Mitos dan tabu di Jepang

Mengenal bahasa dan budaya Jepang: POST 136
Bukan hanya di Indonesia yang masih bertebaran aneka mitos dan hal-hal yang ditabukan. Pada satu sisi, mitos terdengar tidak masuk akal. Tapi pada sisi lain mitos menjadi sebuah upaya bijak agar manusia menjauhkan diri dari perbuatan tak terpuji.
jlmc - yg tabu di jepangAda cukup banyak hal di Jepang juga yang menjadi mitos dan ditabukan:1. Langsung rebahan sehabis makan bisa menjadi sapi.Dulu larangan ini disampaikan agar anak-anak bersedia membantu orang tua bekerja di ladang. Dan bukannya bermalas-malasan setelah makan.

2.Kalau boneka hinamatsuri tidak segera disimpan anak perempuan di rumah itu akan menjadi perawan tua.

Tiap tanggal 3 bulan Maret Jepang menyelenggarakan perayaan `Hina Matsuri`. Perayaan ini dimaksudkan sebagai ucapan terima kasih kepada Sang Pencipta karena telah memberikan anak perempuan. Selain itu upacara ini juga bertujuan meminta keberkahan kesehatan untuk anak perempuan mereka.

Pada perayaan Hina Matsuri setiap keluarga yang memiliki anak perempuan, sejak bulan Februari harus memajang boneka `Hina` di ruangan tengah. Boneka-boneka ini terdiri dari pasangan putri dan pangeran yang disertai para dayang dan pengawal. Pajangan
boneka Hina ini harus segera disimpan atau dirapikan ketika perayaan sudah usai (lewat dari tanggal 3 Maret). Karena jika tidak, mereka percaya bahwa si anak perempuan akan telat menikah.

3. Kalau makan dengan sumpit kayu di luar rumah, selesai makan sumpit harus dipatahkan.

Orang Jepang akan mematahkan sumpitnya menjadi dua bagian selesai makan. Menurut adat budaya jepang, apabila sumpit tidak dipatahkan, mereka akan terserang suatu penyakit akibat makanan yang kita makan. Namun, saat ini tradisi tersebut hanya dilakukan saat kita berada di restoran. Untuk bersantap di rumah, setiap anggota keluarga menyimpan sendiri sumpit masing-
masing dan sumpi itu hanya untuk pribadi dan tidak boleh menukar sumpit walaupoun sesama anggota keluarga,hal ini dilakukan karena dapat dianggap sebagai pembawa sial terhadap keluarga itu sendiri.

4. Kucing adalah binatang kesayangan para dewa.

Bagi orang Jepang kucing merupakan hewan keramat. Mereka percaya jika seseorang membunuh kucing dengan sengaja, maka kesialan akan mengikuti sepanjang sisa hidupnya akibat kutukan dewa. Tak heran jika orang Jepang memperlakukan kucing dengan baik. Mereka tidak memperlakukan jenazah kucing dengan sembarangan. Jika kucing peliharaannya mati, mereka akan menguburkan sang kucing di pemakaman khusus hewan seperti layaknya pemakaman manusia. Mereka juga memasang dupa di kuburan kucingnya dan mendoakan supaya arwah sang kucing diterima di Kerajaan Dewa. Dengan demikian mereka pun meyakini jika si kucing pun akan menyampaikan laporan yang baik pula kepada Dewa.

berbagai sumber

Mau mengenal lebih dekat bahasa dan budaya Jepang? Gabung yuk! New_Picture[1]
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s