Dia, kucing kecil bernama Herder

Cerita bocah kecil ini berawal dari status Naga di FB yang mengingatkan ibunya untuk tidak asal adopsi tiap kucing piatu yang ditemui. Naga pakai istilah herder, plesetan dari hoader (pengumpul irrasional). Maka para teman Naga yang reaktif dan revolusioner itu lantas menjulukinya si Herder 😀

dhenok - herder2dhenok - herderAku tak ingat persis kapan dia mulai sering ke rumah. Pun kapan persisnya dia mulai menetapkan diri -sendiri- untuk tinggal di rumah. Sebelumnya aku sering menjumpainya nongkrong di bawah pohon, pinggir jalan depan rumah. Dia tak pernah mau didekati. Biasanya kusisihkan makanan buatnya di bawah pohon. Begitu saja, beralas semen. Kalau tidak, piring makan kuletakkan di balik pagar. Suatu kali baru kusadari kalau dia mulai akrab dengan kucing dewasa yang lebih dulu sering berkunjung ke rumah. GG, garong ganteng. Aku sayang sama garong satu ini. Baik, tidak macam-macam, bahkan juga tak pernah ganggu para betina di rumah. Sekali waktu dia keluar masuk rumah tanpa saling ganggu dengan penghuni. Tapi jarang berdiam lama. Paling-paling bergabung makan. Nah, herder kecil ini kemudian sering menguntit kemanapun si GG pergi.

dhenok - garong nemenin ibudhenok - herder n garongSuatu siang aku memperhatikan dengan seksama si GG. Perutnya tampak buncit. Kuberi obat cacing. Makannya masih normal. Tiap hari masih datang untuk minta jatahnya. Hingga kemudian dia tak muncul. Hari pertama..hari kedua..hari ketiga.. Dan seterusnya dia tak pernah datang. Aku coba cari ke blok depan dan belakang. Tidak ketemu. Belakangan muncul informasi tentang FIP. Apakah GG kena FIP? Aku tidak tahu. Aku hanya berharap, kalau dia mati, ada yang menguburkannya dengan layak. Kalau masih hidup, semoga baik-baik saja.

Sejak GG tak pernah datang, herder kecil bermain sendiri. Berkunjung ke rumah diam-diam. Nyempil di antara pepohonan. Masih sama, tak mau kudekati. Bahkan saat dia mulai berani masuk rumah dan berkenalan dengan anak-anak meong, masih juga tak mau kudekati. Jelang akhir tahun dia kelihatan agak kuyu. Saat sedang makan, beberapa kali dia berhasil kupegang. Kuberi obat cacing, dan vitamin berbarengan dengan anak-anak yang lain. Tapi tak sepanjang waktu bisa terpantau. Kadang dia tak pulang ke rumah, entah tidur dimana dan makan apa. Apalagi waktu keluarga berkunjung, rumah terlalu sesak, dan sekaligus aku mengundang tukang untuk kuriak bagian belakang rumah, anak-anak terpaksa diungsikan ke rumah kosong. Dia tak mau bergabung. Setelah beberapa hari sempat menghilang, akhirnya ia datang. Mengeong di depan pintu rumah kosong, lalu bergabung bersama anak-anak Ibu Meong yang lain.

Kelaparan mungkin memaksanya berani. Karena pada kali lain, tak terhitung seringnya, dia mengeong di depan pintu. Tapi langsung ngibrit begitu pintu dibuka. Dan Ibu Meong tak pernah berhasil melakukan pengejaran. Akhirnya bertahan di luar. Bukan berarti tak mau bermanja lho tapinyaaa… Kalau selesai makan, dan dipegang diam-diam untuk diberi vitamin, dia terlihat menikmati dimanjakan. Tak sekali dua kali juga, saat jadwal tidur bersama anak-anak meong pada malam minggu atau malam libur, si Herder juga ikut bergabung. Diam-diam ikut ndusel di kaki ibu. Tapi begitu ibunya bangun dan merhatiin, dia langsung mlipir. Bergeser menjauh. Hehe…padahal kan gapapa, pusss 🙂

Tak semua anak di rumah menerima Herder. Yang paling memusuhinya: Mimi. Tante Jov asal tidak berdekatan, ga jadi soal. Shachoumenik suka-suka dia. Yang lain relatif baik-baik aja sama meong putih-kuning pucat ini. Yang menarik, sejak awal mulai menginap, anak satu ini sudah langsung kenal baik litter. Tertib. Tak seperti anakku yang satu itu 😦

dhenok - herder n familyHerder pendiam. Mukanya melankolis. Agak sulit menebak dia sedang sakit atau tidak. Apalagi makannya kuat. Dia berani nabok Tante Jov demi sepotong tulang ayam. Lalu 2 hari lalu kulihat kaki belakangnya seperti lemas. Aku khawatir dia terkena FIP kering. Apakah dia tertulari mas GG? Aku belum tau. Atau dia terkena penyakit seperti yang dialami si Item? Entahlah. Vet yang kuhubungi belum bisa datang. Bandung hujan terus dan aku tak bisa membawanya ke tempat kerja dalam kondisi ini. Kumasukkan dia ke kandang. Sementara ini kuberi dia antibiotik seperti yang disarankan vet, plus vitamin dan kuning telor-madu. Tadi pagi kutemukan pupnya di alas kandang. Tampaknya dia tak sanggup mengangkat tubuhnya ke litter box. Tapi dia masih mau makan. Herder suka banget ayam. Pagi ini kusuap paksa wf karena ayam sudah habis semalam.

Mohon doa ya… Agar jantan kecilku ini bisa sehat kembali. Agar anak-anak ibu meong yang lain juga tak tertulari. Sehat terus anak-anak dimanapun…

 

P.S.

Kelak (28/01/2014) si Herder berubah nama menjadi Bito. Mengharapkan ada kesembuhan dengan pemberian nama baru.

 

Iklan

13 pemikiran pada “Dia, kucing kecil bernama Herder

  1. itu foto yang paling kanan ditengah mirip boyband mau manggung gayanya. ehehe.

    semoga segera pulih herder. sehat. ceria.

    semoga miong cikoneng dan ibu miong selalu dalam perlindungan tuhan

  2. Semoga herder cepat sembuh ya. Bisa ngumpul lagi dgn sodara2 Naga yg lain. Tinggal di rumah ibu meyong, makan, minum, dan ngejebol eternit.

  3. Turut sedih herder sakit juga 😦 , apakah dia positif fip mbak ? Keadaanya bagaimana sekarang ? Kucingku juga gejalanya spt herder semoga cepat sembuh ya herder 🙂

    • herder udah ga ada. belum bisa bikin cerita lanjutannya. proses kematiannya sangat menyedihkan. aku ga sanggup dan menyerahkan ke vet. vetnya malah nyaranin eutanasia. tp aku ga tega. jd diopname di vet 6 harian. meninggal di vet.

      ah, dia kucing liar yg manis 😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s