Give peace a chance (Selamat jelang Pilpres 2014)

Bosan dengan tayangan yang berbau politik akhir-akhir ini? Yup, sama. Aku juga. Beruntung aku bukan penonton televisi. Tapi dari beberapa kesempatan menyaksikan tayangan berita, memang, sungguh tidak menyenangkan. Sebal dengan celotehan-celotehan tak asik di media sosial? Yo’ih. Sama juga. Apa itu lantas menjadikan kita tak mau tau, tak peduli, skeptis, dengan persoalan politik negeri ini? Tentu tidak. Setidaknya buatku. Karena bagaimanapun peristiwa keseharian kita terkait dengan kebijakan politik.

Banyak kawan yang ‘mungkin’ saking muaknya dengan aneka kampanye yang bersliweran di jejaring sosial mengatakan: mau presidennya siapa juga gue tetap harus makan, sekolah, bekerja..dsb..dsb.. Jangan naif, kawan, itu semuanya terkait dengan kebijakan politik. Dan kebijakan politik tak hanya terkait dengan urusanmu pribadi, urusan kawan dekat, dan sanak sedulurmu. Tapi terkait dengan masyarakat yang lebih luas. Ada banyak masyarakat di luar sana yang lebih tak berdaya dibandingkan kita, dari sisi finansial, pendidikan, kesehatan, dan akses ke berbagai sumber.

Ah, apalah artinya satu suara? Artinya besar. Suaramu berarti. Tapi dari pengalaman juga yang kita pilih tak amanah? Betul, banyak orang brengsek yang menjalankan roda pemerintahan kita. Tapi nyatanya kita tetap butuh seorang pemimpin. Masih bisa kita pilih yang baik dari yang buruk. Tapi lebih dari itu –buatku- yang lebih penting adalah sikap. Memiliki sikap lebih penting daripada tak peduli. Karena untuk terlibat dan menjadi bagian dari proses membutuhkan keberanian. Termasuk berani untuk legowo ketika orang yang kita berikan suara ternyata tidak mendapatkan kemenangan. Sebuah proses hidup yang layak dilewati.

Ya, aku memilih terlibat dalam proses politik negeri ini. Dari sejak memiliki hak konstitusional untuk memilih, aku memutuskan untuk TIDAK GOLPUT.

***

Pada Pilpres kali ini aku pilih nomor 2, pasangan Jokowi-JK. Mengapa Jokowi-JK? Seorang tak kukenal hari ini mengirimkan pesan di inbox FB. Mengaku sebagai pengusung kubu Prabowo-Hatta, dan mengajak untuk Indonesia lebih baik dengan tidak menghujat. Sepakat. Tapi tentunya kita punya alasan kenapa kita memilih salah satu dari dua.

Beberapa hari lalu aku mulai membuka Novelnya Zen RS: Jalan lain ke Tuhelu. Kisah perjalanan Gentur ke Maluku yang sedang berkonflik. Baru beberapa halaman, buku ini telah sanggup meluruhkan air mataku. Gentur yang muslim berkisah tentang pertolongan dari seorang pastor yang telah menyelamatkannya dari ancaman kematian. Berbeda dan saling membantu. Pun pada kisah tentang warga kampung Tulehu yang notabene muslim memaksakan diri mengunjungi kampung Kristen hanya demi menyaksikan timnas Belanda berlaga di Piala Dunia. Kisah yang lucu sekaligus mengharukan.

Belum berhasil menamatkan buku ini. Tapi yang aku tau, aku menyukai kisah-kisah tentang hidup yang dipenuhi harmoni. Sebuah masyarakat yang beragam tapi saling menghargai. Aku menghargai perbedaan. Dan salah satu alasan memilih Jokowi-JK karena di dalamnya tak ada gerombolan-gerombolan yang selama ini meresahkan masyarakat karena penindasan yang mereka lakukan. Penindasan terhadap mereka yang berbeda sikap dan keyakinan. Gerombolan-gerombolan yang hanya menciptakan ketakutan.

Aku memutuskan memilih tidak dengan pertimbangan rijid dengan hitung-hitungan politis. Tidak. Aku tergolong awam perihal politik praktis. Tapi pertimbangannya tentunya juga bukan dengan asal menguap. Tetap ada waktu membaca dan mendengar dari berbagai media dan saksi peristiwa. Seperti halnya kawan-kawan yang tak suka dengan aneka berita negatif, aku pun juga. Tapi dalam kampanye masih diberikan ruang untuk membuat kampanye ‘negatif’ dalam artian memaparkan dan mempublikasikan hal-hal negatif dari lawan politik. Hal negatif yang terukur dengan indikator yang jelas, regulasi misalnya. Meski tak suka, kampanye macam ini masih bisa ditolerir. Berbeda halnya dengan black campaign. Untuk yang terakhir tentunya sama sekali tak bisa ditolerir. Bagaimana mungkin apa yang dilakukan Obor Rakyat, dengan membuat berita-berita palsu yang berpotensi memecah belah bangsa ini bisa ditolerir? Dan kita sama-sama tau siapa di belakang Obor Rakyat. (Sebagai orang yang bertahun belajar dan berkecimpung di dunia jurnalisme, buatku apa yang dilakukan Obor Rakyat sungguh menyedihkan.)

Aku memutuskan memilih Jokowi-JK karena mereka minim dengan catatan buruk. Tak sempurna, dan memang tak ada yang sempurna. Jokowi bukan orang yang membesarkan partai. Dia ‘hanya pekerja partai’ begitu orang menyebutnya. Tapi dia berkarya. Karyanya jelas saat ia bekerja sebagai walikota Solo dan Gubernur Jakarta. Itu memang bukan hasil kerja sendiri, tapi sekali lagi-jelas, Jokowi berkarya. Jusuf Kalla mungkin punya beberapa catatan negatif. Tapi di antara nama yang diusung menjadi pendamping Jokowi, JK yang tampaknya paling tepat.

Ya, ‘setidaknya’ pasangan Jokowi-JK punya track record karya yang jelas dirasakan oleh masyarakat. Mereka tak mendapat tuduhan menculik dan menghilangkan nyawa orang. Bagaimana dengan orang-orang di belakang Jokowi-JK? Pilihan ini memang tak serta merta menutup mata terhadap peran mereka, sejumlah pengusung Jokowi dalam peristiwa 1998 yang tak tertuntaskan hingga kini tersebut. Tapi mengamini saja apa yang diungkap Franz Magnis Suseno, “Pemilu itu bukan memilih yang terbaik, tapi mencegah yang terburuk berkuasa”.

Selamat jelang Pilpres, 9 Juli 2014. Gunakan hak pilihmu, kawans.. Masih ada waktu untuk menentukan sikap dan pilihan. Tak jadi soal kita berbeda pilihan politik. Merdeka, tak takut untuk berbeda. Hanya satu yang utama: menuju Indonesia yang lebih baik, negeri yang indah dengan keberagamannya.

give peace a chance

give peace a chance

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s