Bandung Dekade: menziarahi masa remaja

Kalau ada yang bertanya: hal paling menarik apa yang kau lakukan pada akhir pekan? Tak ragu aku akan langsung menjawab: berdiam di rumah, membaca-menulis-menonton film ditemani anak-anak meong. Maka begitu ada tawaran nontor konser “Bandung DEKADE” langsung bikin bimbang. Tapi bagaimana mungkin menolak tawaran nonton penyanyi yang sangat mewarnai masa kecilku: Fariz RM, Ermy Kulit, Nicky Astria, dan Vina Panduwinata. Apalagi gratis! (Belakangan aku tahu tiket VIP yang kupegang senilai Rp 1,15 juta. Wew! Beli sendiri ga akan mampu 🙂 )

dhenok - poster bandung dekadeBegitulah, dengan permintaan maaf ke anak-anak meong kalau ibu akan pulang terlambat 🙂 , aku menuju area konser, Trans Luxury Hotel, Jl. Gatot Subroto, Bandung. Berhubung ada hal yang harus dikerjakan dulu, aku kehilangan Ermy Kulit. Tapi masih sempat menyaksikan penampilan terakhir Fariz Rustam Munaf, ‘Barcelona’.  Masih cukup prima, setidaknya seperti yang terakhir kusaksikan 3 tahun lalu. Aku bukan penonton konser. Tak terlalu suka keriuhan. Namun untuk mereka yang memang telah melahirkan karya luar biasa, kenapa tidak? Tentu saja kalau dana memungkinkan. Terakhir konser yang kuhadiri adalah konsernya Keenan Nasution di TIM. Fariz ikut tampil di ajang tersebut.

Begitu pun untuk konser kali ini. Empat nama itu seolah menjadi kemustian untuk dihadiri. Belakangan, saat aku banyak mengakrabi lagu, kusadari era 80-an adalah masa paling menarik. Segala jenis musik muncul pada era ini. Semarak penuh warna. Aku mengenali banyak di antaranya. Namun hanya beberapa nama yang aku hafal betul, karena kakak tertuaku yang berselisih usia 6 tahun mengidolai mereka. Salah empatnya adalah nama-nama yang hadir di konser ini. Dan aku nyaris memekik histeris saat Nicky Astria menggantikan panggung Fariz. Penyanyi asal Bandung itu langsung unjuk kualitas suara lewat Jerit Anak Manusia. Fragmen-fragmen masa kecil langsung berseliweran di benakku.

Aku masih kelas 6 SD atau 1 SMP ketika itu. Tinggal bersama kedua orang tua dan empat saudara dalam sebuah rumah bilik yang sangat sederhana. Kami tak memiliki pesawat televisi. Tak mengetahui perkembangan dunia luar termasuk aneka hiburan. Kelas 5 SD baru terbeli mini compo. Harta yang sangat berharga. Mini compo pun langsung disibukkan memutar lagu-lagu yang disukai Mbak Ut, kakak sulungku. Ia suka menyanyi. Aku pun mengikuti. Kami suka teriak bersama, bersaing dengan hingar mesin penggilingan padi milik Mbah Lurah, yang di tanahnya juga kami sekeluarga menumpang. What a memory! Tak terasa air mataku meleleh. Kukirim sms ke kakakku: “Ada ajakan kawan-kawan radio nonton konser. Nicky Astria yang lagi tampil. Dahsyat! Suaranya masih sama dengan di kaset dulu.”

Nicky menyapa penonton dengan sapaan bahasa Sunda yang hangat. “Saya waktu ditawari manggung bareng para senior ini sempat tanya, emang cocok? Kata panitia pokoknya nu penting saya gogorowokan-lah’” ujar Nicky yang langsung disambut tawa penonton. Dari ‘Jerit Anak Manusia’, salah satu lagu di album ‘Gersang’ yang rilis tahun 1987 berlanjut ke lagu yang terhitung baru, ‘Kau’. Nicky menutup penampilannya dengan ‘Cinta di Kota Tua’. Dia luar biasa. Buatku, Nicky tak tergantikan.

Mengisi panggung berikutnya: Koes Plus. Aku tak ingat persis bagaimana aku mengenal lagu-lagu grup legendaris ini. Seingatku kami tak pernah memiliki kasetnya. Selama bekerja di stasiun radio pun aku tak pernah memutar lagu mereka. Kecuali edisi cover version. Tapi tentunya bisa dimengerti. Ketika sebuah grup berkarya lebih dari empat dekade, sengaja tak sengaja-melalui media apa saja, sangat mungkin lirik dan musik mereka akrab di telinga. Kurasa itu pun terjadi pada nyaris sebagian besar penonton. Grup yang digawangi Yon Koeswoyo ini membawakan 11 hits mereka. Tak satu pun yang tak diikuti penonton. Bahkan lagu ‘Kolam Susu’ seolah diambil alih penonton. Sedari instrumen awal dimainkan penonton telah bersenandung dan dengan antusias menyelesaikan lagu pendek yang menjadi legenda itu. Menjadi wakil dari dekade 60-an, Koes Plus masih menampilkan gaya klasik alias ‘jadul’ mereka. Sederhana, kocak, tapi masih menarik. Sebagai band yang masih bertahan hingga di masa kini –dan yang telah melewati banyak peristiwa termasuk peristiwa politik di tanah air- ini bagaimana pun penting untuk diapresiasi. Pun dengan stamina Yon yang masih terjaga hingga penampilan akhir mereka.

Satu nama yang hadir berikutnya tampaknya menjadi salah satu magnet konser ini. Daniel Sahuleka. Penyanyi Ambon-Sunda yang berkarya di negeri kincir angin ini hadir dengan suara dan rambut kritingnya yang khas. Dikawani gitar dengan corak merah, Daniel membawakan beberapa lagunya. Tak semua menikmati kukira. Karena sesungguhnya hanya dua lagu Daniel yang menjadi hits di tanah air. Untungnya suaranya yang membius cukup membantu mood penonton.  Satu hal unik muncul pada sesi Daniel. Ia mencoba berinteraksi dengan penonton. Yang ia pilih seorang penonton, perempuan berjilbab yang duduk di bangku tengah jajaran terdepan. Namanya Neti. Daniel Sahuleka lantas mulai menyanyi. Entah lagu aslinya seperti apa. Mungkin lagu dengan nama perempuan. Karena itu yang dinyanyikan, sebuah panggilan…Neti. Apa yang dilakukan Daniel mengundang gelak penonton. Apa pasal? Karena perempuan bernama Neti itu adalah Nyonya Aher, Gubernur Jabar.

Kemeriahan penonton akibat ‘Neti’ segera bersambung dengan tepuk gemuruh dan senandung bersama yang mengiringi lagu Daniel Sahuleka berikutnya, ‘You Make My World So Colourful’. Gong penutup Daniel, sudah bisa diduga: ‘Don’t Sleep Away’.

Siapa yang terpilih menutup konser? Yup, Vina Panduwinata. Tampil dalam busana keemasan, Vina memberi sapaan kepada penonton lewat ‘Apa Kabarmu’. Aku kembali terbawa pada suasana masa kecil. Terbayang kaset-kaset Vina dengan rambutnya yang keriting mengembang. Suaranya masih centil seperti yang kukenali sedari kanak. Jauh lebih matang tentunya. Dan Vina seorang penampil yang menyenangkan. Ajakannya bernyanyi disambut baik penonton. Semua ikut menyanyi: Aku Makin Cinta, Aku Melangkah Lagi, Kumpul Bocah, Burung Camar, Dia…dan beberapa hitsnya yang lain. Cerita di balik lagu melengkapi penampilan Vina. “Kumpul Bocah itu karya Dodo Zakaria (alm). Tau ga aslinya gimana Dodo bikinnya? Bocah gendut yang sangat gendut suka kentut..,” cerita Vina sambil bernyanyi dan langsung ditanggapi tawa penonton.

Satu yang membuatku kembali mengharu biru adalah ‘Rembulan’. Ini lagu yang tak begitu populer, tapi aku suka. Dua dengan ‘Duniaku Tersenyum’. Lagu yang sayangnya tak dibawakan Vina pada penampilannya kali. Tapi tentu saja Vina telah sukses menuntaskan kekangenanku pada masa kecil. Masa dengan segala pernak-pernik yang kadang terlalu rumit untuk ditelusuri kembali. Namun musik tetaplah musik, yang hadir dengan segala kemampuannya mengisi relung-relung yang tak terjangkau logika.

Ah, logika! Sebuah hal tak menyenangkan terjadi di akhir pertunjukan. Listrik ke area panggung mati! Entah apa yang terjadi. Dan aku tak tahu apa yang ada di benak penonton yang harus mengeluarkan biaya 2 juta, 1 koma sekian juta, 750 ribu, dan 450 ribu lalu disuguhi dengan gangguan teknis sepele berupa listrik tak berfungsi. Sebelum alat musik dan mikrofon tak berfungsi total, sempat muncul gangguan di soundsystem. Terlihat Vina tak cukup nyaman. Sempat mengganggu beberapa penampilan, hingga listrik kemudian sama sekali mati. Menjadi PR tim penyelenggara acara. Beruntung mereka punya Vina. Yang meskipun -pasti- tak suka dengan kondisi itu, tapi masih mampu menghibur penonton dengan caranya. Dan itulah yang dilakukan pada sesi akhir konser Bandung DEKADE ini. Vina mengajak penonton untuk mengangkat dua tangan dan menjentikkan masing-masing 2 jari. Lalu bernyanyi bersama: dimana.. Logika…

Perjumpaan dengan kenangan masa remaja yang seru. Saatnya pulang dan melanjutkan malam panjang bersama anak-anak 🙂 Thanks to kawan-kawan Sonora-Raka yang sudah mengajakku bergabung.

*foto menyusul (meski ga yakin hasilnya bakal bagus)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s