Selamat jalan, Chubie…

Pernahkah kau jatuh cinta? Pasti pernah. Aku pun pernah, sekali dua kali. Tapi kurasa untuk yang satu ini kau belum mengalaminya, kawan. Aku jatuh cinta sama kucing! Kau juga pernah? Ah, paling juga kau jatuh cinta pada kemanjaannya. Jatuh cinta pada bulu lembutnya. Jatuh cinta pada tingkahnya yang kadang mengesalkan tapi ngangenin. Bukan, bukan jatuh cinta yang itu. Aku jatuh cinta padanya seperti layaknya jatuh cinta pada jantan pada umumnya. Aku jatuh cinta saat melihat matanya. Mata sempurna seekor kucing: menyipit pada ujungnya, tajam sekaligus sayu. Aneh? Sebut saja begitu…

Orang memanggilnya ‘ncub. Nama lengkapnya Chubie Churubie. Warnanya putih, dengan poni abu menutupi sebagian matanya. Kucing dari Sangata, Kalimantan Timur. Aku mengenalnya dari sebuah kontes di media sosial FB. Ia, bersama dua temannya. Seekor putih dengan totol di mata kiri serupa bajak laut, dan seekor tortie yang suka menyebut dirinya cantik alami. Dari mereka bertiga aku mengenal dunia permeongan yang unik. Komunitas yang bukan hanya menjadi tempat berbagi informasi serba-serbi kucing, tapi juga berbagi hal remeh-temeh kehidupan yang menghangatkan.chubie 1Ya, aku jatuh cinta sama Chubie. Konon ia ditemukan di tengah belantara tambang batu bara. Aku tak tahu persis kisah pada awalnya. Tapi berikutnya aku telah menjadi salah satu pemujanya. Mengikuti cerita-ceritanya. Tertawa untuk dongengan lucunya; menangis untuk kisah sedihnya. Aku mencuri foto-fotonya. Menyimpannya dan menjadikannya postingan edisi khusus.

chubie kecil chubie@3coolcats chubie@3coolcats2Dia, kucing yang membuatku berkhayal. Menjumpainya di tanah kelahirannya. Melihat dari dekat ‘klinik warna putih banyak pohon’ yang sering diceritakannya. Tempat ia bermanja sama mamanya. Atau sekedar tidur di deret kursi tunggu pasien. Aku membayangkan akan ada di sana suatu ketika. Mungkin dia tak akan menyambutku. Dia hanya akan bersantai di jalan menuju klinik, atau tidur beralas rumput. Tak jadi soal. Hanya berharap dia mau menatapku, memberiku ucapan selamat datang tanpa banyak kata. Tapi itu tak akan terjadi. Mustinya aku pergi akhir Februari lalu. Tabungan jalan-jalan yang belum penuh terisi, dan hadirnya adik kaki duanya tentunya akan cukup menyibukkan. Kesempatan tak berpihak padaku. Naga meong memberitahuku semalam: si koceng hutan pergi. Dia sudah terbang ke jembatan pelangi. Kabar yang membuatku tercekat sekian saat dan tak mampu menahan air mata pada akhirnya. Aku patah hati. Chubie-ku pergi.

Baiklah, ‘ncub sayang…pergilah. Tak ada sakit dan sedih di tempat barumu. Semua bergembira. Kau akan bertemu kawan-kawan lain yang pasti menyayangimu. Bertemu dengan anak-anak Ibu Meong yang juga telah menanti di negeri barumu ini.

Senang pernah mengenalmu, Chubie Churubie. Selamat jalan…

chubie 2

Iklan

9 pemikiran pada “Selamat jalan, Chubie…

  1. 😥
    Aku juga jatuh cinta padanya. Pejantan gagah yg bertumbuh bersama alam. Namun selalu punya kelembutan di hatinya.
    Aku senang sekali kalo bisa menatap gambarnya, melihat poninya -yg katanya selalu disisir- dan membayangkannya memakai kacamata hitam.
    Aku juga suka koreng di idungnya Чăπğ terus terusan muncul. 🙂
    Ketika tau pejantan hebat itu sakit, semua hati dan pikiranku hanya tertuju buat dia.
    Tapi dia memang sudah berjuang dg luar biasa dan Tuhan pun memeluknya kembali.
    😥

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s