Cicak-cicak di daun…

Aih, ada cicak hinggap di daun! Hey, kau pikir kau ini kupu apa? Dia tak menyahuti sapaanku. Apa mungkin dia hanya tak ingin diganggu ya?


Nah, lalu kenapa besoknya ini cicak masih tak berubah posisi? Kaki kiri melangkah ke depan, dengan jari-jari kuat mencengkeram permukaan daun. Matanya tak bergerak. Apa ia sedang bersemedi?


Hari ketiga. Dia masih di posisi sama. Eh, cicak, kau ga cari makan po? Dia masih diam. Kucermati lebih dekat. Kulit tubuhnya lebih gelap dibanding cicak biasa. Ada bintil-bintil kecil warna oranye di antara jari-jarinya dan sebagian tepi tubuhnya. Kusentuh ujung kaki kirinya. Dia bergerak bergerak perlahan. Lalu diam. Hmmm…cicak yang aneh. Mungkin benar, ia semacam cicak pertapa.


Hari ke-empat. Sudahlah, selesaikan semedimu. Sini, kukasih kau makan. Kusodorkan lalat yang sudah tewas tak berdaya. Dia ngeloyor pergi. Oeeeyyy..kemana? Jadi pertapa ga boleh gampang marah, tauuu!


Aku sudah mengganggunya ya?

Iklan

2 pemikiran pada “Cicak-cicak di daun…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s