Berkunjung ke rumah Tjokro

Lelap terus, dan kau pun dipuji sebagai bangsa terlembut di dunia.
Darahmu dihisap dan dagingmu dilahap sehingga hanya kulit tersisa.
Siapa pula tak memuji sapi dan kerbau?
Orang dapat menyuruhnya, dan memakan dagingnya.
Tapi kalau mereka tahu hak-haknya, orang pun akan menamakannya pongah karena tak mau ditindas.
Bahasamu terpuji halus di seluruh dunia, dan sopan pula.
Sebabnya kau menegur bangsa lain dalam bahasa kromo dan orang lain menegurmu dalam bahasa ngoko.
Kalau kau balikkan, kau pun dianggap kurang ajar.
(Doenia Bergerak, 1914)

Sejak semula ia menyerukan kesetaraan. Lahir dari keluarga bangsawan, semustinya ia bisa mengecap kemapanan yang ditawarkan oleh masanya. Namun ia memilih untuk berada di tengah masyarakat. Mempelajari teknik mesin, lalu bekerja pada sebuah perusahaan Belanda di Surabaya. Saat itu, saat Samanhoedi menemuinya pada Mei 1912, ia telah dikenal dengan sikapnya yang radikal. Menentang aneka perilaku feodal. Karena sikapnya tersebut, kelak ia dijuluki ‘Gatotkaca Sarekat Islam’.

Ia bukan pendiri Sarekat Islam. Namun namanya lebih dikenal daripada sang pendirinya, Haji Samanhoedi, pengusaha batik asal Laweyan yang mendirikan sarekat untuk mengamankan pengusaha pribumi dari persaingan dagang dengan saudagar Cina serta tekanan kaum ningrat Solo. Para pedagang Cina ketika itu merasa lebih unggul daripada pedagang bumiputra. Meski memiliki tujuan tinggi, namun Samanhoedi tak berbekal pengalaman organisasi dan pengetahuan politik. Dengan mengajak Tjokro terlibat, organisasi ini berkibar dan mampu mendekati segala lapisan masyarakat.

Membawa bendera Sarekat Islam, Tjokro melonggarkan ke-radikal-annya. Ia memilih bersikap kooperatif demi membesarkan perserikatan tersebut. Bersama Douwe Adolf Rinkes, penasehat Gubernur Jenderal Belanda untuk urusan pribumi, ia membangun cabang-cabang perserikatan. Empat tahun setelah didirikan, Sarekat Islam memiliki lebih dari 180 cabang dengan 700 anggota. Bersama Sarekat Islam, kaum kromo -rakyat jelata- mengalami pengalaman pertama untuk melihat dunia baru, ketika hierarki Jawa-Belanda ditiadakan. Berbeda dengan Boedi Oeotomo yang elitis, anggaran dasar yang disusun Tjokro untuk Sarekat Islam membawa perserikatan ini dalam sebuah semangat ‘kebangsaan’.

Oemar Said Tjokroaminoto. Lahir di Bakur, Madiun, pada 16 Juli 1882. Tjokro menyelesaikan sekolah administrasi pemerintahan di Magelang, Jawa Tengah. Berikutnya, selama 3 tahun ia menjadi pegawai pemerintah sebagai juru tulis Patih Ngawi. Karirnya menanjak dan diangkat sebagai patih. Namun ia memilih memiliki kehidupan seperti yang diinginkannya. Menjadi pekerja swasta di Surabaya. Bersama istri, Soeharsikin, dan empat anaknya, Tjokro tinggal di tengah perkampungan padat, tak jauh dari Kali Mas, sungai yang membelah Kota Surabaya. Mereka sekeluarga tinggal di bagian depan. Sedangkan bagian belakang rumah disekat menjadi 10 kamar kecil-kecil yang dijadikan tempat kost. Para pemuda yang tinggal di kost tersebut di antaranya adalah Soekarno, Alimin, Musso, Soeherman Kartowisastro, dan Semaoen. Para pemuda yang menemukan dunia dari tangan Tjokroaminoto, Sang Raja tanpa Mahkota.

Ke rumah mungil inilah kami menuju. Pada usai sesi akhir pelatihan (Pelatihan Bimtek yang diselenggarakan oleh Kemenakertrans Dirjen Binalattas di Hotel Singgasana, Surabaya) yang kuikuti, Jumat, 13 Juni 2014, kawan dari Malang, Misbahus Surur, mengajakku menelusuri gang demi gang. Perumahan yang padat namun terasa bersih dan nyaman. Di antaranya tampak bangunan-bangunan tua. Hingga tiba di Gg. Peneleh VII No 29-31. Menikmati sejenak suasana sore bersama para kanak yang tengah bermain sepeda dan layang-layang. Ada nomor telepon ketua RT yang bisa dihubungi untuk membantu pengunjung melihat dari dekat isi rumah bersejarah tersebut. Tapi sudah terlalu sore. Dan tanpa janji. Baiklah, mari membayangkan saja apa yang pernah terjadi di dalam rumah bercat putih hijau itu.

Para pemuda berkumpul, menyimak apa yang dikatakan sang guru. Cangkir demi cangkir teh dan kopi, mengalir di meja duduk mungil. Tanpa henti, seperti halnya percakapan demi percakapan yang tanpa jeda. Pun saat para tokoh pergerakan dan agama singgah di rumah kecil itu. Di antaranya tersebut nama pendiri Muhammadiyah, Ahmad Dahlan. Pertemuan dan diskusi yang tak pernah sepi itulah yang menempa para pemuda Soekarno, Musso, Alimin, Semaoen, dan Kartosoewirjo. Pada akhirnya mereka, para pemuda ini berpisah jalan dengan sang mentor. Soekarno mendirikan Partai Nasional Indonesia, Musso dan Alimin mendirikan Partai Komunis Indonesia, dan Kartosoewirjo angkat senjata melawan pemerintah melalui gerakan Darul Islam. Namun semua mahfum, dari rumah mungil ini Tjokroaminoto telah membekali mereka perihal keseteraan derajat manusia dan nasionalisme.

Matahari makin condong ke barat, saatnya meninggalkan rumah bersejarah. Singkat, tapi menjadi kunjungan pengingat: banyak catatan sejarah negeri ini yang perlu kubuka kembali.

*sayang tak bawa kamera, motret dengan kamera hp seadanya*

dhenok -rumah tjokroaminoto6 dhenok -rumah tjokroaminoto5 dhenok -rumah tjokroaminoto1 dhenok -rumah tjokroaminoto2 dhenok -rumah tjokroaminoto4 dhenok -rumah tjokroaminoto3Semoga lain waktu masih ada kesempatan untuk memasuki ruang-ruang rumah ini.

*referensi: tempo, agustus 2011

Iklan

2 pemikiran pada “Berkunjung ke rumah Tjokro

  1. Pagi Dhenok, saya suka gaya tulisanmu, ada yang membuat saya penasaran tentang rumah HOS Tjokroaminoto, dimana makam Ibu Suharsikin / Soeharsikin (istri Alm. Tjokroaminoto) ya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s