Kangen si Emak (meong)

Kucing telon ini sudah kutemui dari awal aku  masuk tempat kerjaku sekarang. Sekitar akhir Februari tahun lalu. Dia biasa berkeliaran di area parkir basement. Waktu itu dia lagi bunting. Lalu melahirkan bayi putih kuning yang lucu. Aku dan Raras sensei, kawan kantor yang suka kucing, bergantian atau sering barengan memberi makan. Beberapa sopir pribadi yang biasa nongkrong di basement rupanya juga suka berbaik hati ke si emak.
dhenok - meong kecil ilang
Dulu sempat berpikir si emak abai sama anaknya. Karena kudengar si bocah sempat menangis-nangis. Tapi suatu kali kutemui si emak datang dari luar dengan sayap ayam di mulutnya. Dia mencari makan dan membawa pulang untuk bayinya. Aku terharu.

Kemudian datang kejadian yang bikin sedih. Rupanya ada yang tak suka dengan kehadiran si anak kucing. Padahal waktu itu aku sudah berencana untuk mensterilkan emak, dan mencarikan adopter buat si bayi. Nunggu sebulan saja biar dia cukup puas menyusu induknya. Tapi ya begitulah. Si pelaku membuang anak kucing tanpa permisi. Coba kutanya-tanya tak ada yang mau jawab. Emak mengeong tak habis-habis. Berjalan ke sana kemari, naik sampai lantai 4. Kurasa mencari anaknya. Kasihan emak.

Tak keburu disteril, emak bunting lagi. Baru sempat ketemu sekali sama si bayi, tiba-tiba sudah tidak ada. Kata para OB, si bayi mati. Emak sendirian lagi. Menyambutku kalau motorku masuk area parkir. Tak selalu. Kadang melengos begitu saja. Yaaa pada umumnya kucinglah…suka-suka dia. Kadang kalau aku ke warung tenda di bawah, dia mengeong mengikuti. Ibu warung suka tertawa.. Bukan apa-apa, karena ibu meong makan sama tempe sedangkan si meong dapet ikan yang lebih mahal. Emak sukanya ikan. Dia tak pernah mau makan kalau kubawakan DF. Sesekali -kalau tak lupa- kubawakan WF, karena di kantor tak ada lemari es untuk menyimpan.

Beberapa waktu terakhir emak menghilang. Tak ada yang tau. Tak pernah kulihat lagi hidung cemongnya. Tak ada yang menyambut pagiku di area parkir. Tak ada yang mengeong pada siang minta makan. Tak ada yang mengintiliku hingga mau masuk pintu lift…

Suatu kali selintas kulihat ada gundukan tanah di bawah pohon. Apakah itu emak? Aku tak berani tanya. Lalu abang tambal ban, mang beca, mang parkir bercerita: kucing ini kucing itu mati tertabrak. Tapi tak disebutkan kucing telon, yang menjadi ciri khusus si emak. Tetap, aku tak berani tanya. Hanya berharap kalau memang si emak sudah pergi, perginya tak mengalami sakit. Setidaknya ia tak lagi mengalami sakit. (Tapi masih ada sedikit harap, emak masih baik-baik saja. Di suatu tempat, entah dimana.)

emak meong

Emak mencariku ke tempat kerja, di lantai 2 🙂

* Maaf, menuliskan ini di-dan-menggunakan jam kerja…karena sebuah ingatan tak terbendung: kangen kamu, mak!

Iklan

8 pemikiran pada “Kangen si Emak (meong)

    • kalo buntingnya baru gapapa kali, mbak disetril..

      sedih soalnya ngebayangin anak2nya telantar. entah ada yg buang atau dpt celaka. macam di sini, kendaraan ga kenceng sebetulnya krn dekat pertigaan. tp entah kok banyak yg jadi korban.

      sempet ada 2 yang berhasil dicarikan adopter. tp sampai kapan ya kita cari2 adopter 😦

      tapi semoga si betina baik2 aja ya 🙂

  1. dokternya yg gak ada mbak… 😥
    aku dah muter2 medan praktik dokter hewan lbh sering tutupnya drpd bukanya
    miongnya udah gede perutnya, segera mgkn bawa si miong ke rumah mau rawat si miong ama calon anaknya dirumah aja, soalnya dia takut ama manusia kecuali ama aku mbak dhenok… 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s