Seijin Shiki, upacara kedewasaan di Jepang

Mengenal bahasa dan budaya Jepang: POST 138

Pada tiap Senin minggu kedua bulan Januari, masyarakat Jepang merayakan Seijin shiki. Acara ini digelar oleh pemerintah setempat dan diikuti oleh semua warga yang berusia 20 tahun.

Seijin shiki (成人式) adalah upacara tahunan untuk merayakan usia warga yang telah dianggap cukup umur menurut hukum. Acara dilangsungkan di gedung pertemuan, ballroom hotel, atau aula serbaguna milik pemerintah lokal, dimeriahkan dengan pidato, penerimaan cendera mata, jamuan makan, dan foto bersama dengan pejabat lokal.
jlmc - seijin shikiTradisi merayakan kedewasaan ini sudah ada sejak zaman kuno di Jepang. Laki-laki mengenal tradisi Genbuku, sedangkan kaum perempuan mengenal tradisi Mogi. Awalnya adalah upacara Seinen-sai (青年祭) atau perayaan generasi muda yang digelar pada 22 November 1946 di kota Warabi Distrik Kitaadachi, Prefektur Saitama. Upacara diadakan untuk memberi harapan tentang masa depan yang cerah bagi generasi muda Jepang yang kehilangan segala semangat dan cita-cita akibat Perang Dunia II. Upacara dirintis pemimpin lokal generasi muda bernama Takahashi Shōjirō dan mengambil lokasi di sebuah sekolah dasar di Kota Warabi. Dua tahun berikutnya pemerintah Jepang menggunakan perayaan Seinen-sai ini sebagai contoh lalu menetapkan tanggal 15 Januari tahun berikutnya (1949) sebagai Hari Kedewasaan (Seijin no hi). Sejak itu, pemerintah lokal kota dan desa di Jepang selalu mengadakan upacara Hari Kedewasaan tanggal 15 Januari sampai hari penyelenggaraan diubah menjadi hari Senin minggu kedua di bulan Januari. Ini diberlakukan menyesuaikan dengan “Happy Monday”. Tapi pada pelaksanaannya, di kota kecil atau desa, penyelenggaraan upacara sering dimajukan di awal tahun baru. Hal ini untuk memudahkan peserta yang sekalian merayakan tahun baru bersama keluarga di kampung halaman.

Pada perayaan hari kedewasaan ini para perempuan mengenakan kimono resmi jenis furisode dengan rias wajah dan rambut ditata khusus. Sedangkan laki-laki mengenakan setelan kimono model Hakama. Tapi banyak juga anak muda yang tak mau direpotkan dengan dandanan tradisional. Biasanya para perempuannya mengenakan gaun, sedangkan laki-laki setelan jas. Pengunjung atau tamu yang hadir membaur dengan mengenakan pakaian bebas. Biasanya mereka disuguhi teh hijau dan kue Jepang.

foto: dannychoo

Mau mengenal lebih dekat bahasa dan budaya Jepang? Gabung yuk! New_Picture[1]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s