Banjir, Kucing, dan Paradise of the Blind

dhenok - banjir kucing 7

(Catatan Rabu kemarin)

Selasa malam. Belum genap jam sembilan. Memasuki jalan menuju perumahan aku tinggal, ada yang tak biasa. Pantulan sedikit bintang membayang pada permukaan jalan.  Ya, jalanan dipenuhi air. Hujan belum lagi turun namun jalanan tak luput dari banjir kiriman. Inilah yang selalu dialami warga Bandung selatan, mendapat limpahan dari tidak tertampungnya air di kawasan utara. Buruknya drainase, tanah yang sudah kehabisan pohon penyerap, dan kebiasaan masyarakat membuang sampah semaunya.

Sejumlah pengguna jalan lain bersiap untuk mencebur ke area banjir. Masing-masing menjaga kecepatan, agar tak saling memberikan gelombang air yang mengganggu. Beberapa seruan terdengar. Bagaimanapun tingginya air dan sentakan mesin motor menimbulkan cipratan. Kuangkat kakiku sejajar menjauhi  pijakan kaki motor. Membutuhkan keseimbangan ekstra untuk bisa melewati jalanan berair yang panjangnya hampir 50 meter itu. Serasa bermotor di sungai dangkal. Ini medan tersulit. Masih ada 2 kilometer lagi menuju rumah, tapi genangan air tak sesulit dan sejauh jalur yang baru kulewati.

Tiba di rumah berbarengan dengan hujan yang turun. Pelan hingga deras. Deras dan tak berkesudahan sepanjang malam. Firasatku mengatakan akan banjir. Dan benar adanya. Pada subuh terjaga, kudapati air mulai merayapi halaman rumahku. Kuhitung meong satu per satu. Lengkap. Kupastikan tak ada yang meninggalkan rumah. Hujan semalaman membuat mereka tak berkutik. Kecuali Aka yang sudah lebih seminggu tidak pulang. (Ah, aku belum berani bikin pernyataan apa-apa tentang dia. Masih selalu berharap dia baik2 saja di luar sana, entah dimana). Semuanya bergelung di tempat nyamannya masing-masing.

Pada pagi hari, air bukannya surut malah naik. Air yang subuh tadi baru sebatas pagar, kali ini sudah memasuki setengah halaman. Matahari yang mulai menghangatkan hari yang dingin, tak terlalu berdampak. Pada tengah hari air tinggal satu setengah meter lagi mendekati teras. Pada bagian belakang rumah lebih mengkhawatirkan. Halaman tempat bermain anak-anak sama sekali sudah dipenuhi air. Bahkan sudah memasuki area lantai dapur. Aku hanya berharap air tak sampai merendam pompa air. Sudah tak ada lagi ekstra budget untuk perbaikan pompa.

Ini kali pertama aku mengalami bannjir di sini. Sembilan tahun menempati rumah ini belum pernah berhadapan langsung dengan banjir. Tapi ini bukan pengalaman pertamaku menghadapi banjir. Bertahun lalu saat masih di bangku SMA, banjir bandang menyerang desa kami. Itu merupakan banjir kedua, sejauh yang kuingat. Banjir pertama terjadi ketika aku masih kelas 1 SD. Banjir kedua itu terjadi 11 tahun kemudian. Tidak ada yang menduga. Tapi akhirnya kekagetan itu hanya sementara. Tak lama setelah meninggalkan kota kelahiranku, banjir tak lagi mengagetkan karena menjadi langganan hampir tiap tahun. Kota kecil kami menjadi demikian sering disesaki air yang memenuhi segenap penjuru. Di beberapa desa bahkan ditemukan korban meninggal dunia. Kota kecil yang nyaris tak dikenal ini juga tiba-tiba menjadi sasaran sumbangan bencana. Tak jauh-jauh: mi instan. Pada masa kecilku mi instan merupakan barang yang agak langka. Tapi bencana menjadikannya makanan yang cukup familiar di kalangan warga. Menggantikan sumber-sumber makanan sehat yang mustinya masih mudah didapatkan di desa. Tentu saja bukan hanya bencana yang menjadi penyebab. Banyak hal. Terlalu banyak hingga sulit untuk menunjuk si biang keladi. Jangankan penyebab yang banyak, biang keladi yang jelas bentuknya saja bisa lolos dari jeratan hukum. Konon sih sempat mendekam di tahanan. Tapi konon pula hanya semacam formalitas. Sementara timbunan kekayaan hasil illegal logging tak tersentuh. Banjir datang dan pergi. Dan orang seperti dibuat lupa tentang siapa pembuat dosa. Masyarakat kita memang terbiasa menjadi tabah dan pemaaf. Atau pelupa? Entahlah..

Dan sekarang aku menghadapi kemungkinan banjir sendiri. Sedikit pengalaman dan pengetahuan selama menjadi voluntir lumayan tak membuat panik. Hal pertama yang kulakukan adalah menemukan tempat yang cukup tinggi dan longgar untuk menempatkan anak-anak meong ketika air makin naik. Kosongkan. Siapkan beberapa koran bekas dan keset untuk alas. Beberapa alat dan wadah yang kemungkinan akan kubutuhkan kuletakkan di tempat yang mudah terjangkau. Bahan-bahan makanan sudah siap ambil. Pun makanan anak-anak meong. Obat-obatan termasuk yang wajib kusiapkan. Barang-barang yang letaknya di bawah kupindahkan ke area yang lebih tinggi. Sepatu ditumpuk di rak tertinggi. Buku-buku di lapis paling bawah dinaikkan setingkat di atasnya. Pakaian di lemari pun demikian. Beruntunglah rumahku tipe ‘sungguh sangat sederhana sekali’ sehingga tak terlalu banyak yang perlu diatur. Tapi bagaimanapun peristiwa ini mengingatkanku tentang ‘sadar bencana’. Bencana tak mudah diduga datangnya. Maka yang bisa dilakukan adalah dengan menyiapkan antisipasinya. Pengurangan resiko bencana.

Nah, kawan..seberapa besarkah rumahmu? Berapa banyak akses menuju keluar ketika peristiwa kebencanaan terjadi? Saat ini fasilitas umum sudah melengkapi diri dengan berbagai petunjuk evakuasi jika terjadi bencana. Itu bagian dari upaya pengurangan resiko bencana. Belum semua memang. Pernah kujumpai sebuah sekolah swasta yang cukup terkenal, bangunan bagus tapi tak memadai dari sudut pengurangan resiko bencana. Tangga-tangga yang sempit. Demikian pula pintunya. Tak ada petunjuk jalur evakuasi. Sementara jumlah siswa besar. Bayangkan jika terjadi gempa besar, kepanikan apa yang bakal muncul di antara para bocah itu? Jika pada banyak fasilitas umum masih banyak yang belum sadar bencana, apalagi kawasan rumah tinggal? Padahal sadar bencana bisa mengurangi banyak dampak jika bencana betul-betul terjadi.

Begitulah.. aku berusaha untuk menyiapkan segala sesuatunya. Selesai. Air di luar mili demi mili merangsek mendekati teras rumah. Tak perlu panik. Sedari pagi aku minta ijin tidak masuk kerja. Jalur yang semalam kulewati sudah pasti terputus. Setidaknya untuk pengguna sepeda motor. Beberapa tetangga tetap ngantor seperti biasa. Mereka menggunakan mobil dan motor trail. Motor biasa harus memilih jalan memutar yang lumayan jauh. Tapi beberapa orang tampaknya memutuskan hal yang sama denganku, bertahan di rumah. Selain kesulitan akses juga sebagai  antisipasi kalau air terus meninggi.

Kugelar tikar dan kasur tipis di lantai. Kumulai membaca: Paradise of the Blind (Sorga bagi si Buta) karya Duong Thu Huong. Ini novel yang baru kubeli beberapa hari lalu dari sebuah toko online. Cukup murah, 30 ribu. Sebetulnya banyak buku lain yang masih belum tuntas kubaca atau malah sama sekali belum kusentuh. Tapi, begitu saja, aku ingin baca buku ini. Paradise of the Blind terbit pada tahun 1988, setahun setelah Partai Komunis Vietnam menyerukan kepada para penulis untuk lebih luwes dalam peran mereka sebagai kontrol sosial lewat tulisan. Sebelumnya, kekakuan gaya formal Marxis dipaksakan kepada mereka. Duong Thu Huan merupakan salah satu penulis yang memelopori kritik terbuka melalui tulisan. Duong adalah sukarelawan perempuan pertama yang dikirim ke front bagian utara ketika Cina melancarkan serangan ke Vietnam tahun 1979. Tapi ia yang awalnya adalah pemimpin brigade Pemuda Komunis Vietnam ini kemudian banyak menemukan hal yang mengecewakan dalam Partai Komunis Vietnam. Sejak itu, ia bukan hanya menulis tapi juga sebagai orator karismatik dan tak kenal takut dalam menyampaikan kebobrokan politik dan mental Vietnam. Dia menjadi pembicara yang sangat vokal dalam perdebatan publik yang menyerukan adanya reformasi politik demokrasi dan penghargaan terhadap HAM.

Duong berhasil menelorkan sejumlah buku. Paradise of the Blind adalah novelnya yang keempat dan karya keempat pula yang dibreidel dan ditarik dari peredarannya oleh pemerintah Vietnam. Sebagai saksi mata dari tragedi yang terjadi di Vietnam selama bertahun-tahun, Duong menyuguhi kita muramnya kondisi masyarakat di tengah reformasi agraria yang berlangsung di Vietnam pada masa itu. Kita, di Indonesia, mungkin lebih banyak mengenal Vietnam dari film-film Hollywood yang menunjukkan kegagalan Amerika dalam keterlibatannya di tanah bekas koloni Perancis tersebut. Sebaliknya, buku ini memberi kita kisah orang-orang Vietnam yang berjuang melawan hinaan kemiskinan dan penindasan politik. Namun di antara penderitaan yang terpaparkan, Duong melukiskan dengan indah tanah Vietnam yang cantik. Lengkap dengan detil budayanya yang eksotik. Ditambah lagi alih bahasa oleh Sapardi Djoko Damono yang tak diragukan lagi soal pemilihan diksinya.

Kututup sebentar catatan Duong. Hujan memukul-mukul daun jendela yang terbuka. Hei..hujan, kau tau aku menyukaimu. Tapi sungguh, jangan sekarang! Air di halaman memang tak bertambah, tapi belum juga surut. Bertahan. Entah jika hujan terus menghajar hingga malam nanti. Kutengok anak-anak meongku. Semuanya terlelap dengan damai sejahtera (lihat: foto anak-anak meong saat banjir di luar). Pagi setelah sarapan biasanya mereka kubiarkan bermain di luar. Siangnya disuruh masuk. Yang tak tahan di dalam rumah biasanya menyelinap lewat atap (dan bikin pusing karena suka jebolin eternit, rumah sendiri maupun tetangga). Begitupun pada pagi banjir kubiarkan mereka bermain di halaman. Mengenali banjir. Dari bayi Shachou sampai tante Jov penasaran dengan air yang tiba-tiba memenuhi halaman dan jalanan tempat mereka biasa bermain. Tapi keheranan itu pun segera berganti panik saat gelombang air datang karena ada kendaraan yang lewat. Haha!

Miku dan Mimi yang paling banyak berkeliaran di luar, mondar-mandir kaya setrikaan. Tapi semua akses tertutup air. Akhirnya mereka menyerah juga. Masuk rumah, mlungker. Naga meong, seperti biasa, selalu menunjukkan kepanikan terhadap gejala alam. Waktu hujan turun dengan deras, atau angin bergerak kencang, atau petir yang tak berhenti-berhenti, dia akan bolak-balik melihat keluar. Seperti mencari tahu apa yang akan terjadi berikutnya. Selalu begitu. Entah apa yang ada di pikirannya 😛 Mungkin panik. Tapi buatku tetap lucu. Dan ganteng 🙂

dhenok - naga bengong

Ya ya ya…anak-anak meong menikmati keterkepungan banjir sepanjang hari ini dengan cara mereka sendiri. Mungkin mereka tak hirau dengan apa yang kusiapkan untuk mereka. Tapi apa itu jadi masalah? Tentu tidak. Melihat mereka tak rewel, bisa menikmati suasana dalam keterbatasan, bisa lelap dalam tidur, sudah merupakan kegembiraan tersendiri buatku.

***

Hari sudah malam ketika aku melanjutkan kembali catatan Duong. Hujan turun lagi. Kubuat teh manis untuk sekedar menghangatkan badan. Sehari ini aku sama sekali tak bisa menikmati kopi. Entah kenapa. Sama sekali tak enak. Mungkin terpengaruhi keruh air di halaman rumah. Tapi teh manis cukup berhasil menemaniku. Bersama Naga, Mimi, dan bayi Shachou, aku kembali menelusuri jalan-jalan sumpek di Vietnam. Menikmati berbagai jenis makanan yang menggiurkan. Naik kereta api di antara dingin salju Moskow. Menghayati kisah perempuan muda yang dalam keterbatasannya terus berusaha melawan. Lalu, tepat pada pergantian hari kantuk menyerangku. Kututup buku di halaman 257. Menanggalkan kecemasan dan menggantinya dengan sebuah harap: hujan berhenti dan genangan air menyusut.

(Kelak aku terjaga pada pagi hari dengan halaman dan jalan yang sudah terbebas dari genangan.)

Foto-foto anak-anak meong lainnya 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s