Batik Djawa Hokokai (Selamat Hari Batik Nasional 2013)

Mengenal bahasa dan budaya Jepang: POST 86

Hari ini Indonesia merayakan 4 tahun ditetapkannya Batik sebagai warisan budaya Indonesia oleh UNESCO. Tanggal itu lantas diperingati sebagai Hari Batik Nasional.
jlmc - batik hokokaiAda satu cerita di masa lalu terkait batik dan Jepang. Seperti kita tahu, batik menyerap unsur-unsur baru yang berada di sekitar masyarakat. Hal ini utamanya terjadi pada batik-batik pesisir. Misalnya Batik Belanda yang menjadi istilah khusus untuk menggambarkan pengaruh  orang-orang Belanda di Jawa. Ada batik dengan motif burung dan bunga khas Cina karena pengaruh pada pedagang Cina yang datang ke Nusantara. Begitupun dengan pengaruh keberadaan Jepang di Indonesia.

Pada masa pendudukan Jepang di Indonesia muncul motif batik yang dinamakan Batik Djawa Hokokai. Nama ini mengikuti nama organisasi propaganda Jepang yang ada pada masa itu. Iwan Tirta dalam bukunya Batik, A Play of Light and Shades, menyebutkan para juragan batik memperkenalkan batik Jawa Hokokai sebagai tanda “penyesuaian” kepada penguasa baru supaya mereka mendapat tempat. Sedangkan sumber lain menyebutkan perkumpulan Hokokai inilah yang semula memesan batik pada pengrajin batik dengan ragam hias tertentu yang kemudian dikenal dengan nama Batik Djawa Hokokai. Mereka memesan batik untuk memberikan kenang-kenangan bagi orang-orang yang dianggap berjasa.

Batik Djawa Hokokai memiliki detil yang penuh. Di dalamnya ada gabungan ciri pagi-sore, motif terang bulan, dan tanahan Semarangan. Selain itu ada motif binatang, misalnya kupu dan burung yang banyak dipengaruhi budaya Cina. Pada sisi warna, Batik Djawa Hokokai banyak menyesuaikan dengan warna-warna yang digunakan pada kimono Jepang seperti kuning, biru turqoise, merah, merah muda, lembayung, dan warna-warna cerah lainnya. Hal menarik lainnya dari Batik Djawa Hokokai adalah adanya susimoyo atau ragam hias pada kedua pojok menyambung ke  sisi vertikal dan sisi horizontalnya, mirip dengan kimono Jepang.

Batik Djawa Hokokai hanya diproduksi dalam waktu yang sangat singkat, tahun 1942-1945. Kini, bentuk repro Batik Djawa Hokokai memang masih bisa ditemukan di pasaran. Namun dengan harga relatif mahal, karena tingginya seni dan teknik pembuatannya. Selebihnya, keberadaan batik ini hanya ada di tangan kolektor dan museum.

berbagai sumber

 

Mau mengenal lebih dekat bahasa dan budaya Jepang? Gabung yuk! New_Picture[1]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s