Omara, bayi meong penyandang epilepsi

Aku mengambilnya dari tempat pembuangan sampah sementara (TPS). Waktu kuceritakan ke seorang teman, dia mengomentari, “Ah, si mbak maaah…” Aku tau kelanjutannya: mbak mah cari penyakit, mbak mah kurang kerjaan, mbak mah apalah.. lain-lain yang bernuansa negatif. Naga juga menyebutku herder (baca: hoarder).

Baiklah…apapun. Tapi Senin malam, minggu lalu, aku begitu saja memungutnya dari TPS yang kulewati. Tiap kali melewati kawasan itu, ingatanku tak lepas dari kenangan akan Onin dan Iku. Pertengah Oktober tahun lalu aku mendapati bayi-bayi mereka berlindung di bawah gerobak sampah, menghindari guyuran hujan. Dan malam itu, minggu lalu, ketika ingatan pada mereka membarengi perjalananku, muncul sesosok kecil dari gundukan sampah. Bulu kuning, sendirian. Kuangkat dia. Kuajak ngobrol beberapa saat: mau ikut ibu? Tak seperti Onin dan Iku yang langsung menjelajahi pundakku, bayi kuning tampak ketakutan. Kupendarkan mata ke sekeliling. Tak tampak sosok lain. Ah, pus..ikut ibu aja ya… Dan begitulah, kubawa dia pulang.

omara bayi kucing kuning 1Sampai rumah langsung masuk kandang, aku belum sempat membersihkannya. Selain tentunya juga menghindarkan mereka untuk kontak langsung dengan anak-anak lain. Keesokan harinya kuperiksa dia. Makanan yang kusediakan semalam tandas. Badannya normal. Tampak sehat. Tapi ada yang aneh pada matanya. Mata selalu dapat menjadi gambaran kondisi kesehatan. Kurasa dia sakit, entah apa. Tapi untuk ukuran kucing buangan, bayi kuning ini cukup berisi. Dari ukurannya, dia sudah pasti masih menyusu. Kenapa dia dibuang? Hari berikutnya pertanyaanku terjawab.

Rabu malam, sekitar jam 8. Baru sampai rumah, buka pintu, aku dikejutkan suara ribut dari arah kandang di belakang. Oh my God, kulihat bocah bayi itu kejang jumpalitan dalam kandang. Sakit apa kamu, nak? Ku-lap bulunya. Ada sisa liur dan busa di mulutnya. Kubersihkan alas kandang. Ada air kecing dan pup yang keluar berbarengan dia kejang. Epilepsi?

Ikan yang kusodorkan dimakannya lahap. Sejam kemudian kejadian berulang. Serangan yang membuat tubuh kecilnya berguling-guling. Terkencing-kencing. Berliur. Duh, anak kecil.. kok bisa sih kamu ngalamin ini? Terjawab sudah kenapa dia di TPS. Dibuang!
omara bayi kucing kuning 3Serangan terjadi lagi sekitar jam 11 dan 1 dini hari. Epilepsi! Aku menduga epilepsi dari pengalamanku melihat dari dekat beberapa kenalan yang punya sakit ini. Sempat muncul gelisah: setelah lima bulan penuh merawat dua anak yang terkena FIP, kenapa aku musti berhadapan dengan kasus kucing sakit lagi? Tapi segera kutepis pertanyaan itu. Barangkali ini semacam takdir. “My mama always said: Life was like a box of chocolates. You never know what you’re gonna get.” Kata Forrest di film Forrest Gump. Kita tak pernah tahu yang diberikan hidup kepada kita. Termasuk kucing seperti apa yang kita pelihara. Kuanggap saja ini hadiah. Terima saja sebagaimana adanya. Dikuatkan oleh obrolan dengan kawan-kawan FB, Lily Turangan dan Tyas Er, yang punya pengalaman ngurus anak meong epilpesi juga. Tak semua baik, tapi yaaa..baiklah.. 🙂

Kamis malam, sampai rumah aku langsung memeriksa kandang. Tampak tidak berantakan. Aman, tidak ada serangan. Kuberitakan kabar gembira ini ke beberapa kawan. Ternyata, gembiraku terlalu buru-buru. Sekitar jam 8 lewat, kudapati gelagat aneh. Kali ini kulihat langsung prosesnya. Kedua matanya tiba-tiba berkedip cepat. Kedua daun telinganya bergerak aneh. Liur mulai keluar dari mulutnya.Bayi kuning ini juga menceracau tidak jelas. Kubawa dia masuk kandang. Kejadian kemarin terulang. Pasca serangan, seperti kemarin pula, ia terdiam untuk beberapa saat. Bengong. Kosong. Kuelus kepala dan punggungnya. Dia mengeong lirih. Lalu mengeong lama. Berikutnya, seperti tak terjadi apa-apa, ia menjilati bulu-bulunya. Ah, pus bayi..kasian kamu, nak.. 😦

omara bayi kucing kuning 2Kamis malam hanya terjadi sekali serangan. Berharap akan semakin mereda, lalu hilang sama sekali. Jumat malam aku pulang terlalu larut. Jam 11. Dan kudapati bercak-bercak pasir di piring makan. Tapi tak ada jejak pup. Tak yakin, apakah terjadi serangan atau tidak. Dua malam berikutnya, Sabtu dan Minggu aku menungguinya. Kubawa tidur bersama anak-anak lain. Tak ada serangan.
omara bayi kucing kuning 4O iya, Minggu sore kuajak dia ke acara Whiskas Day. Kita cari dokter gratis ya, pus.. ibu lagi krisis 😀 Vet Anton menduga hal yang kucurigai: epilepsi. Dia bilang epilepsi ada beberapa jenis. Diminta observasi dalam seminggu ini. Upayakan memberi air manis -air gula atau air madu, paling tidak sekali sehari. Kalau serangannya kerap, mau tidak mau akan bergantung obat. Karena epilepsi tak bisa disembuhkan. Baiklah.. Mari, pus, kita jalani saja ya.. ibu akan nemenin kamu tumbuh jadi kucing kuning ganteng yang akan nyaingin om Naga 🙂

Dan yaaa.. bayi kecil ini sudah bernama. Omara. Karena kutemukan dekat stasiun radio tempat kerjaku dulu, Radio Mara. Seorang kawan, Teh Ruby Elvira menambahinya menjadi Omara.

Selamat datang di rumah keluarga kucing Cikoneng, bayi Omara…

omara bayi kuning kuning 5*saat catatan ini dibuat belum ada kasus nama omara, yg ternyata sama dengan nama suami teteh asisten 😀 *

Iklan

8 pemikiran pada “Omara, bayi meong penyandang epilepsi

  1. Selamat datang Omara, salam kenal dari Pumpkin yang juga kuning seperti kamu, Luna,Mocca, Te Abu dan Om Tamtam 😀
    Semoga kamu sehat terus ya, dan makasii buat ibu Dhenok yang sudha bersedia adopsi, semoga sehat terusss 😀

  2. Aku yakin benget ini anak si Naga. Ibu jangan terpedaya sama si koneng cikoneng itu. Suruh ngaku aja siapa ibunya. Biar Naga yg bayarin ongkos preksa Omara. Biar jadi ayah yg bertanggung jawab dianya. Muahahahahahaha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s