Catatan Harian Sintang (3)

28 Juni 2012

Jelang dini hari. Bukankah kini pertandingan Italy-Spanyol? Tapi deras hujan terdengar bertalu memukul pepohonan dan atap bangunan. Dan aku tertidur lagi.

Lalu jam biologis mengetukku: knock knock…05.30. Masih hujan. Berselimut aku bersenandung:

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

(Hujan Bulan Juni-1989, Sapardi Djoko Damono)

Gumam lirih puisi Sapardi selalu menggelitik. Puisi kamar yang tak mewah, tapi sarat makna.

Hari ini rencana akan berkunjung ke salah satu umat yang kebetulan pemilik kebun karet. Ia tak menginginkan sawit. Ia masih bertahan dengan karet. Kemarin sempat berbincang dengan beberapa peserta, sebetulnya jika disandingkan, dengan luas lahan yang sama keuntungan sawit dan karet sama besarnya. Tapi iming-iming sawit lebih gencar, di lain pihak harga karet di pasaran relatif fluktuatif dibandingkan sawit. Sehingga banyak warga yang tergiur dengan keuntungan sawit. Sementara itu sebagian warga lainnya tengah berjuang kembali mendapatkan haknya, hak yang terampas oleh perjanjian dengan pengusaha yang tak tertepati.

Perjalananku batal. Aku mengalami serangan lambung yang luar biasa dibarengi dengan sakit kepala amat sangat. Duniaku berputar. Sempoyongan dalam pening, kulihat lagi Bukit Kelam. Kurasa aku tak kembali ke tempat ini.


Bukit Kelam ini merupakan gundukan batu monolith dalam ukuran raksasa. Kalau googling, akan kita temukan cukup banyak bukit batu di setiap benua. Sayangnya Bukit Kelam belum tercatat. Padahal konon ukurannya terbilang besar (belum kutemukan perbandingan ukuran masing-masing bukit batu ini).

Aku sempat memaksakan diri untuk berangkat sebelumnya akhirnya menyerah. Asam lambung tinggi dan tensi turun. 85/55. Begitu kata dokter yang memeriksaku begitu tiba di Sintang. Hmm…baiklah. Tampaknya ini kesempatan untuk mengunjungi rumah adikku dan istrinya.

Dia adik bungsuku. Meninggalkan Jawa pada 2005. Menemukan pasangannya di tanah Dayak. Tak lama kemudian mereka menikah. Itulah kali pertama aku mengenal Sintang, 2007. Mereka tinggal di sebuah rumah yang nyaman. Dengan dua anjing kecil: Louis dan Bi’i.

Binatang selalu menarik perhatianku. Begitupun Louis dan Bi’i. Pertama kulihat fotonya mereka tampak sepantaran. Yang ada di depanku, Louis tampak lebih besar dibandingkan Bi’i. Konon si jantan memang selalu makan lebih banyak. Dua hari bersama mereka. Dan sedih ketika akhirnya harus berpamitan. Baik-baik ya, Louis n Bi’i…


Sempat berkunjung ke Kobus, semacam gallery yang menjual dan memamerkan produk kerajinan masyarakat Dayak. Sayang aku tak bawa kamera. Padahal Rumah Betang-nya layak potret 😦 Apa ini artinya lain waktu musti kembali? Semoga 🙂

***

Setidaknya aku masih bisa memotret scraf tenun Dayak oleh-oleh adik iparku 🙂

Iklan

5 pemikiran pada “Catatan Harian Sintang (3)

  1. Bukit kelam, suatu hari di tahun 2004, saya ganti knalpot dua kali di dekat sini… jalan menuju putusibau adalah salah satu yang paling ajaib

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s