Asam Jawa vs Asam Belanda (mengingat hari pohon kemarin)

Pagi kemarin seorang kawan di jejaring sosial mengingatkan soal hari pohon yang jatuh di hari kemarin. Aku lupa. Sedang tidak peka terhadap isu apapun. Tapi lantas jadi ingin bicara tentang pohon.

Aku tak ingat persis kapan mulai menyukai pohon. Yang jelas aku sudah mencoba mengenali setiap pohon di sekitarku sedari kecil. Dan aku yakin pengetahuanku tentang tanaman cukup baik, setidaknya lebih baik dibandingkan teman sepermainanku. Hei.. kawan masa kecilku, bukan sok tau, tapi mari kita uji..aku pasti menang! (kidding, guys 😀 )

Nah, apa kau tau bedanya asem jawa dan asem belanda, kawan? Tentu saja aku tidak akan menjelaskan perbedaan dua pohon peneduh itu. Aku hanya penyuka, bukan ahli tanaman. Aku pendongeng, bukan peneliti. Jadi biar kuceritakan saja kisah tentang pohon asem ini.

***

Pohon itu berdiri angkuh di sisi jalan. Pada sepenggal jalan di Desa Bendo, Kecamatan Pogalan, Kabupaten Trenggalek. Ya, angkuh tak tergoyahkan. Batang besarnya telah bersetia pada bumi, sejak masa yang tak tercatat. Seorang pekerja barangkali telah membawanya. Pada jeda meretas jarak Anyer-Panarukan.

Lihat saja kulit batangnya, coklat tua tak ubahnya kulit para renta yang terbakar matahari dari waktu ke waktu. Kasar. Meretak berupa petak-petak kecil sepanjang lengkung tubuhnya. Tapi sesungguhnya ia tak pernah tua. Alam telah memberinya keleluasaan untuk mengubah dirinya. Saat musim kering, ditanggalkannya segala pernik hijaunya. Dibiarkannya tersapu angin kemarau. Saat musim bunga tiba, hujan akan menumbuhkan pucuk-pucuk daun baru. Tulang daun dengan helai-helai kecil daun menyirip berwarna hijau segar bermunculan, bersusun-susun pada sepanjang dahan. Dan kuntum-kuntum bunga lahir dari ranting yang semula kering. Bunganya serupa kupu-kupu kuning dengan tudung coklat. Atau merah? Selalu begitu, dari waktu ke waktu. Dan kelak bunga-bunga itu melahirkan buah.

Buah itulah yang selalu kita tunggu, dulu. Pada hampir saban siang, usai jam sekolah. Menanggalkan seragam, berganti baju rumah. Lalu bergegas mencari tempat, yang bisa khidmat menunggu buah asam berjatuhan. Kadang aku sendiri, tapi lebih suka beramai-ramai. Karena perlombaan meraih sang buah masam itu adalah keasyikan tersendiri.

Pakkk! Buah asam jatuh. Panjang. Dengan biji sekitar 5 atau 6. Membentuk lengkungan seperti pemanggul kelebihan beban. Pakkk pakkk! Beruntun dua buah asam jatuh. Satu berisi 2 biji. Retak, hingga kulit buah tipis-coklat-kerasnya melesak menembus daging buah. Matang. Tanpa menunggu lama, kubuka dan kukunyah pelan. Manis asam. Seutas tali buah harus dilepas. Juga biji hitam mengkilap. Jangan dibuang. Karena itu bisa digunakan untuk mainan. Satu lagi, buah satu biji. Mengkal. Keasaman yang membuat liurmu mengalir tanpa sadar. Itulah keanehan asam. Selalu ingin mencoba biarpun tau lidah tak sanggup menahan masamnya haha..

Pakkk pakkk pakkk! Satu demi satu buah asam berjatuhan. Terkumpul dalam satu wadah dan siap dibawa pulang. Buat apa? Dijadikan cemilan! Pada musim kemarau panjang, panen asam akan berlipat. Dikumpulkan, dikeringkan, jadilah asam kawak. Pada saatnya ia akan berada di tempat yang semestinya: jamu, sayur asam, minuman hangat, dan gula-gula. Kadang akan bertengger pada sendi yang mengalami nyeri.

Ah ya, aku lupa bercerita. Pohon asam yang kudongengkan tadi adalah pohon asam terhebat yang kukenal. Tubuhnya perkasa. Tapi buah-buahnya kecil, ramping, dan manis. Pada sisi seberang jalan, sepasang pohon asam berdiri berdampingan. Kurasa mereka tidak sebaya. Atau bumi agak memperlakukan mereka tak sama? Entah.. Kedua bersaudara ini melahirkan buah berbeda. Besar, lebar, dan lebih asam. Aku tak begitu suka. Asam yang menyiksa. Selain seruan para orang tua untuk tidak menyeberang jalan.

Nah, itu asam jawa, kawan! Kurasa kalian sudah kenal betul. Tapi taukah kalian asam belanda seperti apa?

Biar kuingatkan. Siang itu kita berseteru. Saling mengadu kemampuan menyelesaikan tugas sekolah. Membuat keranjang sampah. Tapi tak cuma itu. Beberapa kalimat lantas membuat kita berdebat. Di tepi sungai itu kita menyusun siasat! Haha…masa kanak yang tak terlupakan.

Di tepi sungai itu, kawan, kujumpai pohon asam belanda kali pertama. Kurasa kalianpun lupa.

Asam belanda berbatang ramping. Di tepi sungai itu dia menjadi pagar, menjadi pelindung tanaman ladang di baliknya. Biasanya akan ada yang memangkas pucuknya, sebagai santapan kambing dan sapi. Di tempat lain ia punya peran berbeda, menjadi peneduh jalan dan tempat singgah binatang terbang. Dahannya menjangkau lebar keluar dengan ranting-ranting yang ramai oleh daun dan buah.

Asam belanda punya daun bulat lonjong, kembar. Daun inilah yang muncul dalam khayalanku saat membaca kisah seribu satu malam. Tentang bocah desa yang sanggup membuat bayangan gajah raksasa lewat lukisan yang dibuat dengan ketepelnya, pada lembar daun pohon entah apa namanya. Ingatkah kalian? Dongeng yang kita baca dari buku perpustakaan.

Di tepi sungai itu kukunyah buahnya.Yang hijau saat muda dan menjadi coklat seiring umurnya. Tonjolan biji yang berkelok, kadang melingkar. Rasanya manis kesat. Bukan buah yang lazim disantap. Tapi kenapa tidak? Cobalah, kawan. Hanya, kau musti bersiap, karena berpasang-pasang durinya siap menyergap!

coba tebak ini dimana? warga buah batu bandung wajib tau! 🙂

buah asam belanda, berkelok kadang melingkar

Nah, kawan..tanaman apalagi yang kau ingat dari masa kanak kita? Pisang? Berapa macam pisang yang kalian kenali? Mari kita ingat-ingat..

Ah, tapi aku terlalu pening malam ini. Mari mengingat di lain waktu saja. Biarkan malam ini aku bermimpi, makan malam dengan gulai jantung pisang.

Iklan

4 pemikiran pada “Asam Jawa vs Asam Belanda (mengingat hari pohon kemarin)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s