Setsubun, perayaan jelang musim semi di Jepang

Mengenal bahasa dan budaya Jepang: POST 142

Tanggal 3 Februari kemarin orang Jepang merayakan Setsubun.

jlmc - setsubun

Secara harfiah Setsubun berarti pembagian musim. Setsubun kemudian menjadi nama perayaan sekaligus istilah yang digunakan di Jepang untuk hari sebelum hari pertama setiap musim. Dalam satu tahun terdapat 4 setsubun: risshun, rikka, rishū, dan rittō. Namun saat ini istilah “setsubun” hanya digunakan untuk menyebut hari sebelum risshun (hari pertama musim semi) yakni sekitar tanggal 3 Februari. Hari-hari setsubun yang lain sudah terlupakan alias tak ada perayaan lagi.

Pada masa lalu setsubun merupakan perayaan tahunan di istana kaisar. Berbagai macam boneka dari tanah liat berwarna dipajang di berbagai pintu gerbang dalam lingkungan istana. Boneka-boneka itu berbentuk anak-anak dan sapi. Tujuannya untuk mengusi Oni (iblis) yang dipercaya lahir pada hari setsubun. Tradisi mengusir Oni di hari setsubun konon berakar dari upacara Tsuina yang dikenal sejak zaman Heian. Upacara Tsuina sendiri berasal dari daratan Tiongkok dan dilakukan pada hari terakhir dalam setahun menurut kalender Tionghoa, sehingga perayaan ini berdekatan dengan Imlek.

Pada jaman modern, berbagai tradisi kuno setsubun menghilang dan digantikan tradisi melempar kacang dan menegakkan kepala ikan sardin yang ditusuk dengan ranting pohon hiiragi di pintu masuk rumah pada saat senja di hari setsubun. Perayaan setsubun dibarengi dengan ritual khusus untuk membersihkan segala roh-roh jahat yang berasal dari tahun lalu dan mengusir roh-roh pembawa penyakit di tahun yang baru. Ritual khusus ini disebut mamemaki yang artinya melempar kacang. Mamemaki biasanya dilakukan oleh toshiotoko, sang kepala rumah tangga atau laki-laki yang shio-nya sama dengan tahun baru kalender China.

Kacang yang dilempar adalah jenis kacang kedelai yang dipanggang (disebut juga Fuku Mame). Kacang-kacang tersebut dilemparkan ke luar pintu atau kepada anggota keluarga yang mengenakan topeng Oni (setan atau raksasa), sambil menyanyikan lagu “Oni wa soto! Fuku wa uchi!” yang artinya kira-kira seperti “Setan keluarlah! Keberuntungan masuklah!”

Kenapa kacang? Konon orang Jepang jaman dulu percaya kalau kacang-kacangan dapat membawa keberuntungan dengan memakannya minimal satu kali dalam setahun. Tapi rupanya bukan cuma kacang. Tradisi lain pada perayaan setsubun adalah makan sushi roll. Makannya pun ada aturannya: makan keseluruhan sushi roll (yang belum dipotong) tanpa henti, dengan menghadap ke arah dewa keberuntungan, Tokutoshijin. Arah dewa keberuntungan ini berubah pada tiap tahunnya. Pada saat makan juga dilarang bicara. Kebiasaan ini konon sudah dimulai di akhir jaman Edo atau awal jaman Meiji. Sushi khusus perayaan setsubun biasanya menggunakan tujuh bahan berbeda termasuk kampyo, shiitake, belut, dan telur, berdasarkan atas tujuh dewa keberuntungan.

berbagai sumber
foto: japan attraction

 

Mau mengenal lebih dekat bahasa dan budaya Jepang? Gabung yuk! New_Picture[1]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s