Belajar dari Toyotomi Hideyoshi

Mengenal bahasa dan budaya Jepang: POST 131 jlmc - toyotomi hideyoshiToyotomi Hideyoshi (豊臣 秀吉) adalah salah seorang pemimpin legendaris Jepang abad ke-16. Ia disebut-sebut sebagai tokoh yang telah menyatukan Jepang dan mengakhiri era perang saudara. Namanya diabadikan pada banyak karya, mulai dari biografi, novel, drama, film, bahkan hingga video game yang menceritakan kembali kisahnya atau menampilkan karakternya.

Secara fisik dan latar belakangnya, Hideyoshi bisa dikatakan tak istimewa. Lahir dari keluarga petani miskin, tinggi badan hanya 150 cm dengan berat 50 kg, bertubuh bungkuk-tidak atletis, tidak berpendidikan, serta berwajah lancip dengan warna merah dan keriput. Lord Oda Nobunaga sering memanggilnya Monyet. Namun Hideyoshi memiliki kemauan sekeras baja, otaknya tajam, semangat yang tak kunjung padam, dan wawasan yang mendalam tentang manusia. Inilah yang membuat dia yang tak memiliki kemampuan bela diri berhasil mengungguli para pesaingnya yang kaum bangsawan, dan menjadikannya penguasa seluruh Jepang.

Hal mencolok yang banyak diceritakan adalah kesetiaan Hideyoshi. Seperti ditulis Kitami Masao dalam bukunya ‘The Swordless Samurai’, kunci sukses Hideyoshi adalah: Melayani Dengan Sepenuh Hati.

Dalam melakukan tugasnya sebagai anak buah Lord Nabunaga, Hideyoshi bersetia bahkan pada hal yang paling kecil sekalipun. Diceritakan bagaimana pada sebuah musim dingin yang beku, Hideyoshi menunggu di depan pintu ruang tempat Lord Nabunaga memimpin rapat. Bukan sekedar menunggu, ia juga memeluk erat sandal sang pemimpin Jepang itu, memastikan sandal tersebut tetap hangat saat rapat usai. Heideyoshi juga memilih kamar yang terdekat dengan pintu masuk kastil agar dapat mengetahui persis yang terjadi pada arus keluar masuk kastil. Tempat tidurnya terbuat dari tumpukan jerami yang tersebar di lantai tanah. Ia memang tak bisa benar-benar tidur lelap. Tapi dengan cara itu ia dapat terus memantau dan menangkap pergerakan Lord Nabunaga serta merespon keinginannya dengan sangat cepat. Misalnya ketika suatu pagi terjadi kebakaran di kastil, Hideyoshi telah terbangun jauh sebelum tanda bahaya diserukan. Dia telah secepat mungkin menyiapkan kuda untuk atasannya.

Banyak yang memandang sebelah mata pekerjaan Hideyoshi. Namun pria yang diduga lahir pada 2 Februari 1536 ini tetap melakukan pekerjaannya dengan sepenuh hati dan jiwa. Dia selalu mengatakan tidak ada pekerjaan yang remeh. Menurutnya pekerjaan sekecil apa pun adalah mulia bila dilakukan untuk melayani orang lain. Dan kini, 400 tahun setelah kematiannya, Toyotomi Hideyoshi tetap dikenal sebagai seorang samurai yang mengamalkan semangat Bushido (ajaran yang mengutamakan kesetiaan, tanggung jawab, kerendahan hati, berjiwa ksatria, suka menolong, dan selalu berpegang pada keadilan).

berbagai sumber

Mau mengenal lebih dekat bahasa dan budaya Jepang? Gabung yuk! New_Picture[1]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s