On my way to LA (sebuah perjalanan buka-sahur bersama)

Gerimis tipis sepanjang perjalanan. Pemandangan kota segera berganti dengan pepohonan rindang di tepi jalan. Tol menuju Jakarta, jalan yang sering kulewati dua tahun lalu. Dua minggu sekali menjenguk rumah dan anak-anak meong di Bandung. Meninggalkan sesaknya Jakarta yang kuhuni sepanjang minggu. Dua tahun lalu, tak terasa. Dan selalu kuingat bagaimana dulu aku menikmati perjalanan: mengeja setiap pohon yang berderet nun jauh di sepanjang tepi jalan.

Sabtu lalu kulakukan lagi perjalanan yang sama. Untuk sekedar mengusir sedikit gelisah yang menghinggapiku pada sebulan terakhir. Ya, minggu lalu akhirnya aku membuat sebuah keputusan. Sulit, tapi kupikir sudah final: mengundurkan diri dari pekerjaanku sekarang. Tak perlu kubagi cerita detilnya. Hanya satu yang utama, “tempat ini bukan rumahku lagi”. Tempat ini tak lagi menjadi rumah untuk aku menjalankan kewajibanku dengan gembira. Dalam kondisi seperti ini aku tak punya solusi lain selain pergi; mencari rumah baru atau melakukan pengelanaan di belantara tak beratap.

Sudah final, tak ragu, tapi tak urung keputusan ini membuahkan ketidaknyamanan. Lalu aku mulai membayangkan berada di tengah sebuah keluarga. Satu-satunya rumah keluarga di Bandung yang dulu selalu menjadi tujuanku ‘ngadem’ adalah rumah Bu Indrarani, ‘ibu’-ku sejak awal bekerja di Radio Mara, Bandung. Sayangnya ia dan suaminya kemudian memilih tinggal bersama anak mereka di Depok. Lalu yang terpikir berikutnya adalah sebuah keluarga lain yang aku pernah menginap, keluarga besar Setu (Babakan) yang kukenal dari komunitas Leo Kristi, Lkers. Maka, kuhubungilah salah seorang LKer Bandung, Kang Igna Hadi. “Bagaimana kalau kita berkunjung ke rumah Mas Heru?” Setuju. Dan kami mengagendakan kunjungan pada Sabtu siang.

Begitulah perjalanan itu kemudian dimulai. Sepanjang perjalanan dalam hati kusenandungkan Phil Carmen: “on my way…to LA”

took a trip down to L.A. for a week-end
let my hear flow an my inspiration grove

on my way… to L.A.
touched down thru the smog cloud, L.A. runway
visit Sandy in Marina, swingin easy
make a beach scene, such a sweet dream, nice an breezy

on my way… in L.A.
in the meantime, on the fault line, California

get a notion, by the ocean, what an idea
move on over little lover, gonna stay here

on my way… in L.A.
on my way… in L.A.
in the meantime, on the fault line, California

on my way… in L.A.
in the meantime, on the fault line, California

Tentunya bukan LA, California. Ini LA, Lenteng Agung, Depok. Dipas-paskan saja.. yang penting nyanyi 😀 Kusenandungkan ‘On my way to LA’ sambil mengeja setiap nama. Pohon randu menjulang dengan dahan-dahannya yang ramai sepanjang batang. Hijau dengan buah-buah muda yang bergantungan. Pada masa lain mereka akan mengering. Lalu menerbangkan kapas ke angkasa. Salju di musim panas. Di sisi-sisi lain pohon lamtoro menampakkan buah-buah lebatnya melengkungkan batang-batang langsing mereka. Sementara pohon sengon berjajar di baliknya, berbaris rapi tinggi.

Pada ruas lain, sederet pisang tampak asing di antara mahoni, trembesi, dan akasia. Pohon-pohon jati berdiri kukuh. Aku ingat, pada masa kecilku bapak selalu bercerita tentang pohon jati yang harganya selangit. Hingga kini citra itu melekat di benakku. Pohon jati yang angkuh. Pada penggal ruas jalan yang lain, pohon kayu putih memamerkan bunga-bunga putihnya yang bermekaran. Mengenal pertama kali pohon ini saat mengikuti perjalanan lintas lereng bukit di kampung halamanku, Trenggalek. Dalam imaji kanakku, aku ingin mengolah dedaunan menjadi minyak kayu putih. Tanpa harus beli ke toko. Ah, bayangan masa kanak yang terlalu optimis 🙂

Pada sebuah persimpangan, pohon-pohon berdaun lebat saling berangkulan. Hijau gelap pada satu sisinya, dan mengkilat pada sisi sebaliknya. Aku pernah mengenali pohon itu sebagai sawo ijo. Entahlah, apakah itu pohon yang sama atau bukan. Dan tentu saja yang paling manis di antara jajaran pepohonan itu adalah pohon berbunga putih wangi; bunga dari daratan Amerika Tengah tapi sering dituduh berasal dari negeri ia punya nama: kamboja..

Begitulah biasanya aku menikmati perjalananku. Alam, tanaman-binatang-manusia. Hingga kendaraan mendekati kawasan industri dengan ruap panas yang merangsek ke dalam kendaraan ber-AC. Perjalanan menjadi lebih panjang karena terjadinya beberapa peristiwa kecelakaan. Kucoba memejamkan mata. Tak tertidur juga. Hingga kendaraan memasuki wilayah kota.

Rupanya Kang Igna sudah membuat janji dengan Alya Salaisha yang datang bersama adik dan anak semata wayangnya. Berlima kami menuju Setu Babakan. Sebuah keluarga yang hangat menyambut kami. Ada Mas Toto dan Mbak Linda yang hadir lebih awal. Menurut sang empunya rumah, sengaja tak membuat woro-woro. Sekadarnya yang hadir saja. Mas Ramdan Malik yang rencananya akan bergabung, tak jadi. Sakit. Gangguan degeneratif, Maslae? 🙂 Menjelang tengah malam Andi Salakaesa datang bergabung. Oiyaaa.. Mas Widhi sedang menunggui kerabat yang sakit. Tak ikut bergabung. Pada tepi Setu kami bicara. Perbincangan mengalir, hal-hal remeh-temeh yang menggembirakan. Hingga malam memanggil untuk beristirahat. Hingga pagi pun datang, dan kami harus pulang. Meninggalkan keluarga yang baik hati, dan menekuni kembali rutinitas masing-masing kami.

Mas Heru-Hera dan keluarga, matur sembah nuwun. Mas Toto-Mbak Linda, ditunggu undangan berkunjungnya (baru agak sadar kalau ternyata aku senang berkunjung). Kang Igna, haturnuhun sudah menemani keinginanku untuk buka-sahur bersama keluarga Setu, plus buang gelisah2 (meski ga betul2 ilang juga sih..hehe). Alya, trimakasih sudah memberi tumpangan. Mas Andi, trimakasih sudah mengantar ke tempat travel pada kepulanganku ke Bandung.

Ah iya…aku punya perjumpaan dengan anjing-anjing dan kucing. Besok lagi ceritanya 🙂

mocha gukgukBerkenalan dengan anjing-anjing Jakarta Rescue.

 

 

 

 

 

Iklan

2 pemikiran pada “On my way to LA (sebuah perjalanan buka-sahur bersama)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s