangan-tayangan televisi. Seratus sepeda motor didatangkan. Maka Ambalau yang tenang itupun lantas riuh oleh suara kendaraan roda dua tersebut.  Pembeliannya mudah: tukar dengan tanah untuk kebun sawit! Sejauh yang diketahui, sebanyak 4 dari 14 desa di kecamatan tersebut sudah menyetujui diubahnya kebun mereka menjadi sawit dengan segala iming-imingnya yang menggiurkan. Sebagian ada yang menolak. Lalu pertengkaran antar anggota keluarga pun tak terelakkan. Sedangkan sumber air sudah berubah warna. Kawasan hulu sungai Kapuas inipun sudah terancam kehilangan sumber air bersih.

Huaaaaahhh…rasanya ingin menjadi Beji lalu me-reka ulang RUTR dengan caraku! Lihatlah peta deforestasi hutan Kalimantan, yang telah terjadi dan prediksinya (sumber peta: google).


***

Siang tadi sempet menengok Gua Maria. Lokasi tak jauh dari aula. Jalannya menyelinap di antara rumpun bambu. Pada beberapa titik terpasang patung-patung kisah sengsara Yesus yang menjadi pemberhentian jalan salib. Patung Bunda Maria mungil berada di dalam gua. Sedangkan bangku dari beton berjajar di depan gua. Pada sisi kanan terdapat kolam yang juga menjadi sumber air wilayah tersebut.

Sempat menyimak cerita tentang warga perbatasan yang seperti anak ayam kehilangan induk. Cerita datang dari frater muda yang baru 4 bulan bertugas di perbatasan. Persisnya di Paroki Badau yang terdiri dari dua kecamatan. Hanya ada satu SMP dan SMA di dua kecamatan tersebut. Dengan luas wilayahnya, akhirnya tak banyak anak yang mendapatkan pendidikan yang layak. Listrik mereka mendapatkan dari Malaysia. BBM mereka beli dari Malaysia. Bahkan uang persembahan di gereja pun sebagian besarnya menggunakan ringgit.

Kutulis di wall fbku: “Mereka mendapatkan minyak dari Malaysia. Listrik dari Malaysia tak pernah mati. Aneka kebutuhan tercukupi negara di balik perbatasan itu. Sementara negara sendiri tak menyediakan sarana pendidikan. Negara tak memperbaiki jalan. Negara tak mensejahterakan. Apakah masih layak mewacanakan nasionalisme?”

Entah apa makna Indonesia buat mereka. Tapi tanya itu sekaligus bisa kita tujukan untuk kita sendiri, atau untukku sendiri yang jelas: Apa yang sudah kulakukan untuk negeri ini? Apa yang sudah kulakukan untuk semesta; untuk sesama dan semua makhluk di dalamnya?

Tiba-tiba aku merasa sangat lelah. Tapi malam ini peserta bertahan. Sepakat membuat rumusan untuk aksi bersama. Baiklah akupun akan bertahan… *kurasa angin kelam benar-benar memusuhiku :(*

***

Ibu Meooooong…lupa po kalo lg pake dress?! Ibu Meong yg aneh emang 😀

Iklan

3 pemikiran pada “Catatan Harian Sintang (2)

  1. maaf mbak mungkin ada kesalahan nama tempat yang postingkan
    yaitu ambalau adalah kecamatan yang berada di kabupaten sintang
    dan terletak disungai melawi dan kabupaten kapuas hilir setahu saya tidak ada mungkin kapuas hulu
    sukses ya mbak karya tulisnya sangat bgus
    Tuhan Yesus memberkati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s