Pada Siang di Tepi Pematang

”Ini sawah terakhir di daerah ini.” Begitu katamu siang tadi.  Di teras yang belum tuntas digarap, kita bercakap. Dua buku, dua ponsel, dan dua gelas besar kopi menjadi batas. Padahal semalam kita tak berjarak. Bahkan sudah kau tinggalkan jejak. ”Untuk yang belum tertuntaskan dulu,” katamu sebelum kau kecup kedua pipiku. Dan rasa hangat masih tertinggal, mengaliri buku-buku jariku dan pergelangan kurus lenganku; masih sama seperti saat kau menggenggamnya. Tapi kita sekarang di sini, di sebuah teras rumah kontrakan, tempat kawan-kawan mudamu tinggal. Tentu saja aku mengerti. Maka kunikmati saja apa yang tersaji pada tengah hari ini: kursi kayu panjang dengan baris bilah bambu sebagai alas, dua kursi serupa dengan ukuran berbeda, dan sepeda motor terparkir dalam jarak sedepa. Pada sebelah kiri, pohon mangga mulai menunjukkan kesuburannya. Buah-buah hijau segar menggantung. Dan pada sisi seberangnya, pohon keladi melambai ditiup angin siang. Pohon tolak miskin, kata ibuku dulu. Karena hanya dengan tiga pohon keladi ditambah dengan ikan asin dan bumbu dapur, kita sudah bisa menyantap makan siang yang nikmat. Dari batang dan daunnya. Ah, aku lupa bertanya: apa kau pernah mengalaminya, memainkan bulir air pada lembar daun berminyaknya?

Lalu aku mendapati kesadaran itu. Bahwa setiap peristiwa selalu berelasi dengan masa lalu. Dalam sekian detik otak manusia akan merekam visual yang ditangkap matanya, atau auditif yang diterima telinganya. Selebihnya adalah olahan peristiwa masa lalu. Begitupun saat kau bercerita tentang bangunan baru yang menghalangi pandang kita. ”Dulu di depan ini sawah, sampai ke jalan sana.” Akupun lantas berimajinasi tentang hari-hari yang pernah kau lalui. Pagi dengan dengan kopi, rokok, dan buku. Dan angin yang dengan leluasa menggapai kekhusukan pagimu. Hingga kemudian matahari akan mengentaskanmu dari ruang-ruang bawah sadar yang terbangun oleh lembar demi lembar bukumu.

Ya..ya..sawah-sawah akan berganti dengan bangunan baru. Pada kali yang lain mungkin akan kudapati bukan hanya rumah di depan kita, tapi juga bangunan lain yang merapat, seolah melarang kita dan alam bersahabat. Ya, sawah akan menghilang. Berganti dengan tunas-tunas baru yang tak perlu menunggu hujan untuk tumbuh, meraksasa menjadi batang-batang penyangga gedung-gedung menjulang. Inikah tuntutan modernitas? Ketika manusia yang gemar berproduksi lalu memenuhi tuntutan: mendapatkan pendidikan yang layak di kota atau kota sebagai perwujudan dari keberhasilan. Benakkupun lantas dipenuhi para motivator yang gemar mengajak orang berpikir optimis, bergerak menuju sukses di masa depan. Kau tau, sayang..segala pekerjaan telah kujalani. Termasuk bergabung dengan para pemimpin yang gemar memberi motivasi. Dibalut pakaian lengkap dengan jas rapi, mereka bicara berapi-api. Dari balik kursi aku hanya mengucap dalam hati: maaf, pak..saya tak peduli. Tapi kulakoni juga pekerjaan-pekerjaan itu, karena tubuh juga punya butuh. Tidak, bukan untuk mendulang sukses seperti upaya meraih mimpi yang diajarkan para laki-laki berdasi. Hanya ingin menikmati sedikit bahagia di antara hari-hari sunyi bersama binatang dan tanaman di rumah kecilku.

Hei..sudah pernahkan kukatakan padamu: aku ingin punya sawah? Pada masa kanak sering kubayangkan berada di antara hamparan sawah hijau, berteduh di gubuk kecil, dan memainkan seruling dari batang padi yang mulai menguning. Di bawah pohon trembesi, kupuaskan khayal siangku tentang sawah di seberang. Pada jelang sore aku akan cukup gembira karena berhasil membawa seplastik besar buah trembesi, sebagai hasil panenku hari itu. Kujemur buah hitam panjang penuh isi itu di bawah terik matahari. Lalu kujual. Dua puluh rupiah sekilo. Kemudian dengan sukacita akan kutukarkan dengan permen, cemilan, atau selembar roti sisir dengan warna kuning mengkilap yang selalu menggoda.

Ah, lagi-lagi aku bicara masa lalu. Lihatlah, sayang..matahari sedikit bergeser. Pada sebuah petak, batang-batang padi tampak lebih gelap dari yang lainnya. Batang-batang tipis ramping itu berjajar rapi, dengan tinggi yang sama, saling menyapa tersapu angin siang yang ramah. Matahari juga mengusirku dari kursi bambu. Membuat jarak yang lebih lebar antara kau dan aku. Sementara musik masih mengalun dari ponsel yang kau letakkan di atas kursi. Sebagian besarnya tak kukenali. Tapi aku cukup toleran dengan lagu. Yang baru, apalagi dari generasi terdahulu. Kecuali lagu-lagu mengharu biru dengan lirik tak masuk akal buah dari pikiran yang dangkal. Samar kemudian terdengar melodi diikuti puisi. ”Judulnya Pledoi Malin Kundang,” ucapmu lirih. Pandanganmu segera beralih pada pematang sawah. Atau entah.. Mungkin pada masa lain yang tak kutau; mungkin masa lalu yang sering membuatku cemburu. ”Puisi Indrian Koto,” lanjutmu. Lalu bibirmu ikut menari, teliti, seolah puisi itu adalah buah pikirmu sendiri.

karena jarak mengajarkan rindu

maka, izinkan aku mengangkat sauh, ibu

sejak dulu, aku ingin karam di laut yang jauh

agar aku tak melulu diserbu sesal yang gaduh

sebagaimana kau tahu,

tanah ini menyimpan kesakitan masa lalu

bagi lelaki seperti aku

 

maka, aku mencipta masa depan dalam ingatan

menghijaukannya diam-diam

……………………………………….

Puisi pun menyepi. Kau memintaku duduk di kursimu dan kau sendiri beranjak ke sisi lainnya. Melanjutkan cerita tentang buku, puisi, kawan, dan cerita sehari-hari yang menyenangkan. Kadang suara lirihmu memaksaku untuk berusaha ekstra menangkap gelombang suaramu. Tapi kau tampak tak merasa ada yang salah dengan itu, asik bercerita tentang apapun. Apa saja yang kadang membuatku tertawa. Lalu aku terpaku pada wajahmu. Kernyit samar sesekali muncul di antara kedua alismu. Tak sedikitpun bisa mengusirku untuk mengeja dua pekat hitam matamu. Pekat, gelap. Menatapnya seolah memasuki lorong, bermuara pada gua tempat kau simpan rahasia. Tak ingin mengungkap, hanya ingin menyelaminya. Berada di dalamnya, membaca setiap pertanda. Memaknai kisah yang terpahat pada dinding-dindingnya. Mendaki bukit-bukit hasrat yang kau timbun, bertahun dalam lapis demi lapis. Rapi. Rapi seolah tumpukan arsip yang kau bisa gali kembali, masa demi masa yang pernah kau lalui. Lalu merumuskannya dalam puisi.

Kau menatapku sekilas. Apa yang kau hindari dariku, sayang? Curiga apa yang masih kau simpan atasku? Atau hal lain lagi yang tak kutau? Kupuaskan menatapimu. Matahari sore beranjak dari pipimu. Memberi jejak kecil deretan rambut halus pada tepiannya. Aku suka. Tak peduli kau jengah karenanya. Lantas kau mengelak, dengan senyum samar atau dengan cerita lainnya. Yang kau temukan begitu saja.

Haha..kau lucu, sayang! Rasaku ingin menciummu. Ya, aku ingin menciummu. Sekali saja. Tapi hasratmu telah kau titipkan pada batang-batang rokok, cangkir-cangkir kopi, dan setumpuk buku di sudut kamarmu.

”Mari kita pergi.” Kau gamit lenganku. Kita tinggalkan teras, berjalan di tepi pematang dengan semburat senja memayungi langkah kita. Dan aku akan mengingatnya seperti ingatanku pada baris pertama Koto: karena jarak mengajarkan rindu…

Iklan

4 pemikiran pada “Pada Siang di Tepi Pematang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s