Naoya Shiga, sang dewa novel Jepang

Mengenal bahasa dan budaya Jepang: POST 213

Ia dianggap sebagai dewa novel Jepang. Sebutan itu muncul novel panjangnya yang dianggap sebagai adikarya sastra Jepang modern: An’ya Kōro (1921–1937) yang diterjemahkan dalam Bahasa Inggris “A Dark Night’s Passing”.

jlmc - naoya shigaNaoya Shiga (志賀 直哉) lahir di Ishinomaki, Miyagi, 20 Februari 1883. Shiga lahir dan dibesarkan dari tokoh bisnis terpandang Naoharu Shiga. Ayah Shiga ini pernah menjadi direktur perusahaan kereta api dan perusahaan asuransi jiwa. Sedangkan kakeknya, Naomichi Shiga, adalah samurai Domain Sōma. Sang adalah kepala pengurus rumah tangga klan Sōma dari Provinsi Mutsu.

Shiga memiliki hubungan yang tak harmonis dengan sang ayah. Usia dua tahun, ia diajak ayahnya pindah ke Tokyo. Bersekolah di sekolah elit, Gakushūin, ia berkawan dengan anak-anak kalangan keluarga atas. Saat berusia 13 tahun ibunya meninggal dunia, dan ayahnya menikah lagi. Peristiwa ini kemudian ditulisnya sebagai Haha no Shi to Atarashii Haha (Kematian Ibuku dan Ibuku yang Baru). Sekitar 5 tahun kemudian bentrok dengan sang ayah tak terhindarkan. Penyebabnya adalah keinginannya meninjau Tambang Tembaga Ashio yang tercemar. Ayahnya melarang karena tambang itu dikelola oleh sang kakek bersama Furukawa Ichibei.

Bentrok keras dengan sang ayah kembali terjadi pada tahun 1907. Saat itu ia tercatat sebagai mahasiswa Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra, Universitas Kekaisaran Tokyo. Penyebabnya, sang ayah tak setuju dengan rencana menikahi salah gadis pembantu di rumah keluarga mereka. Rencana pernikahan tersebut gagal, dan ia baru bertunangan pada tahun 1914 dengan Yasuko Kageyunokōji.

Naoya Shiga menulis karya pertamanya, Aru Asa (Suatu Pagi) pada tahun 1908. Pada tahun yang sama, ia juga menerbitkan majalah Bōya (Perspektif) yang dibaca bergiliran di kalangan teman-temannya peminat sastra. Dua tahun kemudian, bersama teman-temannya di Universitas Kekaisaran Tokyo, Saneatsu Mushanokōji dan Takeo Arishima, ia menerbitkan majalah Shirakaba (terbit hingga tahun 1923). Edisi pertama Shirakaba memuat novela karangannya, Abashiri made (Ke Abashiri). Pada tahun tersebut ia juga memutuskan untuk berhenti kuliah setelah sempat pindah jurusan ke sastra Jepang.

Tahun 1915, ia dan Yasuko pindah ke Abiko, Chiba, Prefektur Chiba. Dua tahun tinggal di kota barunya, ia melahirkan dua adikarya, Kinosaki ni te (Di Kinosaki) dan Wakai (Rekonsiliasi). Pada masa ini Shiga sudah berdamai dengan ayahnya. Wakai merupakan autobiografi mengenai konflik antara seorang ayah dan putranya, tak lain adalah kisahnya sendiri bersama sang ayah. Karya-karya berikutnya pun lahir dan mendapat sambutan positif dari pembacanya. Berkat karya-karyanya, Pemerintah Jepang penganugerahinya Orde Kebudayaan pada tahun 1949. Penghargaan tersebut ia terima bersama kawan dekatnya, Junichiro Tanizaki.

Pada masa tuanya, Shiga tinggal di Tokiwamatsu, Shibuya. Ia meninggal dunia 21 Oktober 1971 pada usia 88 tahun akibat usia lanjut dan pneumonia. Setelah meninggal dunia, banyak naskah hasil tulisannya yang dihibahkan ke Museum Sastra Modern Jepang. Naskah, surat-surat, dan barang peninggalan Naoya Shiga lainnya juga disimpan di Museum Sastra Shirakaba di Abiko, Chiba, Prefektur Chiba.

Penulis terkenal yang pernah belajar dari Naoya Shiga di antaranya adalah Kōsaku Takii, Kazuo Ozaki, Kazuo Hirotsu, Kiku Amino, Shizuo Fujieda, Toshimasa Shimamura, Kiyoshi Naoi, Hiroyuki Agawa, dan Takiji Kobayashi.

sumber: wiki

Mau mengenal lebih dekat bahasa dan budaya Jepang? Gabung yuk! JLMC

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s