Melihat satwa langka dari dekat

Seminggu lalu (Sabtu, 2 November 2013) ada ajakan jalan-jalan dari Grup Sonora-Raka Bandung ke Taman Safari, Cisarua, Bogor. Bukan agenda jalan-jalan seperti yang kuimpikan: menuju wilayah yang belum kukenal, bercakap dengan penghuninya; membaca gerak alam dan bersentuhan dengan realita yang sebelumnya sebatas imaji. Ya, mimpi yang tampaknya agak sulit terealisasi hari-hari ini. Maka, jalan-jalan yang sebetulnya bukan seperti yang kuimpikan ini pun sudah lebih dari cukup.

Perjalanan menggunakan bis berjalan lancar meski terasa sekali lamanya waktu. Berangkat pukul 7 pagi, sampai lokasi lewat dari pukul 12 siang. Menuju lokasi wisata pemandu menceritakan tentang satwa yang ada di Taman Safari. Taman yang berada di kawasan Puncak ini dibangun pada tahun 1980 dari sebuah perkebunan teh tak produktif seluas 50 hektar. Taman ini ditetapkan sebagai Obyek Wisata Nasional pada masa Soesilo Soedarman menjabat sebagai Menteri Pariwisata Pos dan Telekomunikasi. Tahun 1990 taman ini diresmikan menjadi Pusat Penangkaran Satwa Langka di Indonesia oleh Menteri Kehutanan pada masa itu. Kini, luas Taman Safari telah berkembang menjadi 168 hektar dan dilengkapi dengan berbagai sarana edukasi dan rekreasi.

Pak Yuyu, sang pemandu, memamparkan cerita dari tiap satwa yang terlewati kendaraan. Saat ini Taman Safari memiliki sekitar 2.500 koleksi satwa dari hampir seluruh penjuru dunia termasuk satwa langka, seperti harimau benggala, jerapah, singa, orang utan, gajah, anoa, komodo, dll. Setiap kali melihat satwa yang aneh, lucu, gagah, para peserta wisata riuh. Tak jarang dibarengi dengan tepuk tangan.

Pada jam makan siang bis sudah tiba di area wisata. Sebanyak 53 orang (termasuk di antaranya bocah dan bayi) berpencar ke seantero taman untuk menemukan tempat makan yang nyaman. Setelahnya mencari wahana bermain yang diminati hingga jam nonton bersama pertunjukan Cowboy. Pertunjukan yang cukup menghibur. Adegan kekerasan agak menggangguku terutama membayangkan banyaknya penonton anak-anak. Tapi kejutan semburan air yang mengagetkan penonton cukup menarik. Tentunya yang paling menyenangkan buatku adalah menyaksikan binatang-binatang yang dilibatkan dalam cerita yang mereka garap. Dari merpati yang kali pertama dilepas, ayam, domba, elang, hingga tikus putih dan kucing. Haha…bisanya aku senang bercampur haru melihat permainan para satwa ini (dan bukan adegan cowboy-nya).

Pertunjukan pun usai. Bersiap pulang. Jam bermain yang terbilang singkat dibandingkan panjangnya perjalanan. Bahkan karena mepetnya waktu, makan malam pun terpaksa dilakukan di dalam bis. Pukul 6 petang rombongan meninggalkan lokasi wisata.

Trimakasih, kawan-kawan Sonora-Raka yang sudah mengajakku bergembira bersama 🙂
taman safari sonora-rakaTerakhir aku mengunjungi Taman Safari adalah 14 tahun lalu, bersama kawan-kawan Radio Mara Bandung. Aku tak ingat persis apa yang pernah kucatat dari perjalanan itu. Bisajadi kondisinya tak jauh beda. Tapi pastinya aku menemukan kegembiraan baru dari perjalanan ini.

P.S.

Aku sesungguhnya tidak tega melihat bayi-bayi ini dipaksa melayani pengunjung. Mereka terlihat kelelahan dan mengantuk. Tapi aku sangat ingin menyentuhnya. Jadilah berfoto bersama macan tutul dan macan putih. Bayi singanya cukup dari jauh. Bukan karena takut tapi karena penjaganya yang tak ramah. Penjaganya lebih menyeramkan dari singa 😦
singa kecil di taman safariMaaf ya, nak.. mengganggu saat istirahat kalian 🙂
ibu meong dan macan putih @tamansafariibu meong dan macan tutul @tamansafariFoto-foto lainnya

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s