Yukio Mishima, sastrawan garda depan Jepang

Mengenal bahasa dan budaya Jepang: POST 183

Yukio Mishima (三島 由紀夫). Nama ini telah sebanyak tiga kali dinominasikan sebagai penerima Nobel Kesusastraan. Karya-karyanya tergolong garda depan yang memadukan estetika modern dan tradisional, dan menembus batas-batas budaya dengan mengangkat tema homoseksualitas, kematian, dan perubahan politik.
jlmc - yukiomishimaNama aslinya Kimitake Hiraoka (平岡 公威). Lahir di Shinjuku, Tokyo, 14 Januari 1925, dari ayah seorang pejabat pemerintah bernama Azusa Hiraoka dan ibu bernama Shizue. Shizue adalah putri dari Kenzō Hashi, seorang kepala sekolah generasi kelima di Kaisei Academy Tokyo. Kenzō Hashi adalah seorang cendekiawan karya klasik Cina, dilahirkan dari keluarga Hashi turun temurun yang menjadi abdi klan Maeda di Domain Kaga. Namun Mishima menghabiskan masa kecil bersama nenek dan kakeknya yang menjadi menjadi kaya setelah membuka lahan pertanian baru di Karafuto, dan naik pangkat sebagai gubernur jenderal Prefektur Karafuto di Pulau Sakhalin. Nenek Mishima dikabarkan memiliki gangguan kejiwaan. Konon inilah yang di kemudian hari menarik minat Mishima bicara tentang kematian pada karya-karyanya.

Berasal dari keluarga cendekia dan akademisi, Mishima sudah melahap aneka bacaan sedari kecil. Ia membaca karya-karya Oscar Wilde, Rainer Maria Rilke, dan sejumlah pengarang klasik Jepang. Pada usia 12 tahun, Mishima mulai menulis cerita pertamanya. Saat itu ia tercatat sebagai siswa sekolah elite Gakushuin. Mishima juga diterima sebagai anggota termuda dewan redaktur di perkumpulan sastra di sekolah. Pada masa itu ia tertarik dengan karya-karya Tachihara Michizō yang membuatnya mendalami bentuk klasik puisi Jepang yang disebut waka. Puisi waka termasuk di antara karya-karya pertama Mishima yang diterbitkan, sebelum minatnya beralih ke prosa.

Karya prosa pertama Mishima berjudul Hanazakari no Mori (Hutan Penuh Bunga) yang memberi kesan baik pada para guru. Mereka lalu menyarankan untuk mengirim tulisan tersebut ke majalah sastra prestisius Bungei-Bunka. Cerita yang ditulisnya dengan memakai metafora dan aforisme —nantinya menjadi ciri khas Yukio Mishima— diterbitkan dalam bentuk buku pada tahun 1944. Meskipun demikian, buku tersebut hanya diterbitkan dalam jumlah terbatas (4.000 kopi) akibat kekurangan kertas semasa Perang Dunia II. Para guru memberinya nama Yukio Mishima karena penyebutan nama aslinya dikhawatirkan menyebabkan reaksi yang tidak baik dari teman-teman sekelasnya.

Berbagai karya Mishima lahir, meski tidak mendapat dukungan sang ayah. Novelnya baru diterbitkan pasca Perang Dunia II. Mishima juga terhubung dengan penulis Jepang yang sudah terkenal pada amasa itu, Yasunari Kawabata. Ia menemui Kawabata di Kamakura dengan membawa dua naskahnya Chūsei dan Tabako, untuk mendapatkan saran darinya.

Selain menulis, Mishima juga dikenal sebagai penyair, dramawan, aktor, dan sutradara. Mishima meninggal dunia pada 25 November 1970 dengan melakukan kappuku (merobek perut) setelah upayanya melakukan kudeta pengembalian kekuasaan ke tangan kaisar, gagal.

sumber: wiki

Mau mengenal lebih dekat bahasa dan budaya Jepang? Gabung yuk! JLMC

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s