Kereta, Kucing, dan Pelancong Kesiangan

Aku pengguna kereta api. Minimal setahun sekali -terhitung 18 tahun lalu- aku pulang kampung menggunakan deretan box besi bermesin ini. Ditambah lagi perjalanan ke kota lain seperti Semarang, Solo, dan Jogja. Tapi tidak untuk kereta dalam kota. Maka merasa aneh mendapati diri berada dalam perjalanan kereta membelah kota sendiri, Bandung.

Cerita berawal dari keinginan berkunjung ke rumah Reza, mommy-nya Sassy meong, yang sudah lama tertunda. Bersepakat dengan Ria, bertemu di Stasiun Kiaracondong. Stasiun ini sudah jauh berbeda dibandingkan terakhir kali aku ke sini. Kiaracondong adalah stasiun langgananku saat awal-awal kuliah. Hanya berbekal 11 ribu rupiah kereta ini sudah menibakan aku di Stasiun Kediri. Terakhir aku mengantar ibuku naik kereta yang sama,  pada 5 tahunan lalu. Alasannya: ga mau naik kereta eksekutif, terlalu dingin. Haha.. keliatan banget wong Bendo(Trenggalek)-nya.

Ada tata cara yang berubah juga dibandingkan yang lalu. Konon ini karena perubahan peraturan yang diterapkan pak mentri 🙂 Ada pagar batas yang tidak membolehkan penumpang masuk area kereta sebelum jelang jadwal keberangkatan. Pengantar bahkan dilarang masuk. Jajaran kursi berderet rapi. Pada ujung rel yang berbatasan dengan jalan raya dipagar besi, menghindari keluar-masuknya orang yang tak berkepentingan dengan perjalanan kereta. Pastinya juga penanda bahwa kereta untuk mereka yang membeli tiket melalui loket semata.

hati2 satpam penjaga!

Begitulah, tiket akhirnya sudah terpegang, setelah ada kesalahan informasi soal jam keberangkatan.

ini dia tiketnyaaaaa..

Dan perjalanan pun dimulai…

Lewat Kiara Condong kereta laju
Panorama di sana memaksa ku tersenyum
Bocah bocah tak berbaju
Berlari lari disepanjang tepi
Di setiap detak roda yang ke lima
Bergerombol bocah-bocah

Bermain gunduh kudaku lepas
Mengejar laying sampai ke awan
Bermain gunduh kudaku lepas
Mengejar laying sampai ke awan

Ohh..bilakah mereka mainkan buku dan pena di tangan ?

(Lewat Kiaracondong, Leo Kristi)

Ada kenikmatan lain rupanya, melihat riuh kota dari balik jendela kereta. Jauh berbeda dibandingkan ketika aku jalan kaki, apalagi berkendara dengan sepeda motor. Setiap persimpangan menjadi teka-teki: ‘tiba dimana kita?’ seolah berada di kota lain. Melewati persimpangan Jalan Sumatra ada pemandangan yang agak berbeda. Rumah-rumah tua. Ah, tak perlulah bicarakan tentang bangunan hotel yang menjulang tinggi. Gedung-gedung baru itu telah menambah sesak kota, bertolak belakang dengan rumah-rumah petak yang sesak setia sepanjang sisi rel kereta. Ya tak perlu bicara soal itu. Kita bicara saja soal bangunan-bangunan tua yang tampak nikmat terlihat dari kereta yang melaju cepat. Gereja Katedral tampak manis di sudut Jalan Merdeka. Dan Viaduct…ahaiii…kenapa dari kereta ekonomi dalam kota Viaduct jadi tampak lebih bersahabat? Tiga baris jalan yang sejajar di bawah jembatan tampak berkawan, tak saling mendesak.

Tak lama berselang, tibalah kami di Stasiun Bandung (kota). Aku ingat ketika awal berada di kota ini, tinggal di kawasan utara yang sering berjumpa dengan angkutan kota St Hall – Dago. Bertanya-tanya tentang nama yang tak cukup familiar di telinga itu. Yup, rupanya itu nama stasiun Bandung di masa lalu, Stasiun Hall. Dihitung sejak diresmikannya, stasiun ini sudah berusia lebih dari satu seperempat abad (17 Mei 1884). Dan jalur kereta yang awalnya hanya digunakan untuk  mengirimkan hasil perkebunan ke Batavia dengan lebih cepat akhirnya berkembang pesat, menjadi kereta penumpang. Hingga sekarang.

Sungguh merasa aneh, masih berdiam diri di dalam kereta. Pada semua perjalanan keretaku, di stasiun ini aku sudah bergegas turun. Tapi kali ini tidak, karena kami masih akan meneruskan perjalanan menuju Cimahi. Untuk sampai Cimahi, kereta masih akan melewati Stasiun Ciroyom dan Stasiun Cimindi. Lepas dari Stasiun Cimahi kereta akan melanjutkan perjalanan ke Stasiun Gadobangkon dan berakhir di Stasiun Padalarang.

Saat jelang Stasiun Ciroyom, giliran Ria yang berteriak antusias: ini Andir! Aroma asin rupanya dihafalinya betul karena aktivitasnya menemani anak-anak jalanan di kawasan ini. Untunglah masih ada orang-orang muda seperti Ria yang mau berkarya untuk anak-anak yang nyaris tak tersentuh kebijakan penguasa ini. (eh, ini apa ya..kok aku muji2 Ria ya…biarlah, biar dia bawain lagi ikan buat meong2 di rumah :D)

Ya, inilah kami, pelancong kesiangan yang menikmati tengah hari yang berkeringat bersama berderet-deret kursi, percakapan sana-sini, dan lalu lalang pedagang asongan yang mengalir tanpa henti. Hingga kereta berhenti si stasiun tujuan kami.

Reza menjemput dari ujung lintasan kereta api. Perjalanan masih lumayan panjang, berlanjut dengan jalan kaki. Di bawah terik Cimahi berjalan kaki? Siapa takut?! Apalagi bisa minum es dawet ayu dan belanja awug (tiba2 aku jadi tukang jajan!). Ditambah kemudian dengan.. jeng jeng! Meoooooooong!

si tengil menyambut kami

Lenyaplah sudah penat dan panas perjalanan.

mimo terbang

sangteiii

cici akung

adiknya naga neeeee

si aa nungguin mentari mamam sambil ngupil. awas upilnya nyemplung!

stray..selain dapet jatah makan, dapet jatah dicari kutu…

mamam yuuuuuk!

laju-laju..kereta laju…

apa iniiiiihhhhh…nutupin kamera oeeeyyy!

mentariiii..kamu mau makan atau mo dikirim ke penampungan?! *jeritan ibu tiri*

sassyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyy…keretaaaaa…. tenang, mommy…msh 7 menit lagi!

akhirnya si hiperaktif dikurung saja, drpd bikin stres hwahahahaha..

apa sih, pus..nempel2? mo ikut ke cikoneng?

tante, tolong tante..beli sendalnya tinggal 2 pasang lg. buat beli makan, tante…

Makasih Mommy Reza, makasih Neng Ria.

Makasih juga Mang Oben (sudah kunyanyikan Leo Kristi, sebagai password titip motor :))

menunggu kekasih hati

Lah, terus foto emak2nya mana? Apaan? Manusia? Ah, ga penting! 😀

Iklan

7 pemikiran pada “Kereta, Kucing, dan Pelancong Kesiangan

  1. kutuliskan

    ku tuliskan lagi
    kata kata sepi
    ku tuliskan tak henti-henti
    walau tak berarti

    kala burung pergi mencari matahari

    ku tuliskan lagi
    kenangan kenangan mati
    hingga bagai api
    membara dalam mimpi

    kala daun gugur dan dahan tertidur

    ku tuliskan lagi
    harapan harapan abadi
    hingga bagai duri
    melindungi sekeping hati

    kala angin lirih menghibur sedih

    puisi/lirik : wing kardjo
    dinyanyikan oleh : bimbo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s