Surat untuk Walikota dan Kadisdik Kota Bandung

Ini bukan surat dariku. Ini pernyataan sikap dari seorang kawan yang memiliki dua putri, terkait dengan rancangan Perwal Bandung soal kuota siswa sekolah dalam Kota Bandung untuk siswa dari daerah tingkat dua luar Kota Bandung.

Semoga mendapat perhatian yaaa..

***

Surat terbuka untuk
Bapak Walikota Bandung Ridwan Kamil dan Bapak Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung Bapak Elih Sudiapermana

Bandung, 22 Mei 2014

Assalamuailaikum Warahmatullah Wabarakatuh
Bapak – Bapak yang terhormat,
(Tadinya saya ingin berakrab – akrab dengan sapaan Kang Emil, tapi Bapak sendiri sudah membatasi ruang gerak anak saya. Jadi maaf saya pandang Bapak sebagai pejabat dan saya adalah rakyat perbatasan Kotamdaya Kabupaten yang Bapak singkirkan).

Bapak Ridwan Kamil yang terhormat,
perkenalkan Saya seorang ibu rumah tangga dengan dua putri dan bertempat tinggal pada sebuah Kompleks Perumahan yang masuk wilayah Kabupaten Bandung. Kompleks ini terpisah dari wilayah Kotamadya yang Bapak pimpin dengan hanya di batasi jalan Tol Padaleunyi di sekitar km 146. Namanya Komplek Perumahan Griya Bandung Indah. Saya dan keluarga kecil saya tinggal di GBI sejak tahun 2000. Ari kahoyong mah punya rumah di wilayah Kotamadya Bandung Pak, tapi yang terbeli ya rumah di komplek ini, sebuah komplek perumahan yang saat ini sudah sangat berkembang pesat.

Bapak Ridwan Kamil dan Bapak Elih Sudiapermana yang terhormat, sejak 2003 anak sulung saya bersekolah di Sekolah Dasar pada sebuah komplek Perumahan, yaitu Margahayu Raya Bandung, berjarak hanya 2,5 km diukur dari pintu pagar rumah di GBI hingga pagar sekolah di Margahayu Raya. Perjalanan keseharian anak sulung saya, kalau dipikir – pikir sedikitpun tidak berkontribusi pada kemacetan. Dia menggunakan mobil jemputan sekolah yang sekaligus dapat mengangkut 12 hingga 14 orang anak dengan rute jalan pintas melalui Jalan Rancasawo dan masuk Komplek Perumahan Margahayu Raya melalui jalan Saturnus Ujung. Menghabiskan waktu 10 hingga 15 menit, bukan karena jauh, tapi karena kualitas jalan Rancasawo yang amat sangat jelek dari dulu, dan makin jelek sampai surat ini dibuat. Praktis kan Bapak bapak? Perjalanan ke sekolah selama dia SD, tidak bikin macet dan riweuh jalan. Kalaupun sesekali terpaksa saya jemput, saya jemput dia pake kendaraan bermotor roda dua bahkan kadang pakai sepeda. Badan kami ringan, jadi saya masih kuat mengayuh sepeda di jembatan tol GBI yang menanjak. Sesekali anak sulung saya berjalan kaki pulang ke rumah bersama teman temannya. Sekali lagi, anak saya sama sekali tidak menyumbang kemacetan. Begitu pula dengan si bungsu, dia bersekolah di Sekolah Dasar yang sama dengan kakaknya, demi kepraktisan dan ilmu tambahan yang didapat. Intinya, anak anak saya bukanlah si Komo yang bikin macet jalan manakala mereka lewat.

Selepas SD, dengan sistem penerimaan siswa baru yang mengandalkan NEM, jalur akademis, jalur Prestasi dan jalur SKTM, anak sulung saya, melalui NEM nya yang benar benar murni tanpa tedeng aling aling, diterima di SMP Negeri yang berlokasi di sekitar perempatan jalan Buahbatu – Jalan Lingkar Selatan, dimana Ibu Atalia Ridwan Kamil pernah menjadi pembina upacara pada Senin 12 Mei 2014 lalu. Meskipun rumah kami masuk wilayah Kabupaten Bandung, padahal batas kota tergeletak didepan hidung, tapi karena aturannya pada waktu itu bersekolah dasar di wilayah Kotamadya, maka masih halal baginya bersekolah di Kotamadya Bandung tanpa kuota. Saya yakin Bapak Bapak hafal benar aturannya pada tahun ajaran 2009 – 2010. Perjalanan lintas batas kesehariannya pun tidak bikin masalah bagi orang lain. Jarak 12km, dia tempuh dengan angkutan kota Ciwastra – Cijerah warna abu, saya tidak pakai satu mobil untuk supir dan anak, tapi 12 hingga 14 orang sekali jalan di pagi hari. Kami manusia angkutan Kota dengan segala problematikanya. Tahukah Bapak apa jawaban anak sulung saya pada waktu itu, ketika ditawari untuk ikut tes di SMP bertaraf Internasional, yang mana Bapak Ridwan Kamil pernah menjadi muridnya? Dia jawab, “Siapa yang gak mau sekolah disana, terlalu jauh Bu, kalau jauh perlu waktu tambahan, perlu biaya lebih juga. Dan gak hemat energi, Sekolah yang ini juga sudah keren, kalau ngomong gengsi mah”, jawaban anak usia 12 tahun yang cukup masuk akal dan sangat bisa diterima pada waktu itu.

Anak bungsu saya, yang sekarang, masih dikelas VII, ketika sistem penerimaan masih menggunakan NEM dan aturan lokasi rumah tidak jadi masalah, dia lebih memilih SMP Negeri dekat Samsat daripada harus menyeberangi lampu merah Buahbatu-Soekarno Hatta. Padahal NEM nya memungkinkan dia memilih SMP Negeri di kawasan Buahbatu ataupun di kawasan Kiaracondong. Dia pun sadar benar, hari gini, kemacetan jadi persoalan. Jarak 6,5km dia tempuh pula dengan Angkutan Kota. Ada tiga jurusan Angkot yang bisa dia pilih untuk sampai ke sekolahnya. Mulai dari yang Coklat, Abu ataupun yang biru tua. Bapak Bapak hapal tidak Angkot apa saja itu?

Sekarang, sulungku kelas XI, disebuah SMA Negeri terdekat dengan lokasi rumah. Bukan pilihan pertamanya memang, tapi dengan ikhlas dia jalani. Dia pilih sekolah ini dengan alasan utama dekat. Dia abaikan sekolah lain di suasana perkotaaan yang masih bisa menerima dia sesuai dengan NEM yang dia dapat. Berangkat ke sekolah dengan jalan kaki ok. Naik sepeda juga bisa, lewat jembatan tol yang menghubungkan Baturaden dan Komplek Perumahan GBI, apalagi kalau diantar pake motor. Belum 17 tahun, Sulung saya sebelum dimahirkan naik motor, dan belum dapat ijin mengemudikan motor sendiri karena belum punya SIM. Biar kata orang sekolah itu Diskotik Mewah, disisi kota saeutik mepet sawah, tapi dia sungguh sungguh di sekolah itu.

Bapak Ridwan Kamil, anak sulung saya menjadi junior Bapak dalam urusan Paskibra, dia anggota Paskibra Kota Bandung 2013. Ketika Bapak belum menjadi walikota Bandung, dia sudah tinggalkan jejak pada hampir setiap sudut Balai Kota untuk latihan gabungan Paskibra atau menjadi Petugas Upacara Peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia tingkat kota, dan kemudian beberapa Upacara Hari Besar Nasional.

Lalu, mengapa diawal surat ini saya sebut Bapak Ridwan Kamil dan Bapak Elih Sudiapermana menyingkirkan anak saya? Lewat draft Peraturan Walikota yang Bapak Bapak buat, dan tinggal menunggu gong untuk ditandatangani, akan menjadi sangat sulit bagi anak saya untuk bersekolah di Kotamadya Bandung. Jatah, ruang pilihan anak saya dibatasi oleh kuota dan hanya boleh pilih satu sekolah, hanya karena dia berkartu keluarga dengan label Kabupaten Bandung. Padahal batas kota Bandung bisa dia tempuh dengan berlari.

Saya tidak bisa jamin nilai NEM anak bungsu saya pada saat ujian SMP dua tahun mendatang bagus atau besar sehingga bisa bersaing dengan anak anak lainnya. Bukannya saya pesimis, tapi melawan UN dan segala kecurangannya adalah selaksa melawan dunia magis yang sulit dimengerti akal nalar. Melawan kuota juga rasanya tidak mungkin. Mungkin senasib dengan putra Sulung Bapak Ridwan Kamil, yang tidak berhasil menembus masuk SMP Favorit dan akhirnya masuk SMP di sebeleh utara sana. Oh iya, disebuah Radio siaran Swasta, ketika Ngabandungan Bandung pada 5 Mei 2014, Bapak Ridwan Kamil pernah komen tentang hal ini ketika menyemangati anak anak SMP agar berujian dengan jujur. Bapak mencontohkan cerita yang dialami putra Bapak ini, dengan berkata lebih kurang seperti ini: “Padahal / meskipun Saya bisa….” Nah, saya mau tanya, Bapak bisa apa? Koq bisa sih pak? Bisa dengan cara apa?

Pada diangkatnya Bapak Elih Sudiapermana sebagai Kadisdik Kota Bandung yang baru, saya sebenarnya menaruh harapan agar Bapak Elih membuktikan dulu sasapu , bebersih di wilayah kerjanya, dan menghapus segala bentuk kelicikan, kecurangan pada setiap proses PPDB di setiap tingkat. Semua juga sudah tahu atau kadang kadang pura pura tidak tahu, bahwa cara masuk ke sekolah menengah negeri di Bandung ini bisa dari berbagai jalur, mulai dari jalur resmi, jalur akademik, jalur prestasi dan jalur SKTM, ada juga jalur misterius bin siluman jalur U,yaitu jalur Uwa dan uang. Kalau saja setelah Disdik kota Bandung dipimpin oleh Bapak Elih bisa bebersih jalur siluman, dan orang orang yang terlibat dikenai sanksi, untuk kemudian dievaluasi, berkali kali, bertahun tahun. maka setelah itu ya mangga we bade panuju dengan Perwal yang baru ini, yang bikin sempit ruang gerak anak anak Kabupaten. Kerja Pak Elih belum kerasa dan belum dievaluasi. (Duh saya ngajago pisan nya?)

Anak anak belia usia sekolah yang bertempat tinggal di perbatasan kota kabupaten macam anak anak saya ini, balatak Pa. Mereka tersebar di perbatasan Kecamatan Rancasari, Kecamatan Sukajadi, Kecamatan Sukasari, Kecamatan Bojong Loa Kidul, Kecamatan Cibiru, Kecamatan Cicendo, Kecamatan Ujung Berung, Kecamatan Cidadap, Kecamatan Arcamanik, Kecamatan Andir. (punten mun salah, da saya mah ngan ningal Peta). Anak anak yang tinggal bertetangga dengan Kecamatan kecamatan itu, dihambat bersekolah di Kotamadya Bandung. Saya juga tidak akan memaksa anak saya untuk bertarget sekolah di Belitung tempat saya sekolah dulu. Saya mah minta supaya Kotamadya tidak pasang jaring atau ayakan buat anak anak yang rumahnya di Kabupaten Siapa atuh orangnya yang tidak mau bersekolah di bekas HBS, Bapak Bapak? Tapi bayangkan, baru punya niat dan mau melangkah saja, Bapak Bapak sudah pasang patok dan jaring jaring buat mereka yang terdaftar di kartu keluarga Kabupaten Bandung.

Kalau mau niru Jakarta yang sudah sistem Rayon dari dulu mah, atuh jumlah sekolahnya juga di Kotamadya Bandung mah cuma 52 SMP Negeri, Sma Negeri hanya 27, SMKN hanya 16. Tapi yah sudahlah, saya sih hanya heran dan gagaro teu ateul baca draft Perwal yang tinggal di tandatangani. Bapak Bapak sudah mau baca surat ini juga syukur Alhamdulillah buat saya mah. Apalagi kalau Bapak Bapak mau pada mikir dan nimbang lagi pake timbangan nurani, ulah waka ditandatangan.

Terima kasih ya Bapak Bapak, abdi permios. Hapunten sagala kalepatan sareng kakirangan.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Ruby

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s