Pulang ke kotaku (3-habis)

Bandung jelang petang. Kubayangkan kau bosan dalam perjalanan. Bagaimana kalau kuceritakan padamu, tentang perjalananku hari itu? Hari ketika aku kehilangan selera untuk bicara? Kau ingat? Ah, tak perlu kau jawab.. mungkin kau akan malu mengakuinya. Tak mengapa. Sekarang biarkan aku berkisah, di antara deru roda kendaraan, yang mengantarmu pulang.

Setengah gambling aku pergi ke Stasiun Tulungagung untuk mendapatkan tiket kembali ke Jakarta. Pada malam sebelumnya pemesanan tiket online menunjukkan tiket tidak tersedia. Tapi kurasa aku masih belum percaya ke-valid-an informasi dari situs PT KA tersebut. Dengan sebersit harap, maka pada tengah hari itu aku mencoba membuktikan kekurangsahihan data online PT KA. Dan.. yup, terbukti. Dengan segera aku bisa mengantongi tiketku: Gajayana jurusan Malang-Jakarta. Pukul 16.40 kereta akan tiba.

Tiga jam akan tersia-sia kalau aku hanya akan bergelung diam di dalam bangunan. Mari menuju alam!

Aku tiba-tiba mengingat satu tanda yang mengganggu. Bukankah ‘mengganggu’ pun bisa menjadi sumber inspirasi, kawan? 🙂 Tulisan ‘mengganggu’ itu ada di pertigaan Kalangbret. Kalau dari arah Trenggalek dia ada di kanan jalan. Kurasa
tanda itu hanya akan terbaca saat kendaraan berhenti persis di bawah lampu merah. Itupun kalau Anda termasuk orang yang suka membaca tanda. Kalau tidak, aku yakin tulisan itu akan terlewat begitu saja seperti catatan-catatan tak penting lainnya. Tanda itu bertuliskan ‘Candi Penampihan’. Dengan alas warna coklat, tulisan putih, dan penunjuk meruncing tertuju pada arah yang dimaksud. Sama sekali bukan tanda yang menarik. Tapi begitulah, tanda yang kudapati sehari
sebelumnya malah jadi pilihanku siang itu.

Bersama Galih, keponakanku yang mengantar dari rumah Bendo, aku beranjak meninggalkan Stasiun Tulungagung. Karena tak cukup hafal dengan jalan tembus tengah kota, kami kembali ke arah pertigaan Kalangbret dengan melalui depan terminal bis. Dari terminal bis, pertigaan ini berjarak sekitar 3 km. Bertemu pertigaan, ambil jalan kanan, susuri jalan, lurus tanpa henti. Kurasa tak kurang dari 20 kilo (maaf, tak sempat mencatat..dan mengandalkan ingatan ternyata adalah sebuah kesalahan) baru ketemu lagi dengan sebuah persimpangan. Sebagai penanda, ada Kantor Polisi Sektor, Koramil, dan Kantor Kecamatan Sendang dalam satu jajaran persis di kiri jalan jelang belokan. Sedangkan pada kanan jalan, kembali bisa kita lihat tanda -penunjuk arah tak menarik- yang sama dengan di pertigaan Kalangbret. Dari pertigaan ini kita masih harus bersabar melakukan perjalanan lanjutan sejauh 7-8 kilometer. Hingga batas jalan tak beraspal mempertemukan kita dengan jalan kecil bersemen menuju puncak bukit tempat Candi Penampihan  bersemayam.

***

Sejauh mata memandang, hijau membayangi punggung bukit. Gambar yang sungguh memanjakan penglihatan. Pendakian pun dimulai. Jalan beton sempit yang cukup nyaman untuk berkendara. Siapa yang membangun fasilitas ini? Pemerintah Kabupaten Tulungagungkah? Atau pribadi yang cukup berkepentingan dengan keberadaan candi? Entah. Yang jelas menarik buatku mendapati satu bangunan bersejarah -yang penting tapi bisajadi tak cukup menarik untuk sebagian besar orang- dilengkapi dengan prasarana yang memadai.

Jalanan kecil, berkelok, mendaki.. Aku tak membawa motor sendiri. Tapi kurasa jalan ini tak terlalu sulit untuk ditakhlukkan, meski pada beberapa titik turunan tajam memunculkan desir halus sekaligus teriakan lantang. Letupan kegembiraan yang menyenangkan. Kesal yang sempat mengendap, buyar, dan bersatu dengan sekitar.

Hei..jangan katakan kau tak menyesal membiarkanku jalan sendirian malam itu. Jangan bilang kau tak ingin memberi ucapan selamat jalan padaku. Karena suatu kali aku ingin mengajakmu kesini. Menyaksikan lampu semesta mengintip dari balik punggung Wilis, menjadi penanda pagi.

Pada ujung jalan bersemen, tampak bangunan candi pada sisi kanan. Artinya kita sudah sampai. Inilah Candi Penampihan. Sebuah bukti peradaban masa lalu yang terletak di lereng Gunung Wilis. Persisnya di Dusun Turi, Desa Geger, Kecamatan Sendang, Kabupaten Tulungagung. Candi Penampihan merupakan candi Hindu peninggalan Kerajaan Mataram kuno, dibangun pada tahun Saka 820 atau 898 Masehi. Penampihan dalam Bahasa Jawa diartikan sebagai penolakan sekaligus penerimaan yang bersyarat.

Candi Penampihan tampak depan

Penampihan dibangun sebagai tempat pemujaan Dewa Siwa. Candi Penampihan berundak teras, membujur barat-timur. Pada teras pertama -yakni paling awal menyambut kita- adalah bangunan semacam altar yang disusun dari batuan andesit lonjong dengan ukuran panjang 5 meter, lebar 2,5 meter dan tinggi 1,5 meter. Di bagian atas altar terdapat sebuah prasasti berbentuk persegi dengan angka tahun 820 Ç. Nah, seharusnya.. di altar ini juga terdapat dua arca laki-laki yang di gambarkan seperti wayang sebuah arca Ganesa, dua buah arca perempuan, dan sebuah bola batu. Tapi arca-arca itu tidak di tempat. Juru kunci candi, ibu Wintarsih mengatakan arca-arca itu disimpan di Museum Boyolangu pasca maraknya pencurian arca yang terjadi beberapa tahun lalu.

Menjelang tangga naik teras kedua, terdapat kolam kecil pada samping kiri dan kanan. Kolam itu bernama Samudera Mantana (pemutaran air samudera). Menurut Wintarsih, dari yang ia percayai dan amati, dua kolam itu merupakan indikator keadaan air di Pulau Jawa. Kolam yang sebelah utara merupakan indikator keadaan air di Pulau Jawa bagian utara. Demikian juga kolam sebelah selatan. Maka ketika terjadi kekeringan pada kolam-kolam tersebut, berarti keadaan air di bawah menderita kekeringan pula. Begitupun sebaliknya, air kolam yang melimpah sebagai pertanda terjadi kebanjiran.

Pada teras kedua dibatasi oleh susunan batuan andesit serupa pagar. Lalu sebuah sebuah tangga mengantar kita ke teras ketiga yang merupakan teras tertinggi. Di sini terdapat tiga bangunan. Yang pertama,  di tengah teras -tepat di depan tangga masuk- merupakan bagian berbentuk persegi panjang. Berbahan andesit dan batu bata sebagai isiannya dengan ukurang panjang 9,7 meter, lebar 4,9 meter, dan tinggi 1,1 meter. Bangunan ini terbentuk kura-kura raksasa. Pada bagian atas kura-kura terdapat prasasti berangka tahun 1382 Ç dan sebuah arca tokoh perempuan dengan angka tahun 1116 Ç. Cerita tentang kedua arca juga hanya kutemukan dalam buku catatan juru kunci.

Pada sisi kiri teras utama ini terdapat sebuah bangunan berbentuk bujur sangkar. Tidak lengkap namun masih terlihat relief yang menggambarkan cerita berlakon binatang. Begitupun pada sisi kanan. Bangunan tak utuh. Namun segera teralihkan oleh pohon Kalpataru yang tinggi menjulang di atasnya, yang entah telah menjadi saksi berapa peristiwa.

Pohon Kalpataru

Hei..tuliskan aku puisi. Tentang pohon-pohon teh yang begitu sabar menanti, tangan para perempuan membelai pucuknya tiap pagi. Atau tentang petai cina yang berderet di seberang, dengan untaian matang terbakar siang. Hmm..kau tau, apa yang kutemukan lagi di sini? Pohon yang sudah lama kukangeni: turi! Bunganya yang berbentuk sabit putih seolah menunggu dikucuri sambel pecel Mbah Suti. Lalu…hei, kau masih mendengarku? Kau dimana? Ah, dia menghilang.. Baiklah, lain waktu akan kuceritakan.

Foto-foto Candi Penampihan

Iklan

7 pemikiran pada “Pulang ke kotaku (3-habis)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s