Many Rivers To Cross

Sekitar dua bulan lalu seorang kawan menghubungi: temen-temen Trenggalek mau bikin buku ‘perjalanan’. Kukatakan kalau aku tak cukup hafal Trenggalek. Selagi tinggal di sana aku memang tak cukup punya kesempatan untuk menggauli kota kelahiranku. Gapapalah, nyinggung-nyinggung dikit aja. Begitu kata sang kawan.

Baiklah, coba kutulis saja cerita yang pernah lewat. Rekonstruksi masa lalu 🙂 Lalu jadilah catatan Bis Malam Pertama. Lebih ke curhat daripada laporan perjalanan. Mungkin Dhenok memang tipikal penulis curhat hahaha…

Kemudian datang permintaan berikutnya: tulis satu lagi dong! Walah..satu aja merasa tidak layak disebut catatan perjalanan, kok diminta lagi. Baiklah. Kucoba tulis lagi. Jadinya seperti ini.

***

Many Rivers To Cross (Antara Perjalanan dan Perjuangan)

Juli 2012. Shelter Trans Jakarta Harmoni.

Antrian mengular dari jalur masuk hingga ruang tunggu untuk masing-masing jurusan. Shelter Harmoni merupakan salah satu shelter busway besar di Jakarta Pusat, tempat para penumpang berpindah jurusan. Sibuk nyaris tiap jam. Berada di antrian selama setengah jam dapat dikatakan sebagai keberuntungan. Calon penumpang antri dalam 3 hingga 4 lajur. Setiap wajah memancarkan keletihan. Mungkin ada gembira dan sedih di baliknya. Tapi yang tampak hanyalah peluh, letih, dan hasrat untuk segera tiba di tujuan. Tak heran begitu bis Trans Jakarta tiba, antrian akan segera merangsek maju. Kadang terdengar seruan ‘awas kaki’ atau ‘jangan dorong oiii’ atau ‘sabar dong’ atau ungkapan-ungkapan kekesalan lainnya. Sesekali terdengar pula petugas yang berteriak marah pada calon penumpang yang semaunya lintas antrian. Sekedar itu. Selebihnya hanyalah saling memahfumi bahwa semua orang ingin bergegas, tiba di tujuan, dan mentas dari riuhnya perjalanan kota. Saling memahfumi: “ini perjuanganku, mari tak saling ganggu”.

Sebuah lagu melintas di benakku.

Many rivers to cross

But just where to begin I’m playing for time

There have been times I find myself

Thinking of committing some dreadful crime

Jimmy Cliff menulis lagu ini pada akhir 60-an. Bertahun-tahun ia mengalami masa sulit saat melakukan tur di Eropa. Ia ingat menyeberangi Selat Inggris ke Dover dalam suasana hati yang sedih, bertanya-tanya apa lagi yang harus ia lakukan untuk mendapatkan penerimaan.

Bisku datang. Jurusan Blok M. Tantangan berikutnya, berdiri bersama penumpang lainnya. Kucari sudut nyaman, sekedar sedikit terbebas dari guncangan. Pada satu persimpangan, sebuah mobil box merapat di sisi kiri. Aneka sayuran menggunung di mobil bernomor polisi D tersebut. Entah mobil Bandung yang sudah menjadi angkutan di Jakarta atau sayur-sayuran itu dikirim langsung dari Bandung. Mengingatkanku pada mobil sayur yang lainnya.

*

Juli 1997. Angkutan umum Trenggalek-Panggul.

Kurasa rambutnya tersisir rapi saat ia meninggalkan rumah. Bergelung ke atas dengan ikatan yang kuat. Tapi angin menerbangkan anak-anak rambut dan sebagian rambut tipisnya. Wajahnya tanpa ekspresi. Entah apa yang ada di benak perempuan itu. Menikmati perjalanan atau sekedar menjalaninya sebagai bagian dari perjuangan hidup. Perempuan di sebelahnya sedikit berbeda. Dengan dandanan mirip tapi wajahnya lebih banyak dihiasi tawa. Di antara guncangan laju kendaraan ia berbagi cerita dengan kawan seperjalanannya yang lain, laki-laki dengan topi hitam tinggi menyerupai tukang sulap di pasar malam. Beberapa penumpang lain terlihat menimpali untuk kemudian terbahak bersama.

Dari dalam angkutan umum Colt, kuamati mereka. Angkutanku sendiri tak terlalu nyaman juga. Berada di jajaran kursi tengah bersama 3 penumpang lain. Kaki tak leluasa bergerak karena terhalang bangku kayu yang juga rapat oleh penumpang. Tapi tak bisa kubayangkan kalau aku ada di mobil itu. Pagi dingin dalam mobil bak terbuka. Bersatu dengan tumpukan kelapa. Bersekutu dengan aneka sayuran, tentunya lengkap dengan binatang yang paling menakutkanku: ulat. Dan bercengkerama dengan kematian!

Jalur perjalanan Trenggalek-Panggul mungkin bukan jalur yang terlalu sulit. Kata orang masih kalah ekstrim dibandingkan jalur menuju Munjungan. Tapi tetap saja, sebuah sentakan keras bisa menerbangkan manusia-manusia dalam bak tanpa penghalang itu. Ya ya…atas nama perjuangan, apapun mungkin untuk dilakukan. Aku hanya bisa menatapi dari balik kaca mobil, bertukar obrolan dengan penumpang lainnya. Sebuah kebetulan yang menyenangkan, di jalur tak kukenal ini aku berjumpa dengan guru SMA-ku. Rupanya ia telah menjadi salah satu pejabat di Dinas Pendidikan. Dan inilah perjuangannya tiap pagi, berjejal bersama para pedagang. Sekilas wajahnya akan mengingatkanmu pada pahlawan nasional yang menjadi profil salah satu uang kertas kita. Kumis melintang dengan jenggot dibiarkan lebat. Tidak terlalu panjang melambai, tapi cukup memberi kesan sangar. Bukan, kawan..tentu saja ia bukan kerabat Sisingamaraja. Aku tak tahu persis silsilahnya. Tapi dari namanya kurasa ia Jawa tulen. Namanya Sayekto. Konon Sayekto punya makna pasti, utuh, dan ajeg. Ah, aku tak mengerti betul soal nama. Yang kuingat ia dulu mengajarkan mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila dengan sangat baik.

Sebuah persimpangan: kiri Panggul, lurus Pule. Ritme laju kendaraan mulai mengalami perubahan. Setelah cukup lancar meninggalkan Simpang Jarakan dan melewati Karangan, kendaraan mulai melambat saat memasuki kawasan mendaki, Suruh. Tanjakan dan kelokan membuat jalan kelihatan lebih sempit. Pohon-pohon Akasia tampak segar oleh embun pagi. Kubayangkan langit akan menguning saat pohon-pohon kayu perkasa itu memunculkan kuntum bunga pada setiap rantingnya. Sayang sedang bukan musim Akasia berbunga.

Aku takjub menatapi pesona alam pagi ini. Tapi tidak dengan mereka. Para penumpang di dekatku, pun di mobil terbuka pada beberapa meter di depan kami. Mungkin semuanya telah menjadi sangat biasa. Topik pembicaraan berganti-ganti, tentang dapur yang harus selalu ngebul, anak-anak yang mulai masuk sekolah, gosip sesama pedagang, dan tak ketinggalan gurauan erotis yang membuatku risih. Begitu juga dengan pemandangan di depanku. Perempuan bersanggul tinggi mulai memejamkan mata. Kain panjang dengan warna yang mulai pudar menutupi pundaknya. Beberapa tampak masih bersenda, entah tentang apa. Tak ada yang cukup hirau dengan alam sekitar. Tanjakan tinggi Kertosono berlalu begitu saja. Orang menyebutnya tanjakan 17 persen. Aku cukup waswas. Tapi lantas teredam oleh ketidakpedulian para penumpang di sekelilingku.

Sekitar 40 kilometer dari kota. Itulah patokan daerah yang akan kutuju, Kecamatan Dongko. Turun dari puncak pas, Puru, aku mulai disergap aroma yang sangat kusukai: cengkeh. Kabarnya Sumberbening adalah penghasil cengkeh paling produktif di kawasan ini. Kuhirup dalam-dalam aroma eksotis ini hingga kendaraan mengantarku ke tempat tujuan. Para pedagang di mobil bak terbuka di depanku lebih dulu menurunkan aneka dagangannya. Ya, inilah Pasar Dongko. Dan sekarang Kliwon.

*

Persiapan pemberhentian berikutnya, Bank Indonesia. Sebuah seruan mengingatkanku untuk segera beranjak mendekati pintu. Ada Kopaja yang bisa kugunakan dari simpang BI-Tamrin ke Cikini. Tapi kupilih untuk berjalan kaki.

Hal yang selalu menyenangkan buatku, bisa berjalan kaki menyusuri kota. Segenap inderaku segera berfungsi. Menatap moleknya. Meraba setiap detilnya. Mencium aroma gelisahnya. Menangkap tiap riak ambisinya. Mencibir untuk kepongahannya. Menertawai kecurangannya. Manusia bergerak, manusia berlari.  Dan aku di dalamnya.

Many rivers to cross

And it’s only my will that keeps me alive

I’ve been licked, washed up for years

And I merely survive because of my pride

Empat dekade setelah kemunculannya, lagu ini dirilis ulang Annie Lennox. Penyanyi asal Scotlandia ini  membawakan lagu tersebut dengan sangat bagus. Kurasa lebih bagus dari Cher yang sempat dianggap menyanyikan lebih baik ketimbang versi originalnya. Bisajadi karena secara subjektif aku lebih mengapresiasi sosok Lennox, seorang perempuan mandiri yang kaya afeksi.

Tiba sudah di tempat tujuan. Sebuah rumah kost sederhana tempat aku sejenak meredakan penat. Sebelumnya mampir warung bubur kacang ijo. Kali ini pedagang dari Kuningan, Jawa Barat. Pada kali lain kuajak kalian menikmati bubur Madura. Rasa dan campurannya sedikit berbeda. Hanya satu yang sama, mereka bekerja untuk menyambung hidup. Sebagian orang menyebutnya sebagai perjuangan. Aku menyebutnya perjalanan. Tak selamanya lancar, tapi tak ada pilihan lain kecuali menikmatinya tanpa perlu mengeluh.

Yes, I’ve got many rivers to cross

But I can’t seem to find my way over

Wandering, I am lost

As I travel along the white cliffs of Dover

Semangkuk bubur kacang ijo campur tersaji. Ketan hitam tampak menyembul di tengah genangan santan. Tiga ribu rupiah yang mengenyangkan.

Yes, I’ve got many rivers to cross

And I merely survive because of my will…

 

Cikini-Cikoneng, Juli 2012

Iklan

Satu pemikiran pada “Many Rivers To Cross

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s