Lust for Life: kisah Van Gogh, si jenius yang tak akan pernah mati

Akhirnya beberapa hari lalu aku berhasil menuntaskan buku ini. Setelah tertunda cukup lama karena pekerjaan dan libur panjang akhir tahun di kampung halaman. Saat terbit pada Juli tahun lalu, aku berharap betul bisa memiliki buku ini. Kisah Van Gogh yang mengiris telinganya sangat melegenda. Ada apa di balik itu? Sedikit tergambar memang dari barisan bait lagu Don McLean (Vincent – Starry Starry Night). Tapi itu pun tak memberikan deskripsi yang menyeluruh. So, menyenangkan sekali ketika pada Oktober lalu seorang kawan mengulurkan buku ini. Free. (ketauan suka gratisan ūüėÄ )

dhenok - kopi dan lust for lifeNo great genius has ever existed without some touch of madness. (Aristotle)

Don McLean pernah memberiku imajinasi tentang kepedihan hidup yang dialami Vincent. Tentang kesunyian dan kegilaan di dalamnya. Tapi melodi yang membius dari penulis lagu dan penyanyi Amerika itu membuatku abai pada inti cerita dari lagu tersebut. Kenyataannya, kehidupan Vincent lebih murung dari yang kubayangkan sebelumnya.

Dibesarkan oleh keluarga terpandang, Vincent muda menjalani kehidupan yang normal. Karirnya sebagai tenaga penjualan di galeri seni Goupil, London, Inggris terbilang lancar. Meski tidak terlalu menyukai pekerjaannya, tapi setidaknya ia bisa memberikan masukan yang bagus soal lukisan kepada calon pembelinya. Rutinitas itu dijalaninya setiap hari dengan tidak terlalu banyak keluhan. Hingga suatu ketika ia menyadari kalau telah jatuh cinta pada Ursula, anak pengurus rumah ia tinggal. Perempuan itu menolaknya. Penolakan atas kasmaran yang kali pertama dialaminya itu membuatnya terguncang. Ia merasa terhina dan tercampakkan. Tiba-tiba saja ketidaknyamanan di alam bawah sadarnya bermunculan. Ia mulai berontak terhadap aturan-aturan tempat kerjanya. Terhadap kepalsuan para pembelinya, orang-orang kaya yang membeli lukisan sebagai prestis semata dan bukan karena mengerti seni. Ia merasa harus pergi. Dan ia memutuskan kembali ke Belanda.

Di Belanda, atas rekomendasi orang tuanya, Vincent masuk sekolah pendeta. Ia tak butuh tidur, tak butuh cinta, simpati, atau kesenangan. Ia hanya ingin menjadi pelayan Tuhan. Namun rupanya iapun tak cocok dengan pendidikan formal. Hingga kemudian setelah melewati proses yang berbelit-belit, ia menawarkan diri untuk ‘melayani’ di kawasan tambang batubara, Borinage. Hal ideal yang selama ini di benaknya dan berlaku pada pengalaman empirisnya terhadap kehidupan menggereja, sama sekali berbeda dengan yang didapatinya dari lingkungan miskin tersebut. Barangkali ada kemiripan, ketika mereka datang ke gereja dengan patuh. Dan mematuhi pula apapun yang disampaikan sang pendeta. Mereka datang ke gereja seolah perjumpaan dengan Tuhan adalah satu-satunya hiburan.

Tapi ada yang salah di sini, katanya. Nuraninya tergugah. Mereka bukan butuh ayat-ayat kitab suci. Mereka butuh kehidupan yang layak. Vincent pun terjun langsung. Ikut melihat dari dekat kondisi tambang. Pindah ke rumah sewa semata untuk merasakan kehidupan kaum papa. Keadaan semakin mengenaskan ketika bencana terjadi. Kawasan pertambangan mengalami longsor. Korban berjatuhan. Vincent membantu sejauh yang ia mampu. Bahkan bisa dikatakan melebihi batas kemampuannya. Ia pun sakit. Ambruk. Adiknya, Theo yang datang mengunjungi kaget bukan kepalang. Ia berniat membawa Vincent. Pada akhirnya Vincent mengiyakan. Padahal sebelumnya ia bersikeras menolak pada kelompok penginjilan tempat ia bernaung yang menyebutnya memalukan karena keterlibatannya dalam kehidupan masyarakat tambang tersebut. Bukan semata karena menyayangi adiknya, melainkan juga karena dia menyadari apa yang diinginkannya dalam hidupnya: melukis! Ya, tampaknya Borinage merupakan salah satu fase penting dalam kehidupan Vincent. Borinage adalah tempat ia tersadar untuk menolong orang miskin dengan sepenuh hatinya. Di Borinage pula ia mengenali passion-nya dalam melukis.

Kembali ke kota tidak menjadikan segala sesuatunya mudah. Kehidupan Vincent disokong sepenuhnya oleh Theo. Dimana pun ia tinggal, apapun yang ia butuhkan, Theo senantiasa mencukupi. Bahkan saat Vincent berada dalam kondisi paling menyebalkan pun, Theo selalu mendampinginya. Bertahun-tahun. Hingga ia pun mulai mempertanyakan soal kemampuannya melukis karena tak kunjung bisa mensejajarkan diri dengan para pelukis yang karya-karyanya sudah dipajang di galeri. Theo pun tak berdiam diri. Ia mengenalkan Vincent pada sejumlah pelukis, di antaranya yang kemudian menjadi karibnya, Paul Gauguin. Pada masa itu Vincent mulai mengenal lukisan dari pelukis-pelukis tenar yang telah mendahuluinya, seperti Monet, Manet, Sisley, Pissaro, Degas, Guillaumin, Delacroix. Dan dari sekian perjumpaan dengan kawan-kawan pelukisnya, ia juga makin paham tentang pengetahuan dan ragam teknik melukis. Misalnya Cezanne melukis dengan mata, Lautrec melukis dengan amarahnya, Seurat melukis dengan otaknya, Rousseau melukis dengan imajinasinya, Gauguin melukis dengan hasrat seksualnya, dan ia sendiri melukis dengan hatinya.

Tapi tragedi demi tragedi terus saja mengikutinya. Bukan hanya di Borinage, tapi juga kota-kota lain yang disinggahinya. Masyarakat menyebutnya aneh bahkan gila. Pun kehidupan percintaannya yang kerap gagal. Namun di antara kegelisahan yang terus berkutat dalam jiwanya, Vincent terus melukis. Merekam keindahan yang tertangkap penglihatannya, lalu menuangkan jejak-jejak ingatan itu pada kanvas.

Arles menjadi kota terakhir persinggahan Vincent. Tempat yang membuatnya begitu bersemangat dalam perjumpaannya dengan matahari emas yang menyilaukan. Tempat yang sekaligus juga menggali kegilaannya. Seperti diingatkan seorang wartawan yang dijumpainya pada kali pertama tiba di kota itu: Arles adalah kota epileptoid, yang sewaktu-waktu bisa meledakkan warganya dalam kegilaan. Di kota ini juga ia menyerahkan irisan kupingnya kepada Rachel, gadis muda penghuni rumah bordil Maison de Tolerance di Rue des Ricolettes. Aneka peristiwa mengguncangkan yang ia alami di kota ini mengantarkannya ke rumah sakit jiwa. Tapi justru di tempat inilah, di tengah orang-orang yang mengalami kegilaan yang sesungguh-sungguhnya, Vincent bisa menghayati dirinya. Termasuk memahami saat-saat serangan jiwanya muncul.

Pada akhirnya Vincent tiba pada satu titik. Ketika ia merasa telah melukis segala yang ingin ia lukis. Gairah kreatifnya tak lagi bisa tergali. Ia merasa bagian terbaiknya telah mati. Lalu pada sebuah siang yang terik, ia menengadahkan kepala menantang matahari. Menekan sepucuk revolver ke pinggangnya. Kematian menjemputnya tak lama setelah peristiwa itu. Vincent van Gogh meninggal dunia dalam usia 37 tahun. Ia belum sempat menyaksikan apresiasi orang
terhadap karya-karyanya.

Lust for Life ditulis oleh penulis biografis, Irving Stone. Ini merupakan karya pertama sekaligus masterpiece-nya. Irving menulis novelnya dengan mengambil sumber tiga jilid surat Vincent van Gogh untuk adik semata wayangnya, Theo. Bagian terbesar materinya digali dari perjalanan Van Gogh ke Belanda, Belgia, dan Prancis. Selain teliti menggali data, Irving Stone juga piawai dalam merangkaikannya dengan kalimat dan narasi yang imajinatif. Penuturannya pun mengalir dan enak dibaca. Tentu saja ini tak lepas dari peran penerjemah tim Serambi yang menerbitkan Lust for Life edisi Bahasa Indonesia. Dari novel ini kita diajak menyelami kehidupan pribadi Van Gogh. Tentang jiwa sepi yang diriuhi gelisah.

Novel ini sempat ditolak 16 penerbit di Amerika Serikat, hingga berhasil tembus dan menjadi buku laris yang mendapat sambutan hangat para kritikus dan penikmat buku fiksi. Lust for Life diterbitkan pertama kali pada 1934. Tahun 1956 MGM merilis filmnya dengan judul yang sama. Dua pemeran utamanya Kirk Douglas (Vincent) dan Anthony Quinn (Gauguin). Sedangkan sang adik tercinta, Theo diperankan James Donald.

Judul          : Lust for Life
Penulis       : Irving Stone
Penerbit     : Serambi Ilmu Semesta
Cetak          : Juli 2012
Tebal buku: 574 halaman

dhenok - miku bobo di kasur ibu

Iklan

3 pemikiran pada “Lust for Life: kisah Van Gogh, si jenius yang tak akan pernah mati

  1. Hai, apik. Kebetulan beberapa minggu terakhir entah mengapa ngerumpi beberapa kali dengan beberapa teman tentang Van Gogh n lukisan-lukisannya. Kok nyambung to. Di Gramedia Lampung belum kulihat buku ini. Atau mau kirim pinjam ke aku?

  2. Pohon sipres.
    Kafe tua
    Di ujung jalan
    Sepi. Sepi jua

    Langit berombak
    Bulan di sana
    Sepi. Sepi namanya.

    oda pada van gogh
    lirik : taufiq ismail
    dinyanyikan oleh : bimbo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s