Siebold, sang peneliti flora dan fauna Jepang

Mengenal bahasa dan budaya Jepang: POST 155

Tokoh Senin kita kali bukan seorang Jepang. Ia seorang Jerman yang punya peran penting dalam penelitian flora dan fauna Jepang, dan memiliki persinggungan dengan Indonesia pada jaman Hindia Belanda. Namanya Philipp Franz Balthasar von Siebold.

jlmc - siebold

Siebold lahir di Würzburg, Jerman, pada 17 Februari 1796 dari keluarga dokter dan dosen ilmu kedokteran. Ia menjadi orang Eropa pertama yang mengajar ilmu kedokteran Barat di Jepang. Siebold mengenyam pendidikan kedokteran di Universitas Würzburg. Ia banyak bergaul dengan ilmuwan seniornya. Namun ia memuja karya Alexander von Humboldt, seorang ahli ilmu alam yang juga dikenal sebagai pengelana dunia. Buku-buku Humboldt menginspirasi Siebold untuk bepergian ke tempat yang jauh.

Kesempatan berkelana datang dari seorang kenalannya di Belanda. Siebold melamar sebagai dokter militer agar bisa berlayar ke wilayah koloni Belanda. Setelah beberapa lama bertugas di Harderwijk, Siebold diberangkatkan dari Rotterdam, 23 September 1822 menuju Batavia. Selama 5 bulan perjalanan melewati Tanjung Harapan, Siebold mulai mempraktekkan Bahasa Belanda sambil belajar Bahasa Melayu. Sepanjang perjalanan, selain tugasnya sebagai dokter kapal, Siebold mulai mengumpulkan berbagai hewan laut yang dijumpainya. Di Batavia, Siebold berteman dengan Gubernur Jenderal Van der Capellen. Kepandaian dan ambisi Siebold membuat Gubernur Jenderal Van der Capellen dan Kepala Kebun Raya Buitenzorg, Caspar Georg Carl Reinwardt begitu terkesan. Siebold diangkat sebagai anggota Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen.

Pada bulan April 1823, Siebold menerima tugas baru sebagai dokter merangkap ilmuwan untuk kantor perdagangan Belanda di Dejima (Deshima), Nagasaki, Jepang. Pada masa itu, bangsa Eropa memiliki tradisi mengirimkan dokter berlatar belakang pendidikan botani ke Jepang. Siebold berangkat menuju Dejima pada 28 Juni 1823. Di perjalanan, kapalnya hampir tenggelam diserang angin topan di Laut China Timur. Namun akhirnya ia tiba di Jepang pada 11 Agustus 1823. Saat itu Jepang sedang menjalankan politik isolasi. Keshogunan Tokugawa hanya mengizinkan sejumlah kecil orang Belanda tinggal di Dejima. Siebold di antaranya. Ia berpraktek dokter sambil bertugas rangkap sebagai ilmuwan. Ia sering mengundang ilmuwan Jepang untuk memamerkan kehebatan ilmu dari Barat, dan sebaliknya bisa mempelajari budaya dan adat istiadat Jepang dari tamunya. Setelah mengobati seorang perwira Jepang, Siebold diberi kesempatan untuk menjelajahi wilayah di luar pos dagang Dejima yang sempit. Kesempatan tersebut digunakannya untuk mengobati penduduk setempat yang tinggal di wilayah sekeliling Dejima.

setahun di Jepang, Siebold mendirikan sekolah kedokteran bernama Narutaki Juku (sekolah di Narutaki). Keshogunan Tokugawa menugaskan sejumlah 50 siswa untuk belajar di sana. Sekolah kedokteran Narutaki Juku berkembang dengan baik. Di luar dunia kampus, Siebold tetap berpraktek sebagai dokter. Ia menolak uang biaya pengobatan yang diberikan pasien, sehingga penduduk setempat yang diobatinya membalas budi dalam bentuk barang. Meski berhasil menjadi seorang seorang dokter yang baik, Siebold lebih tertarik mempelajari fauna dan flora Jepang. Ia mengumpulkan sebanyak mungkin spesimen yang bisa diperoleh, termasuk hewan hidup. Di kebun botani miliknya di halaman belakang rumah terdapat lebih dari 1.000 tanaman yang ditemukannya di Jepang. Sebagian di antaranya ditanam di dalam rumah kaca untuk menyesuaikan dengan iklim di Belanda. Pelukis Jepang dimintanya untuk melukis koleksi tanamannya, dan menjadi pelengkap koleksi etnografi Siebold.

Sukses di Jepang, tapi hubungan Siebold dengan atasannya di Batavia ternyata buruk. Atasan di Batavia berpendapat Siebold tinggi hati dan banyak menghabiskan uang, sehingga diperintahkan pulang. Setelah melewati beberapa kasus, termasuk penahanan rumah bagi Siebold karena dianggap bersalah, Siebold diizinkan meninggalkan Jepang dan dilarang kembali lagi. Siebold kembali ke Batavia dengan muatan sejumlah besar koleksi spesimen hewan dan tumbuhan, serta buku-buku, dan peta-peta. Lebih dari 2.000 spesies koleksi Siebold ditampung di Kebun Raya Bogor.

sumber: wiki

 

Mau mengenal lebih dekat bahasa dan budaya Jepang? Gabung yuk! New_Picture[1]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s