A Walk To Remember, kisah tragis manis…

Setelah beberapa hari terakhir bongkar ruang buku sekaligus ruang gawe, merasa sejenak butuh menghibur diri. Itung-itung komplimen buat riweuhnya usung-usung barang. Pun untuk beranjak dari kehilangan Susi meong yang masih menyisakan bengkak di mata. Pilihannya adalah nonton film. Sekalian mencoba dvd player yang baru ikut dipindah juga.

Film yang terpilih malam ini: A Walk To Remember. Ini film sudah lama nyelip di antara tumpukan koleksi filmku. Tapi entah dari mana, karena rasanya ini ‘bukan film gue banget’ yang perlu dikoleksi. Rasanya sih ‘terlalu abege’. Aku belum pernah membaca review-nya, tak tau para pemerannya kecuali Mandy Moore. Waktu masih siaran dulu aku suka memutar ‘Only Hope‘ yang menjadi salah satu soundtrack film ini. Tapi akhirnya sengaja memilihnya karena mengingat seorang kawan yang menyebut film ini sebagai ‘bagus dan mengesankan’.

Baiklah…mari kita tonton.
a walk to rememberAdegan pembuka: perjumpaan sekelompok anak muda yang tengah menikmati malam. Khas anak muda kota (dan Amerika tentunya). Dulu di kampus kelompok beginian biasanya disebut geng gaul 🙂 Pertemuan di area parkir itu kemudian berlanjut ke kawasan perairan. Tampaknya semacam pentahbisan untuk bisa masuk dalam kelompok tersebut. Syaratnya: menceburkan diri ke sungai dari ketinggian anjungan. Gerombolan ini lalu sadar telah menjadikan si kawan baru sebagai korban. Ketika ada upaya melakukan pertolongan, patroli polisi mendatangi mereka. Bergegas mereka meninggalkan lokasi. Landon (Shane West) yang terakhir bergerak tertangkap petugas.

Dari pengantar itu sudah mulai tertebak kalau si korban nantinya akan menjadi bagian dari semacam titik balik dari salah satu anggota geng gaul ini. Ah, tapi coba bersabar dulu.. 🙂

Tertangkap telah melakukan kesalahan, Landon mendapatkan hukuman. Semacam kerja bakti di sekolah dan mengikuti kelas teater. Ini persinggungan yang kesekian kalinya antara Landon dan Jamie Sullivan (Mandy Moore). Betul, mereka kawan sekolah sedari kecil. Namun mereka besar di lingkungan yang berbeda. Jamie yang anak pendeta selalu tampil manis dan baik. Ia pintar dan kreatif di sekolah. Berbakat pula dalam seni peran dan tarik suara. Tapi seperti khasnya cerita anak muda, kelompok pintar selalu berseberangan dengan kelompok bengal. Apalagi jika si pintar berpenampilan kuno seperti Jamie. Bahkan sekadar sweater yang dikenakan pun bisa menjadi bahan olok-olok yang berkepanjangan.

Begitulah. Setelah beberapa persinggungan yang dibarengi dengan potongan-potongan obrolan di antara mereka, persinggungan kembali terjadi di kelas teater. Secara kebetulan juga Landon yang baru bergabung langsung mendapatkan peran utama, beradu akting dengan Jamie sebagai peran utama perempuan. Dunia yang sama sekali tak dikenalinya itu sungguh menyulitkan Landon. Pada akhirnya dia menyerah, minta tolong Jamie untuk membantunya dalam mengingat naskah. Dalam prosesnya Jamie marah ketika mendapati dirinya hanya semacam ‘secret friend‘ buat Landon. Permintaan tolongnya pun harus ditutupi dari kelompoknya.

Ditolak Jamie, Landon berusaha keras belajar sendiri. Saat di panggung ternyata Landon bisa tampil memikat. Tak cuma itu, ia melakukan modifikasi teks. Tak ayal lagi, Landon jatuh cinta! Pemuda gaul itu jatuh cinta pada Jamie, si pemudi kolot. Dan penghayatannya mewujud dalam ciuman yang tidak ada dalam naskah drama yang mereka mainkan.

Landon mendapat sambutan hangat. Dari penonton, dari ibunya, guru, teman-teman, dan ayahnya yang sudah lama pisah dari ibunya. What next?! Yup, kisah dua anak muda ini pun berlanjut. Landon yang awalnya sembunyi dari kelompoknya, akhirnya menunjukkan sikap. Ia tak lagi ragu untuk tampil bersama Jamie di depan publik. Bahkan ketika mantan kekasihnya, Belinda, membuat pencitraan buruk terhadap Jamie, ia tak segan-segan membela.

Tapi kawan, kisah harus berakhir. Jamie ternyata mengidap leukimia. Di sinilah pembuktian cinta dilakukan. Landon yang awalnya tidak terima dengan informasi penyakit Jamie, akhirnya berusaha menerima. Ia mulai percaya dengan istilah ‘nothing’s coincidence‘. Segala sesuatu terjadi dengan alasan. Berkat Jamie-lah ia mengalami transformasi. Lalu ia pun mulai menunjukkan ketulusan cintanya pada Jamie. Menemaninya dan memberinya kejutan-kejutan yang menyenangkan. Termasuk melamarnya dan mewujudkan mimpi Jamie untuk menikah di kapel tempat orang tuanya melakukan upacara yang sama. Hingga saatnya Jamie harus berpulang.

Sesungguhnya ini kisah yang klise. Kisah cinta tulus yang harus diakhiri dengan kematian. Tragis tapi manis. Tampaknya ini memang kekhasan film-film  adaptasi novel Nicholas Sparks. A Walk To Remember merupakan salah satu adaptasi dari novelnya penulis Amerika tersebut. Yang lainnya, Message in a Bottle (1999), The Notebook (2004), Nights in Rodanthe (2008), dan Dear John (2010). Sepakat dengan istilah nothing’s coincidence. Tapi beberapa peristiwa kebetulan di sini terasa dipaksakan. Meski demikian, film ini masih lumayan menarik sebagai sebuah hiburan. Para pemainnya juga berperan dengan wajar meski tak bisa dibilang kuat dalam karakter. Chemistry antara Shane West dan Mandy Moore cukup terbangun. Tapi kalau diminta membandingkan, Amanda Seyfried tampil lebih berkarakter di film Dear John, dibandingkan Mandy yang tampil datar di film ini. Manis sih..tapi datar 😛 Sebaliknya, dibandingkan pemeran utama film yang sama, Tatum Channing, di film ini Shane West tampil lebih baik. Bahkan juuuuaaaauuuuh lebih baik dibandingkan Pattinson dalam Bel Ami (dan sampai sekarang tak habis pikir, apa yang membuat para gadis muda tergila-gila pada pemeran Twilight tersebut 😀 )

Film yang tayang tahun 2002 ini juga menuai banyak kritikan. Tapi lepas dari semua komentar negatif, A Walk To Remember menjadi box office dengan total perolehan $47,494,916 (dari budget $11 juta).

(Dan lepas dari kritikku juga, Only Hope sempat membuat air mataku meleleh.. Ngaku. Jujur-kacang ijo 🙂 )

Sutradara: Adam Shankman
Produser: Denise Di Novi, Hunt Lowry
Penulis: Nicholas Sparks (novel), Karen Janszen (naskah)
Pemain: Shane West, Mandy Moore, Peter Coyote, Daryl Hannah, Lauren German, Clayne Crawford, Al Thompson, Paz de la Huerta, Jonathan Parks Jordan
Musik: Mervyn Warren
Sinematografi: Julio Macat
Durasi: 102 menit

Nice quote:
“Love is always patient and kind. it is never jealous. Love is never boastful or conceited. It is never rude or selfish. It does not take offense and is not resentful”
cat love

Iklan

4 pemikiran pada “A Walk To Remember, kisah tragis manis…

  1. Film yang -sebetulnya judulnya bagus-, cuma, sekali saja nontonnya. Dan yang sekali itu, perlu juga diulangi. Untuk menimbang ulang.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s