Ikebana, rangkaian bunga ala Jepang

Mengenal bahasa dan budaya Jepang: POST 14

jlmc - ikebana

Kata ikebana merupakan gabungan dari kata ‘ike’ yang artinya ‘hidup’ atau ‘tumbuh’ dan kata ‘hana/ bana’ yang berarti ‘bunga’. Secara populer ikebana diterjemahkan sebagai ‘seni merangkai bunga’.

Rangkaian bunga ikebana tidak hanya tersusun atas bunga saja, tapi juga daun, buah, rumput, dan ranting. Bahkan plastik, kaca, dan logam juga digunakan dalam ikebana kontemporer. Semua unsur tersebut dirangkai sedemikian rupa dengan mempertimbangkan ukuran, tekstur, volume, warna, jambangan, tempat, dan waktu merangkai bunga.

Dalam sejarahnya ikebana adalah rangkaian bunga yang dipersembahkan kepada Budha dan roh leluhur. Saat itu, rangkaian ikebana masih sangat sederhana, hanya terdiri dari 3 tangkai bunga yang ditancapkan secara simetris. Tangkai utama yang paling panjang sebagai pusat, sedangkan 2 tangkai lainnya yang lebih pendek menjadi pendamping kiri-kanannya. Ikebana baru mulai berkembang pada awal abad 17. Rangkaian bunga yang awalnya untuk persembahan tersebut berkembang menjadi gaya rikka (bunga berdiri) yang diciptakan oleh seorang biksu Budha dari Sekolah Ikenobo. Tangkai utama pada gaya ini melambangkan surga atau kebenaran, sedangkan 2 tangkai lainnya melambangkan alam (kehidupan). Berikutnya, gaya-gaya yang lain pun mulai bermunculan, masing-masing dengan kekhasan yang berkembang seturut dengan situasi kondisi di negeri tersebut. Namun gaya-gaya tersebut masih digolongkan dalam ikebana tradisional.

Pasca Restorasi Meiji tahun 1868, semua kesenian yang berkembang di Jepang mangalami stagnasi. Kebudayaan barat begitu memukau masyarakat Jepang sehingga kesenian dan kebudayaan tradisional Jepang sedikit terlupakan. Termasuk ikebana. Untungnya hal itu tak berlangsung lama. Mulai muncullah aktivitas terkait ikebana, diawali dengan gaya baru: moribana (tumpukan bunga). Kemunculan gaya moribana yang dikembangkan oleh Ohara Unshin membangkitkan kembali minat bangsa Jepang pada ikebana. Tak sebatas gaya yang sudah dikenal, aneka gaya kontemporer juga mulai dikembangkan. Hingga kini.

sumber: j-cul.com

Mau mengenal bahasa dan budaya jepang lebih jauh? Gabung yuk! New_Picture[1]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s