Damai…damailah, Ibuku…

 

Ibu dan Naga chan saat menengok rumah Bandung pada Juni 2010.

Ibu dan Naga chan saat menengok rumah Bandung pada Juni 2010.

Ibu (Iwan Fals)

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki, penuh darah… penuh nanah
Seperti udara… kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas…ibu…ibu
Ingin kudekat dan menangis di pangkuanmu
Sampai aku tertidur, bagai masa kecil dulu
Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku
Dengan apa membalas…ibu…ibu….
Seperti udara… kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas…ibu…ibu…

Selalu seperti ada yang teriris tiap menyimak Ibu-Iwan Fals ini. Antara perih dari luka-luka yang kadang kembali menganga, dan mimpi yang tak pernah terpenuhi. Ibu, perempuan yang melahirkanku, seperti misteri yang tak pernah kutangkap lengkap.

Bukan aku menyalahkannya. Tidak. Memang pernah aku menyalahkannya. Pada suatu masa, dulu saat remajaku. Ketika banyak wajah-wajah mesum, wajah-wajah beringas, wajah-wajah penuh tipu daya itu mendekatiku.  Ketika tangan-tangan kasar mereka menggapaiku. Ketika celoteh liar mereka mengganggu pendengaranku. Takut dan ngeri mengepungku. Ingin aku berteriak: “Hai, bangsat..aku masih kanak. Aku masih remaja!” Suara yang hanya menggantung di ujung lidah. Lalu yang ada hanyalah ketakutan yang tersimpan pada laci-laci hati. Hari, minggu, bulan, tahun. Bertahun-tahun. Ya, masa itu aku menyalahkannya. “Ibu, kenapa kau tak pernah ada buatku?”

Hingga pada suatu ketika aku membuat keputusan: hidup adalah hari ini. Biarlah hari kemarin hanya menjadi perihal yang cukup untuk dikaji dan diteliti. Untuk menjadi bahan evaluasi. Tentang seorang perempuan yang dibesarkan oleh kemiskinan. Tentang seorang istri yang dipaksa menjadi kuat oleh keadaan; tentang seorang istri yang juga terlalu mencintai suaminya. Tentang seorang ibu yang perlu mengambil langkah seribu. Tentang seorang anggota masyarakat yang dimarjinalkan. “Aku mampu,” begitu katanya. Dan ia pun melakukan berbagai cara untuk mewujudkan ambisinya. Ambisi untuk menunjukkan diri kepada orang-orang yang seolah menganggapnya tiada. Ah, ibu…kau tak harus begitu. Ibu tak harus jadi orang hebat. Aku hanya membutuhkan rengkuhan hangatmu. Aku hanya ingin kau tahu ketakutanku lalu membisikiku, “semua akan baik-baik saja.”

Tapi aku tak (lagi) menyalahkannya. Pada saatnya semua hanya bisa diterima sebagai bagian dari perjalanan hidup. Pun, peristiwa-peristiwa yang akhirnya membuat kami berjarak. Kondisi yang menyadarkan kami pada kekeraskepalaan kami masing-masing. Tapi aku menyayanginya. Aku yakin ibu pun demikian. Meski ungkapan itu tak pernah kudengar, dan justru yang sering kujumpai adalah yang sebaliknya. Tak jadi soal. Aku sudah jauh-jauh hari memaafkan. Menerima sebagai kewajaran. Menerima fakta, bahwa tak mudah bagi seorang perempuan yang menjalani hidup keras, dengan pendidikan sekadarnya, nyaris dengan upaya sendiri membesarkan 5 anaknya hingga melewati bangku perguruan tinggi. Seorang perempuan yang tak pernah mengajari anak-anaknya untuk meminta. Seorang perempuan yang selalu mengingatkan anak-anaknya untuk mampu berdiri di atas kaki sendiri. Dalam keterbatasannya, perempuan itu, ibu, selalu mengingatkan kalau kami punya harga diri.

Tahun lalu, kujumpai ibu sudah terlelap dalam hening abadi. Kubisiki telinganya: “Ibu, maafkan aku…terimakasih sudah menjadi ibu yang hebat buatku.” Dia ibuku, dia yang mengalirkan darah pejuang di tubuhku.

Foto terakhir bersama bapak, ibu, saudara pada Desember 2012, di rumah Bendo.

Foto terakhir bersama bapak, ibu, saudara pada Desember 2012, di rumah Bendo.

Iklan

2 pemikiran pada “Damai…damailah, Ibuku…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s