Selamat jalan, Mimo, gadis kecilku…

Aku akan menjadikannya maskot. Dia akan jadi tokoh!

Beberapa waktu terakhir benakku dipenuhi rencana itu. Beberapa ide cerita sudah terkumpul. Kenapa Mimo? Kenapa bukan Naga yang selalu kusebut sebagai anak meong paling ganteng sedunia? Kenapa bukan Aka, meong manja yang sudah lebih 6 tahun menemaniku?

Jawabannya dalah karena Mimo unik. Dia betina; perempuan sepertiku. Tapi tingkahnya maskulin (apa sepertiku juga?) hingga aku salah identifikasi di awal. Dulu kuduga dia jantan kecil (baca cerita sebelumnya: Dua bocah cilik penghuni baru rumahku). Matanya jernih. Ekspresinya perpaduan antara kejahilan dan rasa ingin tau yang kental. Kujumpai dia sedang bermain di jalan depan rumah. Sendiri, tanpa ibu dan saudara.

mimo kecil

Tapi Mimo tak seberani Mimi, meong kecil yang kutemukan di jalan yang lain dan kujadikan adik buatnya. Saat Mimi berhasil mencapai ranting tertinggi pohon Bisbul di halaman kecilku, Mimo memilih turun kembali bahkan sebelum mencapai ranting pertama. Saat Mimi berhasil mencapai atap rumah paling atas, Mimo mengeong kebingungan minta dibantu turun. Saat Mimi melenggang di jalan dengan tanpa peduli suara dan kehadiran makhluk lain, Mimo lari ketakutan bahkan ketika bunyi musik Es Krim Walls baru terdengar di kejauhan.

mimo..kalah berani deh kalo sm mimi

mimo yang awalnya memusuhi mimi, akur

Tapi Mimo tangkas menangkap benda terbang. Berapa kali ia pulang membawa capung, kupu-kupu, dan belalang. Kecoa sudah tak terhitung. Ia suka melompat dan berlari. Setiap ada tanda aku akan membuka pintu, dia sudah siap untuk menyelinap keluar. Begitupun ketika suara motorku mendekati rumah, dia sudah menunggu, berdiri di sandaran kursi dekat pintu. Bersiap melompat keluar ketika pintu dibuka. Begitulah, aku sering dibuat menunda kepergian hanya untuk menangkapnya lari-lari di halaman.

Mimo nakal. Mimo bandel. Tapi dia manis. Hanya dia yang bisa anteng saat kugendong. Yang menjadi kebiasaan akhir-akhir ini, menggendongnya sambil memasukkan motor ke dalam rumah. Dia juga tampak menikmati betul ketika kuajak jalan-jalan di sekitar komplek perumahan aku tinggal. Sekedar pergi ke warung, atau tengah malam menikmati purnama.

Dia tak pernah melewatkan saat bersamaku begitu saja. Saat pagi sambil ngopi, bersantai di lantai, serius di belakang laptop, sibuk ngeronce manik-manik, dia diam-diam mendekatiku. Dengan tanpa permisi duduk di pangkuan, berputar-putar mencari posisi yang enak hingga dengkur halusnya terdengar. Mimo menemaniku tidur setiap malam. Ketika Mimi minta keluar lebih awal, dan Naga bersikap sesuka dia untuk keluar atau bertahan, Mimo memilih tinggal bersamaku hingga aku betul-betul terjaga. Pada pagi hari tangannya menyentuh pipiku, lalu menggigiti dagu dan hidungku.

Mimo juga pencemburu. Ketika Mimi minta dipangku, ia akan menyusul..mencari tempat lebih tinggi. Di dada, bahkan di leherku. Dia keberatan, kalau jelang tidur aku masih pegang ponsel. Digigitinnya jari-jariku, sampai aku musti keluar kamar untuk sekedar balas sms.

Tidak ada yang pernah salah buat meong. Pun dengan Mimo. Kenakalannya selalu bisa membuat tertawa. Sikap manisnya membuat terharu.

Hari Minggu lalu adalah hari terakhir bersamanya. Dia sudah duduk manis di atas selimut hijau tebalku. Tak bergeming ketika kuminta bergeser. Kubalikkan badannya dan kugelitiki sampai dia mengeong kesal. Kucium pipinya kiri-kanan. Kukatakan padanya kalau dia akan tumbuh besar bersamaku. Mata jahilnya memandangku tak mengerti. Lalu dia pun mulai terlelap. Saat tengah malam terjaga, dia tergolek nyaman di atas kepalaku. Ah, kamu maaaaahhhh..

Pagi sempat kulihat dia berlari-lari. Bermain bersama Mimi dan 3 bayi Itang yang sudah mulai besar dan bandel. Lalu dia menghilang. Tak ikut sarapan bersama saudara-saudaranya.

mimo bobo bareng saudara2 meong

Dalam beberapa kali pencarian, tak kutemukan dia. Hingga semalam cerita itu membuatku lemas: tetangga sebelah kemarin menguburkan kucing belang hitam putih berkalung.

Ah, Mimo sayang…kalau pagi ini aku tidak mengkonfirmasi cerita sesungguhnya, bukan karena aku tak mau tau bagaimana kondisi terakhirmu sebelum kematian menjemputmu. Ada kejanggalan dalam cerita itu. Tapi aku tak sanggup menjumpai kenyataan kau sempat mengalami kesakitan, sayang.

Tidak. Kemarin kau tidak sakit. Kau baik-baik saja. Malaikat kecil dengan kepak sayap emas dan senyum di bibir mungilnya menjemputmu. Membawamu terbang menjumpai teman-temanmu di tempat yang tak ada sakit. Tempat yang hanya menyediakan damai dan sukacita.

Rest in peace, Mimo.. Selamat jalan, gadis kecilku.

mimo bobo dalam pelukan ibu meong

*Setelah selesai menulis ini, aku tau aku telah ikhlas melepas kepergiannya.

Cerita Mimo sebelumnya.

Foto-foto Mimo.

Iklan

8 pemikiran pada “Selamat jalan, Mimo, gadis kecilku…

  1. come away, come away
    leave it all far behind you.
    cos it’s not who you are
    and it’s not what you wanted.
    I can see, I can see
    the strength there inside you.
    calling you come away to where you’re bright eyed and hopeful.

    as a child is this how, you saw yourself all grown up
    cos I believe, I believe
    in your smile I see someone else.
    coming through, coming through
    like the sun-rays that kiss your face.
    like they always have done and they always will for you now.

    and everything will be alright now
    alright

    bruno merz – for you now

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s