Angklung Night “Tribute To The Beatles” *)

Jalan Padasuka No 118, Bandung. Jam 7 malam tepat, lampu sudah diredupkan. Sentral perhatian telah beralih ke panggung yang kali ini dibuat 2 tingkat. Bagian atas tingkat permanen dengan alat-alat musik berat memenuhi panggung dengan lebar tak kurang dari enam meter tersebut. Persis di depannya, panggung pendek dalam ukuran lebih kecil, dilapis karpet berwarna gelap. Penonton memenuhi deretan kursi bertingkat berbentuk setengah lingkaran menghadap panggung.

Seorang perempuan muda memasuki arena. Mengenakan dress putih, sepatu tinggi bertali dan menyandang gitar. Namanya Nathania Jualim. Dua lagu berturut-turut ia nyanyikan, Blackbird dan Yesterday. Untuk lagu yang terakhir barangkali jamak, cukup dikenal. Tapi unik juga dia mau memilih Blackbird. Karena kurasa selain tak cukup familiar -yang artinya beresiko membuat penonton yang tidak tahu akan bengong- juga karena permainan nadanya tidak mudah. Versi lain dari lagu di White Album ini yang kusuka adalah versi Sarah Brightman. Tapi kurasa gadis yang mengenalkan diri sebagai NJ (baca: enje) ini membawakannya dengan cukup baik.

Penampilan NJ menjadi pembuka acara Angklung Night Tribute To The Beatles. Acara ini diselenggarakan Big Bamboo Organizer dan Saung Angklung Udjo (SAU) untuk memperingati dua tahun UNESCO menetapkan Angklung sebagai Warisan Budaya Dunia (The Intangible Heritage) milik Indonesia. Ini hari kedua, setelah sebelumnya juga digelar acara yang sama. Pada malam kedua ini ditampilkan HeartBeat, grup duplikat Beatles asal Sumedang. Adalah drg. Agus yang memimpin rombongan berjumlah 9 orang ini. Hmmm..mungkin terdengar aneh, seorang dokter gigi memimpin sebuah kelompok band. Ternyata bukan hanya itu. Grup ini keseluruhan anggotanya tercatat sebagai PNS di lingkungan Pemkab Sumedang. Entah, untuk acara di Bandung ini mereka mencatatkan SPD untuk berapa hari.. haha.. *just kidding :)*

Berbeda dengan grup duplikasi Beatles yang lebih sering membawakan lagu-lagu era awal 60-an, HeartBeat malam tadi cukup percaya diri untuk mengambil lagu era psikedelik. Lima lagu mereka bawakan dengan baik: Got to Get You In to My Life, Oh Darling, Savoy Truffle, Sgt. Peppers,dan Strawberry Fields Forever. Ada sempat terjadi slip, tapi tak cukup kentara. Barangkali karena teredam oleh apreasiasi terhadap sang pemimpin daerah yang mau memberi ruang terhadap kreativitas seni anak buahnya. HeartBeat memperjelas ingatan penonton akan grup legendaris asal Liverpool Inggris tersebut. Sebelum kemudian tuan rumah mengambil alih panggung dengan sajian musik angklung.

Adalah Taufik Hidayat atau biasa dipanggil Kang Opik, anak ke-9 Udjo (alm) yang mengenalkan angklung secara khusus sekaligus menyampaikan ucapan selamat datang kepada para penonton yang kali ini sebagiannya dipenuhi oleh rombongan TNI. Tampak di antara penonton Agum Gumelar, Sudrajat, dan Kiki Syahnakri. Selain itu tentu saja para penikmat angklung dan The Beatles, di antaranya dari komunitas Bandung Beatles Community. Dari sini dimulailah serangkaian Angklung Performance.

Diawali dengan belasan anak-anak, laki-laki dan perempuan menjinjing angklung masing-masing satu. Berjajar rapi menghadap penonton dan mulai mengguncang angklung yang mereka masing-masing pegang. Maka mengalunlah Yesterday dan Michelle. Ada pengulangan Yesterday! Pada satu sisi hal ini menunjukkan betapa lagu ini sangat dikenal dan mudah dicerna. Tapi pada sisi yang lain juga menunjukkan ketidaksinkronan panitia pelaksana dalam menggarap materi secara keseluruhan. Ada beberapa ketidaknyamanan lain yang muncul dan makin menegaskan kesimpulan itu. Tapi nanti dulu ceritanya.. Karena ada yang menarik lainnya yang ditunjukkan oleh para murid SAU. Kali ini para penampil hadir dengan serangkaian angklung yang disusun berderet dengan bambu penyangga. Tingginya nyaris menyamai para pemainnya, yang pada performance kali ini usianya lebih tua dari penampil sebelumnya.  Mereka membawakan medley In My Life, Obladi Oblada, dan Eleanor Rigby. Dengan iringan band, Eleanor Rigby tampil beda. Nuansa psikedelik yang dimunculkan The Beatles dari album Revolver cukup terasa di tangan para anak muda ini. Tapi sesungguhnya telingaku belum beranjak dari In My Life. Memejamkan mata-meniadakan keberadaan ratusan penonton, dan hanya ada angklung, sentuhan alam Bandung Timur, dan lirik yang menggugah… permainan mereka  berhasil membiusku. Indah sekaligus nelangsa. Barangkali rasa itu juga yang singgah saat John Lennon mencoba menerjemahkan ingatannya pada sang kawan, Stuart Sutcliffe.

Medley tiga hits The Beatles ini pun berlalu dan segera digantikan oleh penampilan dua personel SAU dalam perform Angklung Toel. Mengapa disebut angklung toel karena cara memainkannya cukup ditoel atau disentuh dan bukan diguncang seperti angklung pada umumnya. Anak ke-6 Mang Udjo, Yayan yang menciptakan angklung jenis ini. Sejumlah angklung dalam posisi terbalik disusun menggantung pada satu instalasi bambu yang dibuat sedemikian rupa sehingga -dalam pandanganku- menyerupai sebuah organ. Dan dua personel, Neng Ria dan Ajay -meski konon baru berlatih dua kali- memainkan alat musik angklung modifikasi ini dengan sangat baik. Tiga lagu: I Love Her, Let It Be, dan Can’t Buy Me Love. Apalagi Ajay, si bocah kecil itu sangat piawai menarikan tangannya pada tiap baris angklung untuk tugas nadanya masing-masing. Bukan hanya tangan, tubuhnya pun bergerak mengikuti irama musik yang dimainkannya. Sangat ekspresif. Menarik! Tak heran kalau ia mendapat applause panjang dari penonton.

Seolah tak mau jeda dari riuh tepuk tangan, anak ke-8 Mang Udjo, Daeng Udjo mengajak penonton untuk mencoba memainkan angklung. Ini adalah kali ketiga aku hadir d pertunjukan angklung di SAU. Tapi aku tak pernah bosan. Ini bagian yang masih saja menarik buatku. Setiap penonton memegang satu angklung. Masing-masing angklung punya nama. Kali ini menggunakan nama pulau-pulau besar di Indonesia (sebelumnya yang pernah kuikuti angklung dengan nomor). Nama-nama pulau itu mewakili tangga nada diatonik. Dengan atraktif Kang Daeng mengajari cara memainkan angklung. Termasuk dengan penggunakan simbol untuk masing-masing nada. Di bawah cahaya terbatas, tak cukup jelas ekspresi penonton. Tapi dalam bayanganku tak akan jauh beda dengan ekspresi penonton-penonton lain pada pertunjukan yang pernah kuhadiri: bingung, penasaran, excited, gembira.. Tapi dalam bebagai ekspresi itu para penonton mengikuti saja instruksi Daeng Udjo. Pun dengan para jendral. Kali ini Jendral Daeng yang memimpin 🙂 Mengalunlah The Long And Winding Road, Hey Jude, dan All My Loving dari kolaborasi guncangan angklung penonton.

Saat berlangsung Angklung Performance Interaktif ini panitia penyelenggara (organizer) membisikiku: “Teh, mic-nya satu lagu rusak.” Oh, lalu? Lalu akhirnya kemunculanku berikutnya hanya ketika diminta memberikan pertanyaan tentang Beatles untuk kuis. Agak tidak habis pikir juga, bagaimana mungkin mereka kehabisan mic? Tanpa cadangan? Ini akhirnya menjadi ujung dari sederet catatan minus yang kubuat sebelumnya: tak ada informasi tentang konsep acara-apalagi rundown (dan bahkan ketika acara sudah berlangsung pun rundown yang diberikan salah-masih rundown lama), wardrobe yang baru dibahas beberapa menit sebelum acara, ketidakpaduan informasi dari masing-masing personil panitia, dan ketidaksejajaran sebaran informasi tentang acara ini secara keseluruhan. Maka menjadi tidak lucu ketika penampil terakhir, Babendjo, menyapa penonton seolah tak tahu apa-apa setelah sebelumnya diinformasikan tentang siapa saja yang hadir di antara penonton. Sayang juga sebagai penutup pagelaran, Babendjo (Bambu Band Udjo) tidak tampil dengan prima. Tidak buruk, hanya biasa saja. Menjadi antiklimaks setelah disuguhi performa Angklung Toel dan Angklung Interaktif yang lebih menarik, baik dari harmonisasi bunyi maupun keunikan penyampaiannya.

Tapi lepas dari kekurangan pada beberapa bagian, acara ini tetap bagus. SAU mampu berinovasi, menciptakan program dan juga modifikasi alat musik angklung untuk menjajari pesatnya perkembangan industri entertainment.

Masih beranggapan bahwa angklung adalah adalah alat musik tradisional masyarakat Sunda yang hanya fasih mendendangkan Manuk Dadali, atau Es Lilin, atau Cing Cangkeling? Kalau iya, salah besar! Musik milik bumi Parahyangan ini telah menembus batas wilayah. Mendunia tanpa meninggalkan tradisi. Dan dengan inovasi yang dikembangkan oleh Saung Angklung Udjo, aku yakin angklung tak akan mati.

*) berhubung tak cukup ‘bekerja’ pada acara tadi, maka catatan ini ditulis sebagai pertanggungjawaban kepada yang memberi amplop..eh salah..yang memberi job 😀

==Tanpa gambar, ibu meongnya ga bawa kamera==

Iklan

7 pemikiran pada “Angklung Night “Tribute To The Beatles” *)

  1. tapi kenapa ya….lebih terdengar ‘gaung’ SITAR-nya ravi shankar, atau KOTO-nya jepang
    —-
    …………….
    karena kami kucel dan kamu gemerlapan
    karena kami sumpek dan kamu mengunci pintu
    maka kami mencurigaimu.

    karena kami terlantar di jalan dan kamu memiliki semua keteduhan
    karena kami kebanjiran dan kamu berpesta di kapal pesiar
    maka kami tidak menyukaimu
    ……………..
    ……………..
    karena kami arus kali
    dan kamu batu tanpa hati
    maka air akan mengikis batu

    rendra – sajak orang kepanasan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s